Jumat, 17 Desember 2010

Berpisah Itu Artinya Berbeda

Sudah dari SMA aku sangat ingin memasuki dunia teater, tapi karena ada sesuatu hal niatan itu terhenti begitu saja. Tapi, setelah memasuki perguruan tinggi, aku begitu antusias karena ada teater di universitasku. Dari awal memasuki perguruan tinggi  (ospek) aku sudah mencari informasi mengenai teater, mulai dari majalah yang di berikan saat aku mulai memasuki PTN tersebut. Dan...., alhamdulillah aku menemukannya.... Tapi sebagai mahasiswa baru, aku butuh pengarahan dari seseorang untuk memberikan arahan terbaik mengenai minatku itu. Aku menghubungi mentorku, aku menemuinya secara langsung dan mengkonsultasikan minatku itu dan alhamdulillah mentorku mempunyai kenalan seorang aktivis yang bergelut di bidang itu.  Aku hanya di beri informasi saja, contac personnya menyusul, itu kata mentorku karena aku masih dalam kegiatan ospek. Nama teater itu adalah “teater langit”, mendengar namanya saja aku begitu penasaran sekali untuk segara bergabung di dalamnya, menyemarakkan bidang keseniaan  di Indonesia ini, khususnya teater.

Kira- kira pada ospek kedua,  fakultasku masih mengadakan ospek fakultas dan jurusan. Tapi pada sore hari kami nanti akan melaksanakan ospek universitas yang diadakan di Samanta Krida. Ketika sudah waktunya, fakultasku bersiap untuk menghadiri acara itu. Setelah aku memasuki Samanta Krida itu, hatiku sangat berbunga-bunga ketika melihat di spanduk bahwa ada penampilan teater langit di acara Resque itu, mulai dari acara pertama aku sangat menunggu – nunggu pementasan dari teater langit. Aku sungguh tidak sabar melihatnya. Di spanduk itu ada tulisan yang menunjukkan dua pementasan yaitu nasyid dan teater langit tentunya. Grup nasyid sudah tampil dan tentunya penampilan teater langit yang akan tampil selanjutnya. Tapi sudah menginjak acara terkhir, penampilan itu sungguh benar-benar tidak ada. Aku sangat kecewa karena itu, di dalam hatiku aku sangat merasa di bohongi oleh acara itu. Tapi setelah aku telusuri, ternyata penampilan teater langit itu saat gelombang pertama yaitu pada pagi hari, dan fakultasku termasuk pada gelombang kedua yang mendapat fasilitas nasyid.

