Oleh Suri Anggri Lestari
Pertanyaan itulah yang kini hinggap dihari-hariku, dan semakin hari …, pertanyaan itu semakin sulit untuk kumengerti. Ya .., aku telah masuk dalam dunia cinta dan sampai saat ini aku tak bisa melarikan diri dari dunia cinta. Aku terus menjadi budak cinta, tanpa pernah sedikitpun mendapat imbalan. Aku tahu hal yang aku lakukan ini bodoh, tapi entah mengapa aku terus-menerus patuh dan menuruti semua perintah orang yang aku cintai, yaitu Andy. Mungkin hanya satu alasan untuk itu, aku ingin mendapatkan tetesan air cinta darinya yang mampu menghilangkan dahaga yang selama ini belum kunjung pergi.
Itulah cinta, cinta yang abstrak dan tak logika, sehingga orang yang memiliki cinta juga belum tentu tahu apa artinya cinta.
Aku mengakhiri goresan pulpenku. Akhirnya aku selesai mengerjakan tugas Uji Kompetensi LKS Kimia bab 4. Sebenarnya ini bukan tugas untukku, karena tugasku sudah dikumpul kemarin. Tugas ini adalah milik Andy. Ya .., Andy menyuruhku mengerjakan tugasnya, karena ia tahu pasti aku tak akan menolak. Huh! Walaupun aku capek mengerjakan tugas ini, tapi itu bukan masalah bagiku. Aku berharap …, dengan aku mengerjakan tugasnya, rasa simpatik Andy kepadaku akan semakin bertambah dan ia akan semakin sadar bahwa aku benar-benar mencintainya.
Waktu di jam dinding kamarku telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa kantuk telah menghampiriku. Aku pun bergegas membereskan peralatan tulisku untuk keperluan sekolah besok, dan roster pelajaran untuk besok.
“Nich An, tugas kamu.” aku menghampiri Andy yang baru saja datang.
“Thanks ya Lestari.” Andy memberikan seulas senyuman yang begitu indah. Seperti kata-kata orang yang sedang jatuh cinta pada umumnya, ‘senyummu merobek hatiku’. Senyum Andy rasanya cukup membayar lelahku ketika mengerjakan tugasnya.
“Ri, temenin aku ke toilet yuk.” tiba-tiba Sisy menarik tanganku dengan paksa. Aku hanya bisa pasrah.
“Kamu ngapain ngajak aku ke toilet pagi-pagi begini? Ini sudah bel masuk loh. Kalo Bu Rahma nanti sudah masuk gimana?” ucapku sesampainya di toilet.
“Alah, aku nggak peduli dengan hal itu. Sekarang, yang aku peduliin cuma perasaan kamu.” seru Sisy berapi-api.
“Emangnya ada apa dengan perasaanku? Aku baik-baik aja kok.” ucapku santai.
“Kamu nggak usah pura-pura baik-baik aja. Aku tahu, hati kamu itu sakit Ri. Kamu ngapain masih terus peduli sama dia? Kamu masih mau aja ngerjaian tugasnya Andy. Kamu masih mau aja dimanfaatkan sama playboy seperti dia. Tugas itu kan banyak Ri, apa kamu nggak capek ngerjainnya?” mata Sisy yang sipit menatapku tajam. Aku seperti tahanan di kantor polisi.
“Namanya juga udah cinta. Cinta itu butuh pengorbanan. Cuma ini yang bisa aku lakukan untuknya.
“Iya, aku tahu. Tapi kamu sudah terlalu banyak berkorban buat dia. Dari awal kelas satu sampai sekarang kita sudah mau kelas dua, kamu selalu saja mengharapkannya. Tapi kenyataannya dia tidak juga membalas cinta kamu. Ia hanya cuek-cuek saja. Dan yang buat aku heran, kenapa sampai saat ini kamu masih saja mengharapkannya setelah ia menyakiti temen-teman kamu, yaitu aku dan Ida. Sudah jelas-jelas dia itu playboy.” nada bicara Sisy semakin meninggi.
“Aku tahu itu. Tapi aku benar-benar tulus mencintainya. Aku berharap ia bisa berubah, dan hatinya bisa luluh dengan kekuatan cintaku. Aku juga berharap suatu saat nanti aku bisa memilikinya.” ucapku tenang.
“Ri, dengerin aku, masih banyak cowok didunia ini yang lebih baik dari dia yang juga shaleh, pintar bahasa arab, pintar berpidato, dan lebih ganteng dari dia plus nggak playboy seperti dia Lestari …. Aku bicara seperti ini karena aku nggak ingin kamu jadi korban seperti aku dan Ida.” seru Ssisy. Ia kemudian pergi meninggalkanku. Mungkin ia sudah capek menasehati.
