This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 31 Desember 2010

Dahsyatkan Mimpimu


Oleh: Dewi Kartika

Assalamu’alaikum sahabat….
Sejak lama aku ingin mengungkapkan bahwa aku ingin seperti Spiderman. Hehe. Bukan semata karena dia seorang super hero. Tapi karena dia yang bertanya pada dirinya sendiri, mencari jati diri, mengenali dirinya dengan sebuah pertanyaan, “Who am I?”

Tapi aku tidak bisa menjawab dengan kalimat yang sama, “I am a spiderman” sepertinya. Memang I’m not a spiderman…tapi dalam jiwa ini sudah terpaku banyak impian dan seharusnya full semangat. Semangat untuk berprestasi, insya Allah. Semoga inilah salah satu jawabannya.

Kisah ini aku awali dengan dunia organisasi yang menemani seorang akhwat dalam menuliskan rangkaian impiannya. Kartika. Begitu sebagian orang memanggilnya. Dia tuliskan tiga puluh tiga impian utama yang ingin segera ia wujudkan. Mungkin orang bilang dia terlalu berangan tinggi atau terlalu berharap. Mungkin orang bilang dia berpikir untuk melakukan sesuatu di luar kapasitasnya. Mungkin orang bilang dia terlalu muluk atau aku pun membenarkan kalau orang lain menyebutnya sebagai orang gila. Tapi Kartika menyebut ini semua sebagai mimpi yang dahsyat! Tak apa…satu per satu impian yang dia tulis dapat terwujud. Toh ini semua adalah sebuah impian dan cita-cita.

Kuingat benar, 15 September 2008 ketika OSIS SMK N I Tempel, Sleman membuka lembaran menuju masa bakti 2008/2009. Pada hari itu diadakan orasi pemilihan ketua OSIS. Terdengar dari kejauhan, “Jangan memilih saya. Pilih saja siapa yang menurut teman-teman yang terbaik. Saya hanya orang biasa dari kalangan biasa. Namun saya ingin sekali melakukan hal yang luar biasa untuk mendahsyatkan potensi kita semua. Di sini kita memiliki Erni. Teman yang luar biasa, pekerja keras, semangat dan mampu menjadi pemimpin yang hebat, insya Allah. Pilihlah yang terbaik menurut teman-teman,” ucap Kartika dalam rangkaian orasinya.

Orasi pagi itu menjadi ger…karena kandidat sebelumnya bernama Erni Purnama Sari juga menyampaikan untuk tidak memilih dirinya dan pilihlah ‘Kartika’. Tidak seperti dalam pemilihan ketua yang lain yang dalam orasinya mengatakan, “Pilihlah saya.” Spesial untuk ketua OSIS di SMK ku kandidatnya secara tidak langsung diajukan oleh teman sesama anggota OSIS, kakak angkatan, dan saran dari dewan guru. Bukan berdiri dan mengajukan diri.

“Apa yang Anda maksudkan dalam moto Anda?” tanya seorang pendengar dengan almamater universitasnya pada Kartika.
Sisi hatinya mulai bergetar lagi, deg-degan maksudnya…hehe, “Terima kasih…sebenarnya inilah pertanyaan yang saya nanti,” sejenak Kartika menghela napas panjang dan mecoba tersenyum untuk mengurangi pucat pasi wajahnya, “Moto ini saya ambil dari buku yang berjudul Zero to Hero karya Solikhin Abu Izzudin. Small is beautifull, medium is wonderfull and big is powerfull.

Small is beautifull, ketika posisi kita kecil, tetaplah menjadi diri sendiri. Kita justru tidak terpengaruh dengan kebesaran orang lain dan berprestasi sesuai dengan kemampuan kita. Medium is wonderfull, ketika kita ada di posisi tengah-tengah. Keberadaan kita tidak begitu terlihat, maka berputarlah, bergeraklah memberi kontribusi. Big is powerfull, ketika kita ada di posisi yang besar, yang tinggi maka maksimalkan segala potensi. Ada di manapun posisi kita, harus tetap bersemangat dan berprestasi! Sekali lagi, small is beautifull, medium is wonderfull and big is powerfull! Thing fresh…do the best!” Gemuruh keriuhan mulai terdengar lagi dari area panggung.

