Tahun 2008
Tahun 2008 aku melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang ada di Bandung. Pertengahan akhir semester satu aku resmi masuk ke dalam jajaran dakwah kampus. Banyak hal yang mesti dipelajari secara maraton karena aku ketinggalan satu fase. Aku sebisa mungkin meluangkan waktu mengikuti setiap agenda yang diadakan oleh dakwah kampus, khususnya di organisasiku. Biasanya mereka yang berada di dalamnya menyebutnya dengan kata wajihah. Banyak hal menarik dan baru yang aku dapat dari setiap konsolidasi. Tapi terkadang aku merasa aneh, penyaji selalu menyatakan bahwa virus merah jambu merupakan hambatan aktivis dakwah. Aku berfikir emang masih jaman ya?! Aku kira masalah itu hanya dialami oleh ADS (Aktifis Dakwah Sekolah) saja yang masih labil bukan oleh orang-orang dewasa yang disebut ADK (Aktifis Dakwah Kampus). Aku anggap itu hanya trik penyaji untuk menarik audiens supaya lebih serius mendengarkannya. Maklum setiap konsolidasi waktunya pasti sore, tenaganya sisa-sisa perjuangan pagi jadi tidak heran kalau yang duduk dibelakang pada ngobrol. Apalagi akhwat, mau dibelakang ataupun di tengah posisinya tetap saja tidak berpengaruh.
Menurutku merah jambu bukanlah virus yang mesti dihindari oleh ADK. Itu adalah fitrah manusia, mau oleh ADK atau siapa pasti akan mengalaminya. Tapi membiarkan merah jambu itu datang bukan pada waktunya juga kurang tepat. Kita harus bisa menetralisir merah jambu itu menjadi sesuatu yang bisa mendekatkan kita pada Sang Maha Cinta.
Kata-kata virus merah jambu masalah para ADK lenyap ditelingaku tak berbekas. Aku tak percaya ada ADK mengalami masalah kecil itu. Lagi pula aku tidak menemukan hal-hal yang menjurus ke sana. Apalagi ADK di kampusku. Gak mungkin banget. Aku melihat ADK di kampusku seperti manusia yang dilapisi oleh kotak kaca. Tidak ada yang bisa masuk walau hembusan udara sekali pun. Dilihat pun mata akan sakit karena silau oleh pantulan cahaya matahari. Aku terkadang merasa itu terlalu. Tidak bebas. Mungkin masalah itu akan ditemukan di kampus lain atau di novel saja bukan di kampusku.
Tahun 2009
Suatu hari aku lupa kapan waktunya, aku dan kedua akhwat senior di wajihah tempat kami beramal sebut saja kak Ima dan kak Desi. Kami bertiga membahas tentang agenda ke depan yang akan dilaksanakan. Entah kenapa tiba-tiba disela-sela obrolan, kedua kakakku itu bercanda-canda yang membuat hatiku mengatakan bahwa apa yang mereka candakan itu kenyataan bukan candaan biasa para akhwat. Aku merasa dejavu. Obrolan tentang itu sering aku dengar. Pikiranku mencoba untuk merangkaikan kejadian-kejadian lalu dengan apa yang mereka perbincangkan. Aku belum berani untuk menarik kesimpulan. Tapi hatiku sudah menarik hipotesis yang membuatku terbelalak tidak percaya. Gak mungkin. Aku mencoba untuk menepisnya. Saat itu aku berfikir mungkin ini hanya prasangka saja dan aku tidak boleh berfikiran buruk apalagi sama saudara sendiri.
Dan benar saja selang beberapa minggu dengan tidak sengaja hipotesisku terbukti menjadi sebuah kesimpulan nyata. Jika kesimpulan ini menyebar maka Dakwah Kampus bagai terkena petir di siang bolong. Aku jadi serba salah. Rasanya aku menjadi tidak terlalu segan dengan ikhwannya. Gak mungkin! Bagaimana bisa, dia itukan senior di wajihahku?! Kok bisa terjebak dalam masalah ini.
Aku mencoba untuk mempertanyakan peran teman ikhwan itu yang masih merupakan senior aku di wajihah yang sama dalam masalah ini. Aku semakin kaget ternyata dia mengetahuinya. Kenapa gak mengingatkan? Bagaimana peranan guru ngajinya? Apakah mengetahuinya? Banyak hal yang tidak kumengerti.
Suatu malam kak Ima sekaligus adik angkat ikhwan yang bermasalah itu menginap di kosanku untuk mengerjakan tugas kuliah. Tiba-tiba disela mengerjakan tugas dia memulai berbicara mengenai masalah itu. Dia merasa bingung dan serba salah harus berbuat apa tentang bagaimana mengahadapi keduanya. Kalau ada apa-apa diantara mereka dia yang menjadi perantaranya.
Pada malam itu juga aku mengetahui awal kejadiannya. Kejadian itu bermula dari keinginan ikhwan itu untuk menikahi kak Desi tapi karena kak Desinya belum siap dan mereka berdua satu angkatan yang belum lulus kalau terjadi pernikahan maka akan dianggap ‘qodhoya’ (masalah) oleh yang lainnya. Akibatnya masalah ini mulai. Dan mereka belum bisa untuk mengakhirinya.
