Kamis, 16 Desember 2010

Syair-Syair Cinta

Oleh: Irza Setiawan

Aku masih disini, menantikan butiran cahaya yang bisa menyinari tiap pancaran hati, aku masih disini, dibalik banjiran air mata di setiap sujudku dalam limpahan kasih sayang ilahi, aku masih disini, meskipun terbunuh sepi namun ku selalu merasakan kedamaian hati, siapa aku? Aku hanyalah pemuda yang berusaha memperbaiki diri di saat kekurangan diri semakin diteliti, kalaupun ada yang mengatakan aku adalah penulis yang ahli, penyair yang begitu diminati, pujangga yang karyanya selalu dinanti, maka ketahuilah, jawaban mereka tidak sepenuhnya benar.

Kisah ini berawal dari perkenalanku dengan seorang akhwat berkulit putih bersih di sebuah kegiatan dakwah, sebutlah namanya Aisha, usiaku lebih tua sekitar lima tahun darinya, orangnya santun dengan tutur kata yang lemah lembut, masih sangat muda dan bahkan sifat dewasanya belum keliatan, kadang dia bisa bernyanyi sendiri seperti anak kecil, suaranya bagaikan suara merdu gita gutawa yang tertelan mic, parah sekali, kadang perutku sampai keroncongan ketika mendengar nyanyiannya, meski begitu dia akhwat yang lumayan terjaga, pakaiannya begitu rapat dan menutup aurat, di saat aku berkunjung ke rumahnya dia tidak akan membukakan pintu dulu sebelum dia memakai jilbab.

Gemuruh hujan dan pekikan Guntur mengoyak langit biru di atas sana, sudah sekitar dua jam aku terjebak di masjid Al Jihad Amuntai, sambil menikmati merdunya suara anak-anak yang sedang membaca Al Quran, inilah anugerah yang dinanti oleh para hamba yang tahu diri, kesibukan dunia yang selalu menyelimuti, pekerjaan yang membuat diri semakin diperdayai oleh butiran waktu yang selalu di lalui, sehingga keadaan seperti dikebiri oleh sisa umur yang tidak bermanfaat sama sekali, entah bagaimana keadaan motor bututku yang terparkir  di halaman masjid ini, barangkali helm-nya pun sudah menjadi ember air yang penuh terisi, karena derasnya hujan yang membasahi bumi.

Dalam naungan zikir yang menyelimuti hati, suara kokokan ayam tersedak keluar dari handphone bututku, kuliat layar handphoneku yang kacanya pun sudah mulai retak dimana-mana, kubaca nama Aisha di layar handphone-ku, kuangkat.
“ Assalamualaikum, ada apa Aisha? “
“ Waalaikum salam, kak Irza, saya boleh menanyakan sesuatu gak? “
“ Boleh, tentang apa? “
“ Tentang bantu aku menjaga indra pembau seperti yang di tuliskan Salim A Fillah di bukunya Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan halaman 89, dulu kan Aisha punya teman cewek, teman Aisha itu suka banget memakai farpum, nah kebetulan saat dia lewat di depan cowok, cowok itu bilang, wangi banget, bergetar hatiku jadinya. “
“ Oh, yup hadist itu sudah menjelaskan segalanya, kita di beri Allah gharizah Na’u, naluri terindah yang di berikan Allah kepada hambaNya, karena naluri ini antara laki-laki dengan perempuan mempunyai rasa ketertarikan yang mendalam, di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata dari Nabi saw,”Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah penglihatan, zina lisan adalah perkataan dimana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya “ Hadist riwayat Muslim, nah jadi hidung pun bisa jadi rangkaian zina.

Begitulah kehidupanku bersama Aisha, komunikasi kami selalu ke hal agama, meskipun terkadang di iringi canda tawa yang bisa membuat suasana menjadi bermakna, tiada getaran hati sedikitpun yang kurasakan selain dia adalah orang yang dekat denganku, apalagi perasaan cinta ah jauh banget, jangan dikira diriku yang dulu mengerti tentang cinta, aku hanyalah laki-laki yang jarang bergaul dan terkerangkeng oleh kehidupanku sendiri, sehingga ketika teman-teman sebayaku sibuk dengan aktifitas pacaran, bersama-sama mengundang syaitan bersama pasangan tanpa ikatan pernikahan, diriku sedikitpun tidak memahami bagaimana getar rasa jatuh cinta, indahnya merindukan seseorang, dan sebagainya.

Sampai di suatu saat, telingaku bagaikan mendengar petir yang memecah langit, kabar duka yang mendalam begitu menyelimuti hati, Aisha kecelakaan di tabrak pengendara motor yang ngebut tak tahu aturan, tidak peduli dengan pengguna jalan lain, darah segar bercucuran dari tubuhnya, Aisha di rawat di rumah sakit dalam kondisi kritis, saat itu aku mengalami guncangan hati yang aku sendiripun tidak paham dengan yang kurasakan , rasa khawatir berlebihan begitu membuat suasana hatiku di penjarakan, kulihat tubuhnya yang lemah tiada berdaya di atas pembaringan, oh beginikah rasanya kehilangan, malam yang kelam di temani guyuran derasnya hujan, itu adalah malam pertama kali aku menitikkan air mata untuk seorang perempuan, Aisha…, aku tidak tahu getar apa yang kurasakan, apakah ini cinta atau hanya perasaan simpati yang begitu mendalam.