Hari itu juga diadakan pengumpulan dan perhitungan suara. Aku tak bisa menyampaikan apa-apa pada Kartika kecuali ucapan selamat dan semangatlah berjuang. Semoga Kartika dapat menjadi pemimpin yang kokoh dan tsabat sikapnya, lapang dadanya, dalam pemikirannya, luas cara pandangnya, rajin amalannya, solid penataan organisasinya dan bermanfaat bagi sekelilingnya.

Ada pertanyaan yang terlewat oleh audience, “Mengapa harus buku Zero to Hero?” Maka Kartika pun akan menjawab bahwa buku itu sangat berpengaruh dalam hidupnya. Kartika adalah akhwat biasa, dari kalangan biasa. Bahkan ada yang menyepelekan kemampuannya atau juga menghinanya. Namun apakah kekurangan harta serta merta menjadikan manusia hina? Apakah status sosial menjadikan manusia berkedudukan lebih tinggi dan lebih rendah di hadapan Allah azza wa jalla? Bukankah Allah SWT akan melihat pada tingkat keimanan seseorang?

Aku sangat mengerti pergolakan hatinya. Ketika dia mendapat terpaan dari beberapa kalangan justru di saat itulah dia menambah manufer dalam hatinya untuk lebih kuat. Tapi aku akui dia memang masih sering menangis. Menangis karena harapan banyak orang agar ia melakukan ini dan itu terasa sangat berat dan tak kuasa ia penuhi. Tapi di situlah pembelajaran langsung dari Allah SWT agar manusia menjadi lebih kuat dan lebih dewasa. Semangatlah Kartika, you can do the best ! Biarkan dunia berkata apa, balaslah dengan senyuman manis dan pembuktian…bahwa you can do every thing! Insya Allah.

Hamparan perjalanan terbentang luas. Masa bakti 2008/2009 menjadi penuh makna bagi Kartika dan teman-temannya. Banyak kisah haru dan bahagia. Namun akhwat itu tidak berjalan sendiri. Ada banyak kawan yang selalu bersemangat. Mereka adalah pribadi yang luar biasa! Mereka adalah keluarga yang dahsyat! Percayakah mereka jika Kartika mengatakan bahwa ia sangat mencintai teman-teman seperjuangannya? Sangat mencintai mereka.

Small is Beautifull…
Medium is Wonderfull…
Big is Powerfull…
Thing Fresh Do The Best!!!

Moto itu tak pernah lekang, justru semakin menguat. Setiap even speech selalu terdengar rangkaian kata itu dengan gemuruh semangatnya. Tak hanya itu, moto full spirit tersebut juga ditempel di ruang OSIS, ditulis di kalender dan sebagainya. Moto untuk ‘Thing Fresh Do The Best’ juga menemani kami para siswa mengikuti berbagai perlombaan. Bergema dalam berbagai ajang. Bukankah tulisan dan ucapan akan membentuk mind set seseorang? Bahkan ada salah satu guru yang meminta agar Kartika mengajari calon ketua OSIS berikutnya memilih moto seindah rangkaian Abu Izzudin itu.

Tak hanya sekedar moto sebenarnya, kata kunci yang dapat diambil adalah ‘Bermimpi dan Berprestasi’. Dan…impian Kartika selanjutnya adalah KULIAH. “Aku ingin kuliah…” teriaknya dalam hati. Kenapa hanya dalam hati?

Ya. Karena sepertinya tidak ada yang percaya bahwa akhwat ini mampu masuk suatu universitas. Bahkan kedua orang tuanya. Tidak ada dukungan dari siapapun. Karena Kartika harus bekerja setelah lulus nanti. Membantu keluarga menopang kehidupan. Karena dia harus menggantikan kakaknya mencari penghasilan. Karena adiknya masih membutuhkan dirinya agar dapat bertahan sekolah. Agar orang tuanya dapat berhenti bekerja dan menikmati kehidupan mereka. “Hamba ingin kuliah, Ya Allah….” Tapi tak apa. Sabar ya. Dahsyatkan dirimu! Zero to hero!

Apapun itu Allah SWT memang maha baik dan benar-benar baik. Seakan Allah sudah menanamkan keyakinan bahwa dirinya akan kuliah. Dia mampu kuliah. Meski Kartika tak tahu bagaiman caranya. Jalan mana yang akan mengantarkannya. Tapi keyakinan dan mimpi itu begitu merasuk dalam! Sekedar ambisi kah atau benar-benar datang dari sang pencipta melalui kemauan merangkai mimpi? Wallahu’alam.