Pada ospek terakhir, semua fakultas di beri tugas untuk mencari tanda tangan ke UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) minimal 10. Sudah ada stan – stan UKM di depan rektorat. Dan hari itulah yang aku tunggu- tunggu yang nantinya aku bisa bertemu dengan teater langit langsung di UKM nya. Aku mencari stan teater itu, dan akhirnya pada siang hari aku menemukan stan itu. UKM teater itu namanya X, aku langsung bertanya – tanya mengenai teater di stan itu. Aku sangat tertarik dan akhirnya aku sepakat untuk bergabung dengan teater itu. Setelah ku mantapkan azzam itu, aku menghubungi CP yang tertera pada selebaran teater X itu. Sekitar seminggu kemudian aku di hubungi untuk acara perkenalan sesama anggota teater X itu. Tentunya aku tidak mneyiakan – nyiakan kesempatan itu, acara itu dilaksanakan pada pukul setengah 4 sore. Aku masuk ke sanggar dengan hati yang berbunga – bunga. Aku melihat sudah sekitar 4 anak yang berada di dalam sanggar itu. Aku juga melihat ada 4 kakak, yang mungkin mereka akan menjadi pembina kami. Setelah kami selesai berkenalan, salah satu kakak menjelaskan kegiatan yang akan kami ikuti selama mengikuti organisasi teater ini. Aku tentunya sangat antusias mendengarnya. Tapi sebenarnya aku tidak nyaman berada di lingkungan itu, karena salah satu kakaknya merokok di ruangan itu. Ruangan yang kira-kira hanya 3 × 4 itu terasa begitu sesak dengan asap rokok itu. Adzan Magrib telah berkumandang, tapi perbincangan itu tetap saja masih berjalan. Aku tak bisa menegur saat itu, aku hanya diam mendengarkan adzan yang berkumandang. Setelah itu aku izin pulang, walau kegiatan itu belum selesai. Setelah keluar dari tempat itu, entah mengapa aku merasa lega sekali, keadaan yang aku rasakan saat itu seperti narapidana yang baru keluar dari penjara yang begitu bahagia merasakan kebebasan. Setelah beberapa hari kemudian atau sekitar seminggu aku mendapatkan jarkom lagi untuk hadir dalam agenda perkenalan anggota lagi dan acaranya pun berlangsung pada pukul setengah empat sore lagi. Tapi yang namanya rakyat indonesia pasti tidak kenal yang namanya tepat waktu, hal yang sudah menjadi tardisi di Indonesia yang sudah di turunkan kepada  generasi selanjutnya. Acara itu di mulai sekitar pukul 5 sore di karenakan menunggu anggota lainnya. Seperti pertemuan yang pertama, aku sangat tidak nyaman berada disana, seperti bukan lingkunganku saja. Tapi aku mencoba untuk menguasai diriku sendiri, aku disini karena satu tekad yang telah terpatri dalam hatiku, dan aku harus bisa melalui semua itu dengan ikhlas. Sambil menunggu acara di mulai aku berkenalan dengan salah seorang aggota baru juga. Di sela – sela perbincangan kami, dia menanyakan kepadaku kenapa tidak mengikuti teater langit saja, melihat penampilanku seperti itu. Teater langit memang mayoritas aggotanya mengerti mengenai agama. Mendengar pertanyaan itu, aku merasa tercengang sekali dan kembali ku tanyakan kepada temanku itu.

“ Bukankah ini teater langit ya ???????” tanyaku penasaran.
“ O.... bukan, ini teater X namanya, teater langit itu mungkin dari organisasi UAKI( Unit aktivis Kerohanian Islam)”.