Siang malam kuhabiskan waktuku untuk menemani Aisha dalam rasa sakit yang tiada terperikan, kadang aku berdendang sendiri dengan tiap untaian doa yang kulantunkan agar Aisha cepat diberi kesembuhan, setiap cerita kami berdua aku tuliskan dalam sebuah kisah  dengan beberapa kutipan ayat Al Quran, tentang pertemuan kami, canda tawa dan kesedihan yang terus kuuntaikan dalam lantunan syair cinta sehingga menghabiskan ratusan halaman.

Waktu terus berlalu, Aisha mulai sembuh dan sudah bisa berjalan, hari ulang tahunnya di tahun ini bertepatan dengan bulan ramadhan, keluarganya mengundangku untuk berbuka puasa bersama di rumahnya, syair-syair cinta yang kutuliskan mencapai ratusan halaman itu akhirnya kubukukan dan kuhadiahkan di hari ulang tahunnya, buku itu kuberi judul Di Balik Kerudung Cinta, yang meskipun aku tulis dengan waktu lama tetapi dia bisa menghabiskan membacanya dalam satu hari penuh, malam itu juga untuk pertama kalinya aku mengimaminya shalat.

Rasa khawatir mulai kurasakan ketika kami berdua semakin dekat, meski ilmu agamaku masih sangat minim tapi aku tahu aturan, bagaimana islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, akhirnya kuberanikan diri untuk membicarakan masalah pernikahan, keluarganya menyambut baik niatku, hanya saja faktor usia yang tidak memungkinkan mengingat Aisha masih berusia 14 tahun dan masih menempuh pendidikan, akhirnya intensitas kebersamaan kami aku kurangi untuk menjaga kebeningan hati, biar bagaimanapun kecantikan wanita adalah ujian terberat dalam kehidupan, aku bukan nabi Yusuf yang bisa membaca kehadiran iman di saat godaan wanita sungguh menyulitkan, aku juga bukan seperti nabi Musa yang bisa berjalan di depan wanita untuk menjaga pandangan, rasa kepercayaanku akan kesetiaan yang membuat suasana hatiku begitu tenang.

Waktu terus berjalan dan bisa merubah keadaan, ternyata rasa kepercayaanku yang selama ini kupegang teguh ternodai oleh perubahan zaman, Aisha berubah, mungkin karena gejolak pergaulan atau lingkungan, Aisha akhirnya terjatuh dalam hal pacaran, meskipun dia orang suci yang bisa menjaga diri, hanya saja kesetiaanku benar-benar di lecehkan, rasa kepercayaan dari orang tuanya begitu menyakitkan, ketika diriku sendiri dibohongi dalam cekaman kepiluan.

Inilah masa di saat aku benar-benar hancur, terpuruk oleh kondisi hati atas pengkhianatan cinta, aku memang tidak pernah jatuh cinta, namun sekali merasakan cinta aku benar-benar tidak bisa mengontrol ketenangan hatiku, hidupku hancur berantakan di balik sifat cuek dan keangkuhan Aisha, sehingga aku bagaikan mayat yang bisa berjalan.

Kuputuskan malam ini adalah malam perpisahan bagi dunia, kusiapkan segala hal yang membuat namaku menjadi sejarah yang di suatu saat akan dilupakan, kulingkarkan tali kematian di leherku, kuhirup nafas panjang seakan ini adalah desahan nafasku yang terakhir, kuputuskan untuk menjemput kematian demi melupakan setiap kenangan dengan Aisha, oh tali kematian, begitu hebatnya dirimu bisa membunuh orang yang tiada guna sepertiku, namun karena kau juga masalahku hilang untuk selamanya, sebuah dialog terakhirku kepada dunia, begitu kulingkarkan tali di leherku yang akan mencekikku sampai kehabisan nafas, tiba-tiba azan isya berkumandang.

“ Allahu Akbar… Allahu Akbar… “
Panggilan azan bergema memecah kesunyian malam, aku berdiri termenung memikirkan diriku, sementara tali kematian sudah melingkar di leherku, sudah azan isya ternyata, dalam kebimbangan muncul tanda tanya yang menghantui pikiranku, seakan aku berbicara pada diriku sendiri,
 “Rasanya sudah lama juga aku tidak shalat, ya udah yang terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau shalat dulu. “
Aku turun dari panggilan kematian, kulepaskan lingkaran tali yang mencekik leherku, lalu aku berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air wudhu, kubuka kran ledeng dengan hati-hati, lalu disaat aku membasuh muka.
Wusss…..

Aneh, pikiranku menjadi bingung tak tertahankan, yang kubasuh wajahku, tapi kenapa hatiku menjadi tenang ya, antara bingung dan ragu aku terus menyempurnakan wudhuku, sementara suasana hatiku semakin tenang dan tentram saja.