Ah. Ternyata apa yang diucapkan oleh pemateri pada saat konsolidasi dulu aku kira hanya isapan jempol belaka, tetapi detik itu juga aku menjadi saksinya. Dan aku tidak tahu kenapa Allah menghendaki aku untuk mengetahuinya? Ada perasaan takut menyelimuti hatiku. Kalau terjadi persidangan mengenai ini, aku merupakan saksi penguat setelah kak Ima.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa bisa menyanyangkan. Mereka lebih paham dari kami. Dan lebih tahu apa yang mesti dilakukan. Aku berharap peristiwa ini tidak terjadi pada akhwat ataupun ikhwan lainnya. Sekali lagi aku bergeleng tidak percaya. Dan aku mencoba untuk mengerti posisi mereka.
Tahun 2010
Suatu hari aku dengan teman satu angkatanku sebut saja Nida pergi jalan-jalan ke Palasari. Kami berniat membeli buku kuliah, tapi sesampainya di sana ternyata buku yang kami cari tidak ada dan kami malah beli buku yang lain. Membeli novel. Sudah menjadi kebiasaan.
Setelah berkeliling mencari-cari buku, akhirnya aku tertarik pada buku yang berjudul “Bulan Tak Purnama” karya Ahmad Basri Afandi. Bulan tak purnama? Emang ada yah? Aku membolak-balik setiap sisi buku dan membacanya. Perasaan aneh dan penasaran memenuhi pikiranku. Aku semakin penasaran ketika melihat covernya apalagi setelah membaca bait kata-kata cover awalnya membuat senang.
Jika benar Hawa tercipta dari bagian Adam.
Ambil dari bagianku
Melalui ‘kun’ Mu.
Jadikan dia untukku.
Ada gejolak aneh di hatiku yang tidak aku ketahui kenapa. Perasaan itu sulit untuk diungkapkan. Ada sedikit malu juga sih. Sebagai seorang perempuan aku merasa dihargai.
Aku menimbang-nimbang sambil mencoba mencari silogisme dan analogi dari apa yang aku lihat dan aku baca tentang buku itu. Akhirnya aku memutuskan untuk membelinya.
Sesampainya di kosan aku sudah tidak sabar untuk membaca novel itu. Aku terkejut dengan apa yang aku baca. Isinya hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh kakak seniorku itu. Bedanya, dalam kisah mereka tidak ada yang berperan sebagai tokoh antagonis dari keluarganya, yang ada hanya mereka sendirilah pemerannya.
Aku bertanya-tanya novel ini kisah nyata penulisnya atau terinspirasi dari kisah orang lain atau bagaimana? Tidak mungkin seorang penulis menulis sesuatu kalau tidak terpengaruhi oleh kehidupan nyata.
Aku jadi menebak-nebak bagaimana akhir kisah kedua kakak seniorku itu. Apakah akan seperti novel itu hidup bahagia atau berakhir tanpa ikatan. Sebelum aku mengetahui awal kejadiannya kisah kedua kakak seniorku itu, terkadang aku berfikir bagaimana kalau hubungan mereka berakhir dan ikhwan itu menikah dengan akhwat pilihan guru ngajinya dan juga temen kak Desi. Bagaimana perasaan kak Desi?
Emh… Sungguh aku tidak bisa membanyangkan.
Suatu hari teman kak Ima main ke kosan, aku menunjukkan buku yang baru dibeli itu. Dengan senang hati dia membacanya. Beberapa jam kemudian aku melihat kak Ima mengusap matanya yang memerah. Nangis? Aneh. Perasaan aku tidak sampai nangis deh waktu baca novel itu. Waktu aku Tanya dia malah menuduh aku tidak dihanyati waktu membaca bukunya. Hah? Terserahlah.
Entah kenapa kami berdua mendapat ide dan sepakat supaya kak Desi membaca novelnya Ahmad Basri Afandi itu. Kemudian kami putuskan untuk menginap di kosanku dan mengajaknya. Kemudian aku mengirim sms ke kak Desi untuk menginap ke kosanku.
Kami merasa senang, setidaknya kami berusaha untuk menolong saudara kami itu. Beberapa menit kemudian balasan pun masuk ke inbox hp ku. Ada rasa kecewa di hati kami. Dia tidak bisa datang karena sedang berada di luar Bandung, di rumah orangtuanya. Walaupun begitu kami tidak putus asa, novel itu tetap akan diberikan. Pokoknya kak Desi harus baca. Aku berharap lewat novel itu kakakku itu dapat hikmahnya dan dapat penyelesaian dari masalah yang dihadapinya. Dalam sujud malam kami berdoa supaya masalah itu dapat jawaban yang terbaik bagi keduanya.
Novel itu entah sudah dibaca atau belum oleh kak Desi. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas novel itu sekarang sudah ada, tersimpan di lemari bukuku. Kami sudah berusaha untuk membantu saudara kami itu, dan kami berharap Allah memberikan jalan yang terbaik.
Sekarang, aku tidak tahu bagaimana kisah mereka, berakhirkah atau berlanjut? Karena kesibukan masing-masing kami jarang bertemu. Tapi kami sempat bertemu dan kak Desi mengatakan bahwa mereka sudah berakhir dan dia siap untuk hidup dengan ikhwan manapun, jika nanti Allah telah menentukan-Nya. Entah itu benar atau tidak yang jelas kita sebagai saudaranya harus mempercayainya dan menggenggam erat tangannya. Akupun berharap semoga cinta kami datang pada saatnya dan untuk orang yang tepat serta dapat mendekatkan kami pada Sang Maha Cinta.
Tidak ada yang salah dengan cinta itu, menjadi salah ketika kita keliru menempatkannya dengan apa yang Allah tetapkan.



0 komentar:
Posting Komentar