Kamis, 16 Desember 2010

Klub Ninja Cahaya

Oleh Dian Fitri Utami

Seperti senandung nasyid Suara Persaudaraan “…Hatiku selalu maju mundur dibuatnya” mungkin mewakili perasaan Sarah setiap kali ditanya,”kapan pake jilbab?”, Sarah pasti meringis dan nggak lama ambil langkah seribbuuuu, Kabbuuuur…J kalau bisa menghilang sekejap deh..Triiing,,, kayak jin… males banget rasanya dengar pertanyaan yang sama. Tapi bagi Rona, tak ada kata menyerah selama itu kebaikan, karena mengajak sahabatnya Sarah bergabung di klub terbaiknya adalah Grand Design. Sarah, perempuan berkacamata, pintar, teliti dan berbakti kepada mama tercinta hampir 6 tahun mengabdikan dirinya di salah satu perusahaan milik negara di bilangan Jakarta Pusat itu membagi kisahnya kepada kita semua.

Allah mungkin mengirim Ronalinda untuk membantu mendapatkan hidayah yang lama dinanti Sarah. Rona adalah salah seorang kawan lama semenjak kuliah dulu. Rona aktif mengikuti kajian keislaman di sekitar tempat tinggalnya, sehingga dengan mudah Sarah mendapat transfer-an ilmu agama. Setiap satu bulan sekali Sarah menyempatkan diri mengunjunginya, sekedar berbagi cerita dan  masalah (masalah koq dibagi-bagi…J). Sarah sempat iri melihat Rona bisa berjilbab rapi dan istiqomah, bahkan ia sering mengeluhkan masalah kulit yang super duper sensitive bila berjilbab kelak, ditambah cuaca yang sekarang tak menentu.

Suatu senja di musim yang lalu..,eh musim kemarau setahun yang lalu, saat Sarah menyambangi kediaman mungil Rona, terlihat ia sedang membolak-balikkan buku bersampul putih merah bergambar seorang wanita berjilbab sedang bersimpuh memanjatkan do’a, judulnya “Agar Bidadari Cemburu Padamu” Sarah membacanya sambil lalu. Wajahnya tampak cemas harap-harap, Be-Te kata Dea Ananda mah yak!, Rona mengetahui perasaan mendalam sahabatnya itu, “nyokap gue bilang, daripada gue buka tutup mending jangan dulu !!!” Sarah memulai obrolan tentang niatnya berjilbab dan Rona tahu arah pembicaraan akan menuju kemana. Ujung-ujungnya pasti Rona mengatakan “emangnya, Syurga punya nenek moyangmu apa. Lah kenapa gak ikuti kata hatiiii jeng..!” “kalo sudah niat, segeralah…InsyaAllah baik. Khawatir, bukan Jilbab yang disimpan dilemarimu yang hilang tapi niat mulia itu yang lama kelamaan memudar karena godaan macam-macam “ sebenarnya Rona sudah sering memberikan nasihat tentang Perintah jilbab, namun Sarah masih bimbang. Lagi-lagi Sarah cuma bisa diam malah mengeluarkan selembar kertas warna kuning. Tiket nonton. Sebelum mengiyakan ajakan Sarah yang wajahnya memelas minta ditemani JJS-an, Rona mengajukan syarat, agar Sarah harus segera memikirkan kembali nasihatnya sore itu. Gadis berpipi tembem itu pun mengangguk. Yeah, kita lihat saja nanti pikir Sarah sambil menyeruput teh hangat rasa lemon buatan emak Rona.

