Oleh: Meliana Aryuni
Kisah yang diawali dengan rasa sakit itu akhirnya berbuah nikmat. Inilah kisah dari seorang wanita, teman karibku yang insya Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, menjalani hidup dengan lelaki yang menyayanginya dan bertanggung jawab penuh untuk dunia dan akhiratnya.
Si Gadis merasa senang sekali ketika sebuah proposal datang kepadanya. Amplop coklat yang ada di tangannya sekarang adalah amplop yang kesekian kalinya dia terima dari murobbinya. Yang sebelum-sebelumnya dia tolak. Alasannya sangat sederhana, “Tidak cocok !” Dia merasa gugup, detak jantungnya berdetak dengan kuatnya hingga dia pun tidak bisa membuka amplop itu seketika. Dia letakkan amplop coklat itu di bawah bantalnya. Dia berbaring dan tertidur. Tergeletaklah amplop itu sendiri di bawah bantal.
Ada gundah yang tidak bisa dia ungkapkan dengan teman karibnya, Maya, aku. Dia ingin bercerita, tetapi dia tidak sanggup. Sepertiga malam menjadi saat-saat yang ditunggu-tunggunya. Dia hamparkan sajadah dan dia bermunajat kepada Allah.
“Ya Allah, Engkau yang menggenggam hatiku. Engkau pula yang membuatku tergerak membuka amplop itu. Jika dia memang dia yang terbaik untuk agamaku, keluargaku, dan diriku, maka izinkanlah aku menjalaninya dengan benar dan sesuai dengan tuntunan-Mu. Jika sebaliknya, tolong ya Rabb, jauhilah kami dengan cara yang baik-baik.”
Air mata keluar tanpa direncanakan, ia mengalir dengan sendirinya membasahi pipi si Gadis yang sudah memasuki usia kepala tiga. Begitulah yang terjadi dengannya. Allah pun menggerakkan tangannya untuk membuka amplop itu. Dengan bismillah, dia membuka dan tidak disangka-sangka bahwa nama yang tertera disana adalah nama laki-laki yang dia kenal sebelumnya dan sering berinteraksi dengannya.
“Masya Allah ! Benarkah ini ya, Allah ? Dia-kah yang Kau sediakan untuk menjadi pendampingku kelak ?” Berbagai kata tidak percaya keluar dari bibirnya. Semua proses telah berjalan. Dengan bismillah pula dia melangkah memasuki jenjang yang sebenarnya. Dia berkenalan dengan keluarga si lelaki dan sebaliknya. Mereka pun mengkomunikasikan tentang masalah mereka dalam beberapa waktu. Sampai suatu saat laki-laki itu memberanikan diri berbicara dengan orang tua si Gadis.
“ Pak, saya datang kesini untuk bermaksud baik. Saya ingin meminta anak Bapak untuk mendampingi hidup saya nantinya.” Laki-laki itu datang dengan seseorang yang dianggap tua olehnya, murrobbinya. Tidak ada jawaban dari bibir orang tua si Gadis. Suasana menjadi hening. Sampai akhirnya laki-laki yang dianggap dituakan oleh laki-laki itu angkat bicara.
“ Begini,Pak. Mereka ini sebelumnya sudah lama kenal, malah kerjanya di tempat yang sama. Sebenarnya keduanya sudah memiliki rasa, namun tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa itu. Akhirnya, Allah mengkehendaki agar mereka dipertemukan. Ya, begini ini. Kita bertemu disini. Kami tidak meminta jawaban langsung, tapi kami harap nanti setelah ini akan ada pembahasan lebih lanjut.
Aku yang waktu itu mendampingi si Gadis berada di kamar berharap jawaban ‘Iya’ dari Bapak, tapi jawaban itu tidak kunjung terdengar. Dari balik tirai kamar kulihat lelaki itu tertunduk, begitu pun aku, teman karibnya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami pasrah dengan keadaan yang ada di depan kami. Lelaki itu tidak berinisiatif untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Mereka pulang dengan meninggalkan ketidakpuasan di dalam hatiku dan si Gadis.
“ May, aku ingin cerita. Kamu tahu kan sama Arief, ketua karang taruna desa Semilir itu ? Dia meminta kepada Bapak untuk menjadikan si Gadis pendamping hidupnya,” ceritaku si Gadis kepada Maya, aku.
Mata Maya terbelalak tidak percaya. “ Masa’ sih ? Ah, nggak mungkin kali. Jadi, yang mau melamarmu itu si Arief anak Gang Sentosa ya? Dia itu kan sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Aku kenal dengan calonnya. Dia si…“ Maya mencoba mengingat- ingat.
“ Kalau nggak salah, Jinan namanya ! Ya, Jinan ! Aku tahu itu karena Jinan teman adikku. Adik sering cerita tentang Arief,“ ungkap Maya kepada si Gadis. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa ia ingat dari kalimat Maya. Si Gadis sudah sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Hai, lelaki, gampang sekali kau mempermainkan perasaaanku !“ Itu hanya sebuah gumaman si Gadis setelah kuceritakan kondisi Arief dan Jinan. Apa yang terjadi dengan jiwa si Gadis? Hanya dia sendiri yang merasakannya.