Kuhamparkan sajadah yang harum mewangi, kuangkat takbir dengan penuh kekhusukan, kubayangkan Allah berdiri di depanku, surga di sebelah kananku, neraka disebelah kiriku, dan malaikat maut berdiri dibelakangku, air mataku menetes tak terasa, entah gejala apa ini  aku masih belum mengerti, begitu salam, menengok ke kanan dan ke kiri, terlihat kitab suci Al Quran di atas meja, hatiku kembali bertanya-tanya.
“ Oh iya, rasanya sudah lama juga aku gak  baca Al Quran, terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau ngaji dulu. “

Aku bangkit mengambil kitab suci yang lumayan sudah berdebu karena di telantarkan, kubuka dengan perlahan, lalu kubaca dengan penuh penghayatan, surat Al Fatihah, surat pembuka itu kubaca dengan suara tenang, namun hati ini menjadi sejuk, sangat sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, rasanya mulut ini tidak akan bosan-bosan dalam melantunkan ayat suci, lagu sehebat apapun tidak akan bisa mengalahkannya, subhanallah, ayatnya, panjang pendeknya, sangat menghipnotis diriku dalam membacanya.

Selesai membaca Al Fatihah, aku bertemu dengan surat Al Baqarah.
“ Alif Lam Mim, Dza likal kitabula raiba fihi hudan lilmuttaqin ( Alif Lam Mim,  AL Quran ini tidak ada keraguan kepadanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa ) ”

Masa sih? Petunjuk bagi orang yang bertakwa, wah mungkin Allah lagi menegurku nih, aku masih belum menjadi hamba yang bertakwa, makanya belum dapat petunjuk, selama ini aku menyelesaikan masalah hanya dengan caraku sendiri, tidak dengan cara Allah, Al Quran masih belum kujadikan pedoman hidup, jadi orang bertakwa gimana ya? Aku benar-benar butuh petunjuk, dengan penuh tanda tanya kubaca ayat selanjutnya.
“ Alladzina yu'minnu bil ghoibi (Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib)“

Hmm.. betul juga ya, harus beriman kepada Allah dulu yang Maha Gaib, aku harus meyakini bahwa yang bisa menyelesaikan masalah bukan diriku, bukan temanku, bukan suaraku, tapi Allah yang bisa menyelesaikan semuanya, segala usahaku hanya perantara untuk mencari karunia Allah, “ Wayukii muunasshalat ( yang mendirikan shalat) “

Oh pantas, baru nyadar aku, pantesan waktu shalat tadi hatiku tenang, jadi ini penyebabnya, bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab, subhanallah, kenapa aku baru sadar kalau kegelisahan hati akan terusir dengan shalat, aku semakin menikmati Al Quran ini, kuteruskan ayat selanjutnya.
“ Ta wamimmaa rajaknaahum yunfiikuun ( dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka).

Baru sadar aku, kalau sedekah tidak akan mengurangi harta, kalau sedekah adalah cara untuk kaya dunia akhirat, astagfirullah, ternyata hatiku terlalu hitam sehingga keihklasan memberi hilang begitu saja, sifat kikirku terlalu membutakan hati ini, kuteruskan membaca ayat keempat dan kelima.
“ Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. “

Air mataku semakin deras, menetes bagai embun di pagi hari, hatiku sesak tidak terkira, seharian aku mentadaburi ayat Allah, semakin mantap juga imanku, bunuh diri, udah dosa masuk neraka lagi, ih.. amit-amit, ternyata iblis sudah terlalu lama menyatu dengan diriku, menertawakan setiap ketololan diriku, mulai malam ini aku harus merubah semuanya.

Kukunci semua pintu rumah, kumatikan setiap lampu ruangan kecuali kamarku, aku ingin berduaan sama Allah, kali ini aku mulai belajar untuk menafsirkan tiap ayat, untuk mengusir kesedihan biasanya aku mencari ayat Al Quran yang bisa menyejukkan hati, setiap ayat yang kubaca kuhafal lalu kujabarkan dalam tulisan, kuambil bahan tambahan dari buku Jalan Cinta Para Pejuang dan Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan Salim A Fillah serta beberapa syair dari Kujemput Jodohku karangan Fadlan Al-Ikhwani, dan tidak kusangka kesedihanku mencapai ratusan halaman dan menjadi sebuah buku yang kuberi judul Indahnya Menjemput Cinta Bidadari, waktu terus berjalan dan aku sekarang menjadi dosen termuda di salah satu universitas Kalimantan Selatan

Akhirnya Aisha menemuiku kembali dan meminta maaf atas segala kesalahannya dimasa lalu, dia mulai memperbaiki diri di jalan keimanan dan tidak ingin lagi terjerumus ke dalam aktivitas pacaran, sekarang Aisha sudah menjadi Mahasiswi, dan aku sebagai dosennya, kami terus melalui zaman yang akan bergulir mencapai masa depan, entah bagaimana cinta kami selanjutnya biarlah Allah yang menentukan.

 Note : Aisha adalah tokoh nyata dengan nama yang disamarkan

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More