Selepas maghrib, mereka janjian bertemu di Salemba, berangkat bareng menuju XXI Atrium-Senen, menonton film yang ditunggu-tunggu sejak lama, “Ayat-ayat Cinta”.. Sarah tampil jelita.Dandanannya tipis, tubuhnya yang molek ber-isi dibalut kaos ketat pink dan celana bahan ketat warna hitam. Rambutnya yang tipis pendek disisir rapi dan dibiarkan begitu saja. Rona menatapnya lekat lalu mengapit tangan kanan Sarah erat-erat seperti takut kehilangan. Sarah hanya senyum-senyum. Huh, orang sahabatnya khawatir dia malah senyum-senyum L        

Sarah begitu menikmati film tersebut,  terpesona acting Rianty Cartwright dan Ferdi Nuril yang berperan sebagai pasangan suami istri sepadan. Mungkin ini awal yang baik menyemangatinya kembali ke jalan Hidayah. Rona sempat membayangkan jika Sarah bercadar seperti ‘Aisyah, ia lalu tertawa kecil sendirian jika itu benar terjadi. Malam semakin larut, tak terasa tiga jam pun berlalu, menjadi kebiasaan kami setelah nonton, jajan Bakso Malang Karapitan yang letaknya tidak jauh dari XXI masih  di lantai Atrium yang sama. Nah, ada peristiwa yang lumayan menegangkan ketika mereka keluar dari pintu XXI. Seorang pria berkepala pelontos, bertubuh tegap mengamati Sarah dari kejauhan tapi kelamaan pria itu berjalan mendekati mereka, Rona bergidik begitupun Sarah, ia melihat sorot mata yang tajam,liar diiringi dengan senyum nakal dari Pria berkaos putih ketat itu. Sontak, mereka berdua mempercepat langkah. Ketakutan dan ingin segera menghindar. Sarah mengawasi sekeliling lantai 4, ia menengok kanan-kiri apakah pria asing itu masih mengikutinya. Akhirnya Rona berstrategi supaya mereka berpencar sambil menuju BMK. Ide Rona berhasil, Keduanya sampai di BMK berbarengan dan langsung memesan makanan kesukaan masing-masing sambil terus waspada. (Waspadalah2x,kejahatan terkadang melihat bagaimana objek pelaku yang memancing orang ingin berbuat jahat bukan hanya ada kesempatan J)

Sepulang dari Atrium-Senen, wajah Rona memerah lantaran kesal dengan Sarah yang karenanya mereka hampir dilecehkan orang. Sarah pun mendapat nasihat habis-habisan, tentang pakaiannya. Malam itu, terungkap pula cerita Sarah ketika teman-teman di kantor khususnya pegawai security yang suka usil, menjahilinya karena sebab yang sama yakni pakaian yang ketat sehingga memperlihatkan tiap lekukan tubuhnya yang aduhai. Akupun sering melihatnya dicolek bahkan dirangkul, Sarah pernah merasa sedikit risih tapi sepertinya ia santai dan cenderung senang, menikmati juga karena ia selalu membalas perlakuan orang-orang yang jail itu dengan tawa ringan tanpa beban. Perbuatan yang paling buat aku marah adalah ketika ada yang tiba-tiba menggigit lengan atas Sarah hingga meninggalkan luka lebam. Kenungkinan si pelaku yang kebetulan temannya juga gemas dengan Sarah. Apakah itu semua membuat Sarah kapok dan membuang baju-baju mininya? Jawabannya ternyata belum. Seribu alasan dikemukakan Sarah (1000 !! banyak amat yak) dari mulai Ilmu yang tidak mencukupi karena menurutnya orang yang pakai jilbab harus hafal kitab kuning dulu :-D , orang yang pakai jilbab harus serasi padu padan antara baju atasan dan bawahannya, mungkin yang berjilbab harus bersih dari noda dulu..atau ada ketakutan tidak mendapat pekerjaan. Waduh gaswat..