Ayo dahsyatkan mimpi kita dan jadikan kenyataan! Butuh waktu berapa lama? Bertahun-tahunkah? Bukan rentang waktu yang menentukan, tapi semangat membara dalam dadamu itu yang akan menjadi saksi.

Sahabat….
Sedikit kisah tentang Kartika. Apakah kita merasa kemampuan kita terbatas? Itu bukan masalah! Sebab bila di tengah keterbatasan itu kita mampu mendahsyatkan diri untuk meraih prestasi tinggi, itulah kepahlawanan sejati. Zero to Hero! (Ini tulisan di sampul bukunya…hehe.)

Ya. Terima kasih Kartika atas inspirasimu. Sekarang aku bisa sedikit menjawab pertanyaan Spiderman, hehe. Who am I? Now I’m still a student. I graduated from SMK N I Tempel, Sleman, Yogyakarta and continue my study in Gadjah Mada University, majoring in accounting. I still have many dreams, guys! GOLD MEDAL for my lovely university! And let’s go to HARVARD UNIVERSITY…to learn more. One sentence again to answer, please! Who am I? I am KARTIKA.

Terima kasih Ya Allah, hamba mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Dahsyatkan mimpimu!

Kamis, 30 Desember 2010

Let's


Oleh: Maryam Lathifah

Bukan membaca sebuah buku terbitan Pro-U, tetapi membaca pengumuman lomba melalui Website Pro-U.Ada satu hal yang kemudian terbesit dalam ingatan saya.Kisah hidup yang sebenarnya cukup panjang untuk diceritakan, namun bisa menjadi lebih pendek dari bait puisi karena banyak yang disembunyikan.Way of life to be the Winner(Way to Win).

Bertandang jauh pada kurun yang telah lampau, tak pernah ada salahnya.Bermain sekejap dalam memoar peristiwa yang mungkin menyakitkan pun tak pernah keliru.Saya rasa itu pantas sepanjang kemampuan manusia untuk membaca makna dibalik peristiwa masih tajam.Sepanjang ada pelajaran yang ingin dipetik, dan diwujudkan menjadi buah yang harum wanginya, manis rasanya, dan sedap sajiannya.

Menghadapi ujian hidup tidak cukup hanya menuliskan jawaban dengan benar, tetapi lebih dari itu Bagaimana menemukan cara baru menghadapi kehidupan (Solikhin Abu Izzudin, 1428H:41)

Permulaan bermain dalam usia SMA selalu diwarnai ceria.Mungkin banyak yang berpendapat demikian karena SMA bukan masa yang mudah dilupa.Bersemi, mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana para pencari jati diri itu telah menemukan sosoknya.Begitupun dengan diri saya.Ada satu keasyikan yang membuat saya sadar tentang siapa saya, dan untuk misi apa saya ada.Hmmm..terdengar sangat Lebay kawand.Tapi harus diungkapkan bagaiman lagi?

Kenyataannya, saya bukan orang yang pandai bermain lisan.Lidah ini selalu kelu untuk bicara terlampau banyak dan terbuka, pada orang-orang yang tidak saya kenal dan tidak mengenal saya.Sebisa mungkin saya selalu menghindar dari kumpulan orang-orang yang paling suka berbicara.Terlebih diantara orang-orang yang ‘omdo’.Just talk no action.tampaknya, persepsi ini telah mengawali karier kesendirian saya dalam pergaulan selama tahun-tahun sejarah di SMA.Pendiam, tertutup, misterius, dan segala macam label yang mebuat saya merasa lebih nyaman jika berada dalam kesendirian.(Eitss..tapi tunggu dulu,bukan berarti secara otomatis saya terkucilkan Lho.Saya masih tetap punya teman kok..masih tetap disapa dan masih tetap berorganisasi, meski tanpa ruh kesungguhan).

Nah, coba tebak!Kalau teman-teman jadi saya, apa yang ingin teman-teman lakukan.Di tengah-tengah keramaian yang hiruk pikuk:
“Eh tahu nggak, di-tuuut-ada diskon gede-gedean lho!”
“Nanti siang jadi makan-makan khan?”
“Ya Ampun dia tuh ganteng banget.Aku ngefansss..”
“Lihat sinetron tadi malam nggak?bla…bla…bla…”
“Jeng!ulangan nanti contekin ya!”
“Waduh lupa belum belajar nih!kemalaman lihat konser!”