Huh! Sudah berkali-kali nasehat seperti itu menusuk telingaku. Tapi sepertinya hanya masuk kanan keluar kanan, tidak ada yang masuk sedikitpun. Lebih baik juga masuk kanan keluar kiri, masih ada yang nyangkut dikit. Kalau aku berarti sudah parah, tidak ada yang kudengarkan sama sekali karena tidak ada yang nyangkut sedikitpun. Mungkin ada setan yang meniupkan angin agar omongan teman-temanku tidak pernah kudengar. Ya .., jadi itu bukan salahku donk. (salahkan aja setannya. He…he…).
Lagu Astrid ‘Tentang Rasa’ mengalir lembut di telingaku melalui headset. Lagu ini menemaniku sambil menunggu senja tiba. Sang angin juga ikut menemaniku dengan riang yang mempermainkan rambut ikat lautku.
Buku ‘Cinta Kita Beda’, ciptaan Muhammad Nazhif Masykur dan Evi Ni’matuzzakiyah’ berada di tanganku. Tadi siang aku meminjamnya di perpustakaan sekolah. Ya … maklum, kalau sudah hobi membaca, tiada hari tanpa membaca, gitu dech!
Kuatur posisi tubuhku senyaman mungkin di bangku taman untuk mendapatkan kenyamanan dan konsentrasi membaca agar aku dapat menyelesaikan membaca buku itu secepat mungkin. Bila waktu mengizinkan, aku akan melahap buku itu sampai habis saat ini juga.
Tidak terasa senja telah tiba. Matahari telah kembali ke peraduaannya dengan meninggalkan cahaya temaram. Huh! Kuhela nafas panjang. Akhirnya halaman terakhir dari buku itu telah kubaca. Itu berarti, buku itu selesai kubaca.
Aneh! Buku ini membuat pikiranku tenang, dan ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Tiba-tiba aku tersadar dari semua rasa-rasa cinta milik Andy yang membelenggu diriku. Aku begitu merasa bodoh, bodoh sekali, setelah membaca buku ini.
Bodoh, bodoh! Kenapa waktu itu aku mau melakukan semua hal itu untuk Andy? Aku memang begitu bodoh.
Aku mengutuki diriku dalam hati.
Satu persatu pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh penulis dalam buku itu begitu menggugah diriku.
Pandangan itu adalah panah panah beracun dari panah-panah iblis.
Penyataan itu benar sekali. Rasa cintaku tumbuh pada Andy saat aku memandangnya.
Saat MOS berlangsung, tepatnya pada hari ketiga, aku dan Andy secara bersamaan datang terlambat. Oleh karena itu, kakak kelas menyuruh kami untuk mengelap kaca jendela sebagai hukumannya. Dengan terpaksa, aku menuruti perintah kakak kelas itu.
Kemoceng kugerakkan dengan cepat mengikuti bentuk kaca jendela. Aku tidak peduli apakah kaca itu bersih atu tidak, yang penting aku sudah mengelap kaca itu, masalah bersih tidaknya, akhh …, biarkan aja lah.
Tiba-tiba kemocengku menyentuh kemoceng milik orang lain di belakangku. Aku pun langsung menoleh kebelakang. Dan …, dua pasang bola mata akhirnya bertemu. Aku bertatapan dengan mata Andy yang tajam bagai burung elang, dan tatapan matanya yang kian lama kian teduh.
Nach, berawal dari saat itulah aku jatuh cinta pada Andy, teman sekelasku itu, yang mukanya pas-pasan itu. (Eitss, sorry aku keceplosan. Aku nggak boleh bilang begitu seharusnya ... karena, tampangnya yang pas-pasan itu juga pernah membuatku bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya. He…, he…!). Dalam logika Islamnya sich .., aku bisa jatuh cinta pada Andy sejak pandangan pertama itu, karena nafsu setan belaka. Kenapa bisa??? Pada saat pertama kali aku memandang Andy, setan pun memulai taktiknya untuk menggodaku. Setan merasuki pikiranku, dan membuat mataku melihat Andy seolah-olah dialah cowok yang paling ganteng, dan baik.
Semenjak aku jatuh cinta pada Andy, aku menjadi orang yang bodoh, seperti pernyataan berikut:
Seringkali kita kalo sedang punya cinta terhadap sesuatu bisa bikin kita buta dan tuli. Orang yang mencintai tidak melihat seorang pun yang lebih menawan dari orang yang dicintai. Betul gak?