Kata-kata terakhir Rona terngiang di telinga Sarah “ Sar, sebentar lagi Ramadhan tiba, akankah niat itu terwujud !!”.Sepertinya selalu ada banyak surat cinta untuk Sarah. Untuk sementara waktu, yah sekitar tiga bulan lamanya mereka tidak berjumpa, dikarenakan kesibukan masing-masing. Hingga pada titik kulminasi…”Sakaratul maut” bukan Sarah yang mengalaminya tetapi sang bude, kakak dari ayahandanya. Bude Mar yang selama hidupnya belum pernah menjalankan sholat, kini telah tiada, Sarah sadar walau dia belum berhijab, ia masih rajin Sholat 5 waktu. Meskipun Sarah tak pernah berpikir shalatnya diterima Allah atau tidak karena perintah menutup ‘aurat belum ia penuhi. Tapi bude Mar, Sarah tidak mau membayangkan bagaimana cara Izrail mencabut nyawanya. Ooh…, Sarah menangis sejadi-jadinya. Berita yang terakhir sampai ke telinga sarah, Bude baru saja mau belajar Sholat serta mengaji tapi sayang beliau terlambat. Dari kejadian itu, perlahan Sarah membenahi gaya berpakaiannya, ia mulai belajar memakai baju lengan panjang, agak tertutup walau sedikit. Proses dimulai. 

Lima hari menjelang Ramadhan, Saat Sarah hendak sholat Dhuha di mushola kantor, ia mendapati sebuah buku yang mirip seperti yang Rona miliki. Sarah yakin ini buku yang sama, hanya saja waktu itu ia tidak serius membacanya. Benda bersampul cantik  terbitan Pro-U Media tak sengaja tergeletak di atas sajadah. Rupanya si pembaca terakhir lupa menutup dan merapikannya kembali, dibiarkan menelungkup tepat di halaman 59, Akh Salim A. Fillah memberi judul Bab 2 itu “Dan Kaupun Semakin Mempesona (2)”(ssst,si pembaca terakhir itu aku). Dibacanya lembar demi lembar dengan lamat-lamat, matanya mulai berkaca-kaca. Sesampainya pada hal 61 ~Hujan telah turun. Membangunkan tunggak-tunggak rumput dan lalang di padang hibernasinya. Geliatnya menghijau seluas cakra pandang. Tak menunggu mentari tinggi, serombongan domba wol bagai kafilah ihram berbaris riang. Putih. Anggun. Di sela embikan panjang, pendek, mereka bertasbih memuji Allah, “Hai, anak Adam… Allah telah menurunkan pakaian kepada kalian…” ~Hujan telah turun. Mengkuyupi ladang-ladang kapas di dataran. Putih, menguncup dan malu-malu melambai . semusim lalu petaninya berseru pada sang istri yang sibuk dengan pintalannya, “Allah telah menurunkan kepada manusia, pakaian  untuk menutup ‘aurat mereka…” ~Hujan telah turun. Menerbitkan titik bening di pucuk-pucuk Mulberry. Tak lama, daun-daun itu mengerjap dan bertumbuh malu-malu. Dan ulat-ulat sutera riang mengunyahnya, sambil bertasbih memuji Allah, “Allah telah menurunkan pakaian yang indah untuk perhiasan…”. Penekanan pada Qs. Al Araaf ayat 26. Tangisnya pecah, ia bersujud lama sekali. Tempat yang mulia itu, para malaikat dan Allah menjadi saksinya. Dhuha semakin merona pagi itu. Khusyuk. 

Dua hari sebelum shaum Ramadhan, Fadilah Sarahwati mengenakan Jilbab, Jilbab merah tua yang ia kenakan menambah kesan semangat nan bergelora, hangat dan berani. Berani melawan keragu-raguan yang selama ini menggelayut di pikiran. Berani melawan musuh yang jelas-jelas nyata baik yang tampak atau tak tampak wujudnya. Semua penghuni kantor terkejut, nyaris tidak percaya. Seorang kawan berkelakar “Selamat bergabung di klub kami, wahai ninja merah tua..!!!”, kami semua menyalaminya, saling berangkulan, Sarah tak bisa menahan haru, begitu juga aku. Yah, dia Sarah yang selama ini tampak minimalis dalam berpakaian, cuek dan menggoda bagi siapa saja.