Teman-teman ingat?jika sudah begitu apa yang ingin teman-teman lakukan?Berkumpul bersama teman-teman Rohis?Sudah pasti.Tapi lagi-lagi saya terbentur dengan persepsi mematikan.Less talk. Tidak banyak yang bisa saya lakukan dalam kelompok Rohis.Hanya ada mendengar dan datang pada syuro-syuro dan kegiatan keislaman.Bagus,tetapi tanpa ruh tak akan ada artinya.

Saya mulai benar-benar terganggu.Ada keinginan untuk berdamai dengan kondisi dan mulai membaur tanpa harus melebur.Mulai kagum dengan orang-orang yang pandai berbicara di depan public dan mampu menggaet simpati dari gaya bicaranya.Ingin berubah sebagaimana baja hitam merubah dirinya.Tidak ada yang pernah tahu pergumulan batin ini.Saya benar-benar dikungkung oleh dilemma dan kegelisahan.

Sejak itu mulailah saya tertarik membaca buku-buku inspiratif..Menggugah hidup.Seven Habits, Change now dan buku-buku lain yang nampaknya menarik dan mampu membuka pintu kungkungan dilemma yang saya alami. Tapi kawand, ada satu buku yang beberapa kata-katanya masih tertulis rapih dalam barisan notes kecil milik saya.Tercatat tanpa tanggal pada tahun 2007 lalu:
I
Tiga penyebab kebinasaan:
Kekikiran yang dipatuhi;
Hawa nafsu yang dituruti;
Dan ketakjuban terhadap diri sendiri.(H.R.Thabrani)
-Way to win hal.62-
Maka saya mulai diingatkan.pada kondisi hati semacam apa saya harus melangkah, jiwa seperti apa saya harus berakhlak, dan perasaan hina pada siapa saya harus letakkan.

II
Adapun sebaik-baik kamu adalah:
Yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya;
Yang panjang umur dan baik amalnya;
Yang paling baik akhlaknya;
Yang paling menyayangi keluarganya;
Yang bermanfaat bagi sesama.(sebuah hadist)
-way to win hal.65-

Kutipan ini mulai membuat saya sadar akan orientasi hidup yang tidak lebih dari untuk mengabdi(beribadah).Tentang pengabdian yang menomor satukan akhlak terhadap sesama makhluk.Sebab Rasul SAW pun diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.Maka saya mulai menyibukkan diri untuk belajar tentang sebuah pedoman.(way of life-Al Qur’an).Belajar untuk memanfaatkan umur.Belajar untuk menyayangi, belajar untuk berbuat bagi siapapun dan semuanya adalah dalam rangka penyempurnaan akhlak.Meski siapapun akan sadar bahwa kesempurnaan akhlak Rasul tak akan pernah sanggup digapai, setinggi apapun ia meniti.Berawal dari detik itu saya mulai berubah.Tidak sepenuhnya.

III
Kegagalan kita terjadi karena:
Saat rencana dan gagasan hanya jadi sekadar mimpi,
Tanpa ada langkah untuk realisasi.
-way to win hal.66-

Sebelumnya saya memiliki mimpi.Mimpi untuk menjadi penulis yang ‘baik’.Tapi saya selalu takut untuk mengawang.apa kata orang tentang tulisan saya, bagaimana sikap orang setelah tahu bagaimana buruknya tulisan saya, dan segala macam persepsi negative yang bersumber dari imajinasi rasa takut tanpa sebab.Maka saya mulai bereksperimen menjelajahi segala macam tulisan.Saya mulai benar-benar menemukan keasyikan saat menumpahkan tinta untuk menjadi cetak biru dalam sejarah kehidupan saya pribadi.Hanya untuk saya saja.Tetapi realita menjawab lain.Saya tertakdir untuk mengikuti beberapa kali lomba menulis dan saya menang.Meski bukan pemenang utama, tapi setidaknya, angka dua telah mulai membuka lembaran baru dalam hidup saya.Saya mulai mencoba terbuka meski masih dalam tinta.Saya mulai tersenyum.dan setidaknya detik ini telah berbeda jauh lebih baik dibanding apa yang saya rasakan dulu.Benar-benar sakura telah berkembang.