Mendengar penjelasan dari temanku itu. Hatiku semakin tak karu - karuan, karena dari awal persepsiku itu bahwa teater langit itu nama teater dari UKM KUTUB. Karena hatiku sudah benar – benar tidak bisa di kendalikan, akhirnya aku minta izin undur diri. Aku pulang dengan hati bertanya – tanya. Aku menghubungi mentorku dan menanyakan kejelasan mengenai teater langit itu. Mentorku itu mengatakan lewat smsnya bahwa  teater langit itu memang bukan dari UAKI juga bukan dari Universitas, tapi teater langit itu merupakan teater Malang yang cakupannya semua mahasiswa Malang dan otomatis anggotanya pun tersebar di beberapa Universitas di Malang. Membaca penyataan mentorku ini aku sangat kecewa plus senang. Mengapa...????, aku kecewa karena mentorku dulu tidak memberikan informasi secara akurat dan aku senang karena aku nantinya bisa bergabung serta berbaur bukan hanya anak – anak dari Universitasku saja, tapi bisa lintas Universitas lain. Aku pun tak lupa mengucapkan terimakasih pada mentorku yang telah membantuku dalam menyalurkan minatku ini. Tapi masih ada sesuatu yang terganjal dalam hati ini. Aku terlanjur janji pada salah satu anggota teater X untuk mengajariku mengenai puisi karena kira- kira bulan November aku akan mengikuti lomba baca puisi. Bukan karena ketidakinginanku untuk belajar bersama mereka tapi nantinya pasti latihan di adakan di sanggar Teater X yang lingkungannya kurang nyaman buatku. Akhirnya aku datang saat ada jadwal pertemuan Teater tersebut, dan lagi – lagi pertemuan itu baru dimulai sekitar jam setengah lima sore, telat satu jam dari yang di jadwalkan. Tapi aku mencoba untuk mengerti, setelah semuanya berkumpul aku di minta untuk membaca puisi di depan mereka semua dengan caraku sendiri. Aku mulai membacanya tapi aku agak sedilit malu karena kebanyakan yang di sana adalah kaum pria. Tapi aku mencoba untuk fokus dan memulai membacanya dengan penuh penghayatan. Puisi itu berjudul Negeri Impian. Setelah aku selesai membacanya aku di suruh menjelaskan esensi dari puisi tersebut, dan aku pun menjelaskan sebatas yang aku pahami dari puisi tersebut. Pada tahap berikut, penampilan dan caraku berpuisi di kritisi oleh pembina teater itu. Setelah itu, aku di ajak salah seorang dari kakak teater itu untuk keluar dari sanggar itu. Beliau menjelaskan kepadaku mengenai teknik membaca teater yang benar. Setelah itu aku mempraktekannya. Adzan magrib pun berkumandang, kewajiban seorang mulimpun harus di tunaikan. Aku mendengarkan adzan secara khitmat, aku mencoba menasehati kakak itu untuk menghentikan penjelasannya dan mengikutiku mendengarkan adzan. Tapi nasehatku tak di hiraukan sama sekali, malah beliau berbincang- bincang dengan teman yang baru saja menyapanya. Aku kemudian undur diri untuk melaksanakan sholat magrib, tapi dia menghalangiku untuk undur diri dengan alasan menanyakan kesungguhanku untuk belajar puisi. Tapi aku tetap teguh untuk undur diri serta mempertegas bahwa aku sungguh – sungguh ingin belajar puisi itu. Akhirnya dia mempersilakan aku undur diri. Tak sampai di situ, aku juga mengajak kakak – kakak yang di sanggar untuk sholat berjamaah di masjid, karena memang letak sanggar itu dekat dengan masjid. Tapi sudah bisa kutebak, mereka tak memperduliakan ajakanku, dengan alasan akan melaksanakan sholat di sanggar. Aku pun pulang dengan langkah kaki yang ku percepat, karena aku tak mau ketinggalan sholat magrib berjamah. Setelah kejadian itu, aku meneruskan misiku untuk bergabung dengan teater langit. Karena aku yakin bahwa nantinya lingkungan sangat berpengaruh sekali terhadap perilakuku kedepan. Dan kuputuskan untuk tidak bergabung lagi dengan teater X, karena menurut Salim A. Fillah dalam karyanya “Gue Never Die”  dijelaskan bahwa berpisah artinya berbeda. Disitulah aku tertarik, karena beliau mengarahkan kita untuk berbeda, dalam hal ini aku mengambil contoh mengenai teater ini. Walaupun misi kami sama( aku dan teater X), tapi perbedaan diatas yang membuatku untuk berpisah, dan menjatuhkan pilihan ke teater yang memiliki visi dan misi yang sama denganku. Dan hari itu juga aku mengirim sms kepada salah satu aggota teater langit untuk menyatakan keinginanku bergabung dengan teater tersebut. Setelah selang beberapa hari kakak dari teater langit itu memberiku kabar bahawa hari itu ada latihan teater karena teater tersebut akan melaksanakan pementasan yang di jadwalkan pada 10 Oktober. Pada hari itu juga aku berniat untuk mengikuti latihan tersebut, tapi aku berangkat sendiri karena kakak dari anggota teater langit yang seharusnya mendampingiku tidak bisa mengantarkanku. Berbekal rasa sok tahu, aku berangkat menuju basecamp teater itu yang letaknya lumayan dekat dari tempat indekosku. Kakak teater langitpun cuma memberi alamat yang kurang lengkap, sehingga aku yang hanya berjalan kaki ini bolak – balik melintasi kawasan yang di informasikan oleh kakak itu. Hampir satu jam aku mencarinya dan juga menanyakan alamat itu pada orang – orang yang ku temui. Basecampnya bernama Avatar, dan orang – orang yang aku tanyai belum pernah dan tidak tahu alamat itu. aku mencoba menghubungi kakaknya lagi, tapi smsku berisi bahwa aku tidak jadi mengikuti latihan itu karena hari sudah sore. Kakaknya menanyakan posisiku dimana, tapi karena hari sudah petang aku memutuskan untuk tidak mengikuti latihan itu. beberapa hari kemudian aku mendapatkan sms bahwa besok sore ada latihan teater yang bertempat di gazebo Fakultas Kedokteran. Karena besok aku masih ada kegiatan krida mahasiswa, aku minta izin datang telambat. Keesokan harinya setalah kegiatan krima(krida mahasiswa) selesai aku langsung beranjak menuju gazebo FK. Setelah tiba di TKP yang kulihat hanya 1 orang pria yang berada di sana. Aku menghampirinya, dan memang betul beliau adalah anggota teater langit. Aku berbincang-bincang dengannya, setelah cukup lama berbincang- bincang aku ditawari untuk menjadi pemain dalam pementasan itu, tanpa fikir panjang aku langsung menerima tawaran itu. Aku berperan menjadi Aisyah, gadis yang lemah lembut dan religius. Keesokan harinya kitan latihan lagi di tempat yang sama, karena hari pementasan sudah hampir dekat. Aku sangat nyaman di sana, karena di waktu magrib datang, kami langsung dikomando untuk melaksanakan kewajiban kita, dan setelah itu kami akan melanjutkan latihan kami lagi. Kebanyakan anggota dari teater itu adalah mahasiswa Brawijaya yang juga mahasiswa baru. Kami melakasanakan teater sampai  sekitar jam 8 malam.