Begitulah Allah memberi cobaan kepada si Gadis itu. Sakit yang tidak pernah dia rasakan dan tidak terbayangkan akan terjadi padanya. Dia yakin, dalam beberapa hari ini semua kejadian itu tidak akan lagi menjadi bagian dari pikirannya. Dia sibukkan dengan kegiatan- kegiatan positif sehingga tidak ada ruang untuk mengingat kejadian itu.
Allah memang begitu sayang pada si Gadis. Dia menghibur diri dengan menghadiri banyak kegiatan di luar. Betul, Allah tidak akan melepaskan kita dalam keadaan sendiri dan berputus asa. Si Gadis yakin bahwa pertolongan Allah begitu dekat dengannya untuk mengatasi masalahnya ini. Air yang sejuk dan dingin mulai merasuki hatinya, yang kini mulai tenang. Tanpa terasa, udara dingin malam membuat si Gadis larut dalam munajat pada-Nya. Sejuk rasa yang dialami si Gadis waktu dia bisa membasahi kelopak mataya dengan bulir bening dari kelenjar air matanya. Tiada daya upaya, dia hanya ingin Allah selalu menemaninya. Dia rela kehilangan sesuatu, asal Allah tidak meninggalkannya. Subhanallah.
Keyakinan akan terkabulnya doa si Gadis ternyata tidak menunggu hatinya pulih dengan sempurna. Allah sudah menunjukkan jalan kebaikan agar dia tetap menyadari bahwa Allah itu Rahman dan Rahiim kepada setiap hamba-Nya. Asal hamba-Nya tidak berputus asa, maka Allah akan menurunkan pertolongan.
Tanpa disangka-sangka, dia ditelepon dari murrabbinya kembali. Dengan nada lembut sang murrabbi berbicara kepada si Gadis.
“Datanglah nanti sehabis pulang sekolah ya, Dik. Bawa biodata,” kata suara dari ujung telepon selular gadis itu. Pikirannya langsung mengarah pada proposal baru yang akan diajukan lagi untuknya. Sebenarnya, dia sudah tak peduli lagi dengan proposal yang ada. Dia hanya mengikuti saja. Gadis itu datang karena menghargai saja karena dia belum tertarik benar untuk menindaklanjutinya. Ada sedikit ketakutan, luka itu masih terasa sakit.
Dengan langkah yang tegak, namun gontai, si Gadis pergi membawa biodatanya menemui seseorang yang dia sayangi. Dia menyerahkan selembar kertas namun tidak berani menatap orang yang diserahi kertas itu.
Gadis itu menerima amplop yang kali ini berwarna cerah dan bergambar beruang, Tedy Bear. Tidak ada keinginan yang kuat untuk membuka amplop itu.
“Nanti juga boleh membukanya. Ditunggu jawabannya segera ya. “ Si Gadis tidak bereaksi senang atau setidaknya menunjukkan kegembiraan dari raut wajahnya. Prosesnya begitu cepat hingga dia tidak tahu Allah akan mencobanya kembali dalam waktu yang tidak terduga.
Siang berikutnya, setelah proses berjalan, sebuah berita datang tak terduga dan menghancurkan sendi-sendi si Gadis.
“Sabar ya, semoga ini yang terbaik.” Masya Allah, si Gadis merasa Allah mencobanya beruntun. Setelah beberapa kali berproses untuk menikah, impiannya belum bisa terpenuhi. Kali ini dia harus rela ditinggal pergi calonnya meskipun tanggal pernikahannya sudah ditetapkan. Pagi yang cerah, suasana yang menyegarkan, tapi tidak sesegar hati si Gadis ketika dia menerima berita bahwa kereta yang mengantarkan si lelaki untuk mengisi pengajian menabrak kereta lain di salah satu daerah. Gelegar petir mengejutkan si Gadis. Tabrakan dasyat itu telah membawa pergi semua impiannya. Pergi bersama tawakal yang penuh dan kesabaran.
Di kegalauan hati itu, dia terus memanjatkan doa. Tiada keluh dan sesal. Undangan yang sudah tercetak, semua persiapan catering yang sudah beres, souvenir telah tertulis nama calon pengantin, baju yang telah dibuat, semua rencana kandas. Dengan menengadahkan kepala si Gadis berkata, “Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.” (QS. Al-An’am : 152). Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan baginya keperluannya.” (QS. At-Thalaq : 2-3). Tiada daya upaya hamba, semuanya kupasrahkan pada-Mu sang Penggenggam Jiwa.”
Allah selalu memperhatikan hamba-Nya. Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam kesendirian dan keterpurukan. Hamba-Nya saja yang kadang ingin menjauh dari-Nya karena kesombongan diri. Begitupun Gadis, Allah tidak meninggalkan dia sedikit pun. Allah beri Gadis kesabaran dan ketegaran serta keberanian menghadapi hidup. Untuk mengisi hari- harinya, Gadis membaca kembali sebuah buku yang membuat dirinya bangkit, kisah- kisah dalam Don’t Cry-Ketika Mencintai, tak Bisa Memiliki’ yang ditulis oleh Fadhlan Al Ikhwani. Dia yakin bahwa, “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min : 60). Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Teman yang dahulunya menaruh hati tiba-tiba mengetuk pintu, memberanikan diri. Tak sampai satu bulan, si Gadis telah menjadi seorang istri.



0 komentar:
Posting Komentar