Yang terakhir kawand, ini adalah catatan terpanjang dalam notes kecil saya.Begini tulisannya:
IV
Hadiah Nasihat
“Sesungguhnya Alloh menghendaki agar setiap Muslim bagaikan singa.Maka jangan sekali-kali Muslim bagaikan kucing.Sesungguhnya Dienul Islam adalah agama kepahlawanan, yang membentuk manusia berjiwa jantan, ksatria dan merdeka.Maka jadilah Muslim yang merdeka.Keislaman dalam dirinya adalah laksana lautan, maka tinggalkanlah segala fatamorgana yang ada.”
(abdul Qadir Abu Faris, Tashawur Islami, hlm.69)
-way to win hal.93-

Berubahlah kawan sebagaimana kucing menjadi singa.Saya pun tidak setangguh yang kawan-kawan bayangkan.Hingga detik ini, sedikit banyak saya masih sama dengan yang dulu.Saya hanya mencoba bersikap lembut pada diri saya sendiri.Berusaha bersabar karena berubah tak semudah membalikkan telapak tangan.

Semoga kawan, generasi-generasi muslim muda akan bangkit.Sebagaimana singa yang terbangun dari tidur panjangnya.Menggoyang kesadaran kafir.Menciutkan kepengecutan Munafiq.Dan semoga Alloh SWT menjadikan kita termasuk dalam jajaran pengikut Muhammad Rasululloh SAW yang paling setia, dan lurus aqidahnya.Amiin.

Dekapan Ukhuwah di Puncak Lawu

Oleh: Ridwan Hidayat

Ali sontak panik ketika Edo terlihat tak sadarkan diri di saat kami sedang beristirahat melepaskan lelah. “Edo, kenapa Edo? Kamu jangan bercanda, bangun Edo,” teriaknya, “Mas, kenapa ini Mas, bantuin Mas.”
“Cuma tidur kali, Li.” Curigaku. Aku hanya diam melihat tingkah Ali yang terlihat panik. Rasa kantuk yang sangat pada diriku hanya memberi kesimpulan bahwa Edo baik-baik saja. Tidak menganggap kalau itu sesuatu yang serius.
“Tidak Mas, seperti pingsan ini,”ujar Ali meyakinkan, “Ayo Do, bangun, jangan pingsan. Susah nanti ngangkatnya.” Dia berusaha terus membangunkan. Ali pun membuka jaketnya lalu dipasangkan ketubuh Edo yang sedang duduk dengan kepala yang tertunduk.

Aku tertegun melihat tingkah Ali ini. Suhu udara malam itu sungguh dingin sekali. Angin gunung yang bertiup kencang sangat menusuk ketika menyentuh kulit. Tidak demikian dengan kulit hitam Ali. Mahasiswa angkatan 2009 yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini memberikan pengorbanan yang luar bisa kepada sahabatnya yang sedang kelelahan. Ia melawan rasa dingin itu demi menghangatkan Edo. Kami yang berada di dekat mereka hanya diam bersandar pada batu untuk menghela nafas dan merenggangkan kaki. Beberapa juga tertidur. Semua itu akibat jalur pendakian yang terus menanjak curam. Jalur yang terus mengikis energi kami untuk selalu melangkahkan kaki menapaki tangga berbatu.

Salah satu poin penting pada buku Dalam Dekapan Ukhuwah karangan Salim A. Fillah menyebutkan bahwa ukhuwahlah yang membuat seorang mukmin bercemin. Bukan bercermin untuk kagum pada diri sendiri, melainkan seperti sabda Nabi SAW “Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain.” Maksudnya, bahwa teman adalah tempat kita untuk berkaca. Saudara seiman adalah tempa untuk saling mengenal dan mengasihi dalam bingkai iman.

Itulah yang ingin dicoba oleh Uman Miftah Sajidin. Ketua Lembaga Dakwah Kampus Jama’ah Al Muqtashidin (JAM) FE UII periode 2010-2011 yang baru diangkat ingin mengajarkan kepada staf-stafnya tentang arti penting sebuah ukhuwah. Caranya, ia mengajak untuk mendaki gunung. Hanya ikhwan, tidak akhwat. Gunung Lawu adalah pilihannya. Gunung yang mudah didaki oleh para pemula seperti para pengurus JAM ini.

“Mendaki gunung itu melatih kita untuk belajar keorganisasian, Mas. Kita bisa belajar tentang makna ukhuwah, kepemimpinan dan ketaatan.” Uman pun bercerita kepadaku saat merencanakan pendakian ini, “Umar bin Khatab juga mengatakan, salah satu cara bisa mengenal sifat orang adalah dengan melakukan perjalanan bersama.”
“Betul, Man.” Cobaku membalas, “Tidak hanya itu, kita juga bisa belajar bagaimana berusaha dan bekerja keras menguras energi agar bisa mencapai cita-cita kita, yaitu puncak gunung. Dari pada mengadakan outbond yang membutuhkan dana besar, mending mendaki saja.”