Hari yang ditunggu sudah datang, kami akan tampil pada acara FKUB Award pada tanggal 10 Oktober. Dilihat dari persiapan kami, nampaknya memang kami sudah siap menampilkan apresiasi terbaik kami. Sekian lama akhirnya aku dapat pentas di depan orang banyak. Rasanya memang sungguh luar biasa, apalagi tampil di fakultas sendiri, membuatku semakin tertantang dan ingin menyajikan penampilan yang terbaik. Acara di mulai pada jam setengah dua sore, tapi kami di jadwalkan tampil sekitar  jam dua. Sebelum tampil kami harus bermake up ria dulu, agar nanti waktu pementasan, kami bisa memberikan yang terbaik dari apresiasi kami. Setelah waktunya, kami pun segera memasuki panggung dan memulai pementasaan. Alhamdulillah respon dari penonton di luar dari dugaan kami, acara sukses besar dan kamipun pulang dengan rasa kepuasan tersendiri. Setelah pementasan itu, kami, aggota teater langit belum mengadakan pertemuan lagi. Akhir bulan Oktober secara tidak sengaja aku berpapasan dengan kakak dari teater X saat pulang dari kuliah. Saat berpapasan, kakak itu menyapaku, tapi aku menghiraukannya karena aku tidak merasa kenal dengannya. Aku pun tetap mengayuh sepedaku, sedangkan kakaknya mengendari sepeda motor. Akhirnya kakak itu memberhentikanku dengan sepeda motornya, dan langsung menanyakan kepadaku mengenai keberlanjutanku mengikuti teater X tersebut.

“dhek, kapan ke sanggar lagi?”
“Maaf mas sekarang aku tidak ikut teater X ”
Aku sedikit tidak enak hati kepadanya, tapi ini hidupku, aku yang berhak menentukan alurnya.
“kamu ini Cuma datang ke sanggar klo ada butuhnya saja”

Kakak itu mencoba mengungkit kembali pembinaan puisi yang aku minta dulu. dan aku Cuma bisa menyangkal pernyataannya. Aku memang keluar dari teater tersebut karena ada maksud di balik itu. tapi aku tidak mengungkapkannya. Aku hanya bilang bahwa sekarang aku sudah masuk di teater langit. Pernyataanku ini membuat dia sudah tidak mempedulikan aku lagi. Dan kakak itupun pergi dengan sepeda motornya. Entah apa yang ada dalam hatinya. Tapi kejelasan ini membuatku lega dari semua gejolak  yang pernah timbul antara aku dan Teater X tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More