Ngomomg-ngomong masalah klub ‘Ninja’, itu hanya candaan Kia salah seorang teman di bagian Frontdesk yang telah berjilbab semenjak masuk SMU. Teringat ketika tahun pertama Jilbab dilarang masuk ke sekolah-sekolah, dan ketika diperbolehkan pun banyak ejekan dan celaan tentang kami yang berjilbab, tak lain ya si Kura-kura Ninja itu. Mungkin ‘Ninja’ yang dimaksud Kia disini bisa diibaratkan sebagai sesosok pahlawan dengan perjuangan masing-masing. Berawal dari bagian Pemasaran tempat Sarah dan aku bekerja yang dikepalai oleh seorang ibu muda yang baru mengenakan Jilbab juga sepulangnya dari tanah suci Mekkah, menambah semangat keislaman kami. Walau kantor kami bukan kantor yang bergerak di bidang Syariah, namun kami berusaha nilai-nilai syariah itu dapat tumbuh, ada di setiap penjuru dan hati kami. Enam diantara tujuh pegawai perempuan beliau semuanya berjilbab rapi.

Sarah seperti punya magnet bagi teman-teman yang belum berjilbab. Ramadhan tahun ini baginya adalah Ramadhan terindah. Ba’da Idul Fitri kami dikejutkan kembali dengan teman satu bagian kami, Pinandita Putri. Subhanallah, ia menyusul jejak Sarah menuruti perintah Illahi. Tepat di hari ulangtahunnya yang ke 25, Pinan berhijab. Si ‘Ninja’ abu-abu. Membuat kami terdiam, melongo, dan segera berhamburan memeluk Pinan. Gadis tomboy dan berkulit putih itu rupanya sudah lama memendam hasrat ingin Ber’Ninja’ eh.. berJilbab J Kia kembali bersorak, antusias “Subhanallah, lengkap sudah klub ‘Ninja’ kita. Keren cuy..!” Pinan dan Sarah menambah deretan perempuan berJilbab di bagian Pemasaran.

Wahai kura-kura Ninja yang dahulu jadi sebutan aneh. Kini kami berganti rupa menjadi ‘Ninja’ Cahaya. Amegasa-nya telah tergantikan oleh kain tebal warna-warni. Shinobi Gana, Kaginawa, dan Tetiu Bishi-nya berubah menjadi senyum paling manis, percaya diri dan kenyamanan tiada tara lalu Ninjutsunya adalah bersungguh-sungguh mengadakan perbaikan diri lebih jauh. Seperti halnya seorang Ninja yang senantiasa belajar keseimbangan, ‘Ninja’ Cahaya harus terus belajar hingga akhir perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Terimakasih kepada kereta-kereta Pro-U Media yang mengajak kami ke gerbong istimewanya. The Train-Motiva. Pertanyaan selanjutnya setelah berhijab yang datang kepada Sarah dan kawan-kawan : Kapan Menikah?? ( kalo yang ini Sarah ndak kabuur, tapi menagih, carikan aku pangerannya!!! J)

Surat Cinta dari Langit fwd. Ronalinda Fwd. Fadilah Sarahwati berikut kado istimewa dengan pita emas yang disematkan di atasnya :

Kita bukan tiga atau lima hari saling kenal, bukan juga dua atau tiga tahun tahu diri masing-masing. Kita berteman sampai dengan hari ini sobat !!. aku menghapus segala keburukan-keburukan tingkah lakumu di masa lalu, masa yang penuh prasangka memuakkan dan tingkah polahmu. Angkuh, ketika kau duduk di bangku ketenaran. Aku bahagia, sekarang kau sudah menemukan apa yang selama ini kau cari. Sedikit berbagi ya, selama aku menjadi sahabatmu aku bermimpi kelak aku diselamatkan oleh Allah SWT. karena da’wah ini, “Dan Ingatlah ketika suatu ummat (yang apatis) diantara mereka berkata :”Buat apa kalian peringatkan kaum yang Allah sendirilah yang akan membinasakan atau mengadzab mereka dengan adzab yang sangat?”. Mereka (para pencegah kemunkaran) berkata :”(peringatan itu) sebagai alasan pelepas tanggung jawab di hadapan Rabb kalian, dan agar mereka (orang-orang yang bermaksiat) bertaqwa, maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan buruk, dan kami siksa orang-orang yang zhalim dengan adzab yang keras sebab mereka fasiq adanya.” Wallahu’alam Bishowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More