Betul banget! Karena cinta Andy, aku jadi buta dan tuli. Padahal banyak cowok yang lebih baik, shaleh, dan ganteng dari Andy. Dan yang pastinya tidak seperti Andy yang hanya memanipulasi orang dengan keshalehannya itu untuk merebut hati para wanita. Aku juga tuli karena tidak pernah mendengarkan perkataan teman-temanku. Kenapa baru sekarang aku tersadar akan hal itu ya? Selama ini aku kemana aja????
Jika sedang jatuh cinta, sering kali kita menendang akal sehat kekeranjang sampah di samping rumah. Yang kita pake hanya perasaan semata. Nach, tuch! Kita selalu menilai baik dan buruknya dengan standar hawa nafsu kita.
Akal sehatku sudah ada di kerajang sampah ketika cinta mulai menghampiriku. Aku selalu menilai apapun yang kulakukan hanya dengan perasaan dan nafsu. Oleh karena itu, ketika Andy memanfaatkanku, aku hanya menilai hal itu sebagai pengorbananku untuk mencintainya. Tapi alhamdulillah, sekarang akal sehatku sudah kuambil dari keranjang sampah dan juga sudah kubersihkan dari pikiran-pikiran bodoh itu.
Gara-gara aku jatuh cinta pada Andy, aku menjadi manusia yang menderita karena cinta.
Menderita karena cinta, mungkin itu cocok untuk temen-temen yang lagi kejatuhan cinta. Konon kabarnya bagi insan yang lagi kesandung cinta “wajib” untuk berkorban, ya… korban harta, korban perasaan, bahkan sampe korban kehormatan… (kalo itu mah … jatuh beneran namanya). Air mata adalah teman yang biasa mendampingi, korban cinta. Saat kangen sama do’i atau ketika lagi sedih mikirin dia.
Entah sudah berapa ribu liter air mata yang tertumpah untuk mengiringi kita punya cinta.
Aku menyesal telah mengeluarkan begitu banyak air mata untuk Andy, tidak ada gunanya. Sekarang, air mataku ini mahal harganya. Jadi, aku tidak akan mengeluarkannya untuk hal yang tidak penting lagi seperti cinta.
“Syetan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syetan itu tidak menjanjikan (apapun) kepada mereka selain tipuan belaka.” (Q.S. An-Nisa:120)
Pernyataan itu membuat aku semakin yakin dan sadar bahwa cintaku kepadaku Andy hanyalah cinta sesaat yang diiringi oleh hawa nafsu belaka yang diumbar oleh setan.
Pacaran kok cita-cita.
Aku tertawa sekaligus tersindir oleh pernyataan itu. Bagaimana tidak, aku memang pernah bercita-cita jadi pacarnya Andy. Ha …, ha …, pantesan aja anak remaja zaman sekarang tidak maju-maju. Yang dipikirkan cuma cita-cita untuk pacaran. (Eh, kalo aku uda nggak termasuk, karena cita-citaku sekarang jadi dokter, bukan pacaran. He …, he …).
Alhamdulillah …, untung saja aku tidak sempat pacaran dengan Andy si cowok berengsek itu.
Aku bertanya kepadamu, dimana letak kehalalan pacaran kalau yang hadir dalam pikiranmu sesuatu yang diharamkan oleh Allah, yang hanya jadi angan-angan tanpa makna?
“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang dahaga, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapatkan sesuatu apapun ……”(Q.S.An-Nur:39)
Ternyata selama ini, air yang jernih dan segar yang kuharapkan dari cinta milik Andy hanyalah fatamorgana. Semakin kudekati air itu …, air itu semakin menghilang. Akhirnya aku hanya melakukan hal yang sia-sia. Aku sudah lelah mendekati air itu, tapi aku hanya mendapatkan lelah yang tak berujung dan dahaga cintaku semakin membara.
Seharusnya dari dahulu aku sadar, bahwa cinta yang baik adalah cinta kepada Allah yang abadi dan begitu banyak memberi manfaat bagi orang yang mencintainya. Bila aku benar-benar mencintai Allah, pasti aku akan mendapatkan air yang dapat menghilangkan dahaga cintaku itu, yang selama ini aku cari-cari.
“Emmmm …” kedekap buku ‘Cinta Kita Beda” di dadaku. Rasanya buku ini mampu memberikan hikmah dalam hidupku. Sesuai dengan slogan penerbit Pro-U Media, yang menerbitkan buku ini, ‘menggugah hidupmu’. Hidupku benar-benar tergugah setelah membaca buku ini.
Thanks my God …, kau telah memberika hidayah-Mu untuk hamba melalui buku ini.”



0 komentar:
Posting Komentar