Kebetulan aku sendiri mempunyai pengalaman mendaki. Aku pun mengiyakan untuk mendampingi mereka. Ikutlah beberapa dari pengurus JAM yang terdiri dari Mahfud, Sulis, Edo, Yusti, Ali, Agi, Faisal ditambah empat orang alumni (baca : mantan pengurus) lainnya termasuk aku. Alumni tersebut adalah Tri, Gandhung dan Faridl yang ikut meramaikan pendakian ini. Mereka terlihat bersemangat. Rasa semangat itu terlihat dari keseriusan mereka mempersiapkan perbekalan tiga hari sebelum pemberangkatan. Mereka terlihat layaknya ingin pergi berwisata (rihlah). Pengibaran bendera JAM di Puncak Lawu adalah cita-cita kami. Yaitu sebagai simbol akan cita-cita dan harapan menggapai puncak kejayaan dakwah kami. Sayangnya, tidak semua pengurus ikhwan ikut dengan berbagai alasan.

“Ayo,” Uman memberi perintah, “Kita jalan lagi. Kita jalan sedikit lagi sampai ketemu tempat untuk membagun tenda.”
Edo terbangun mendengar suara itu. Sudah kuduga ia hanya tidur. Ali pun merasa lega. “Ayo bos, semangat bos, dikit lagi bos.” Ia mencoba memotivasi dengan logat timurnya. Sebelumnya memang Edo terlihat mual dan muntah. Ali yang berada di dekatnya menjadi panik melihat Edo seperti itu. Tidak hanya Edo, Gandhung juga terlihat K.O. Faisal, Sulis, Faridl, dan Uman terlihat sudah menunjukkan raut wajah yang pucat. Aku pun terserang kantuk yang luar biasa. Rasa kantuk mencuri oksigenku untuk mengalirkan energi ke syaraf-syaraf penggerak.

Terlihat ada rasa sesal di antara kami yang kelelahan. Tidak seperti yang dibayangkan, ternyata mendaki gunung itu sangat berat. Bayangan kasur empuk dengan tidur berselimut menghantui pikiran kami. “Ah, tau gitu tidak ikut.” Mungkin begitu yang dipikirkan. Tidak seperti Ali, Mahfud, Agi, Yusti, dan Tri. Mereka terlihat masih sanggup untuk terus menanjak. Dan mereka masih mempunyai keinginan besar untuk segera tiba di puncak.
“Sudah ketemu!” Teriak salah satu dari kami yang berada di depan. Mereka adalah Mahfud, Agi dan Yusti. Mereka sedang mencari tempat yang agak sedikit lapang untuk membangun tenda. Kami berencana untuk tidur sejenak.

Mendengar suara itu kami segera menuju ke sana. Dengan langkah sempoyongan Edo dan Gandhung melangkah secara perlahan-lahan menapaki tangga berbatu kembali. Ali membantu Edo dengan membawakan carrier –nya (baca : tas gunung) Edo yang beratnya mencapai belasan kilogram. Ia membawa dua tas. Tasnya sendiri dan carrier Edo. “Sungguh kuat anak itu,”batinku.

Setelah tiba di tempat yang dipilih, aku secara refleks mencari tempat yang agak jauh dari mereka. Aku mencari tempat untuk bisa tidur. Jas hujan aku keluarkan sebagai alat untuk menutupiku tubuhku dari angin gunung yang begitu dingin. Padahal kawan-kawan yang lain sedang membangun tenda. Setelah satu tenda berhasil berdiri, aku dibangunkan untuk pindah tidur ke tenda. Segera saja aku pindah dalam kadaan setengah sadar. Ternyata di dalam sudah ada yang tidur, mereka adalah orang-orang yang KO dalam pendakian ini. Beberapa dari kita pun ada yang masih sibuk membangun tenda berikutnya di saat waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam.

Buku Dalam Dekapan Ukhuwah banyak menceritakan kisah para sahabat Rasul saw. Yaitu kisah tentang berbagai sifat dan perilaku yang dimiliki para sahabat. Meski memiliki keimanan yang sama, mereka juga memiliki perbedaan. Baik dalam perilaku, pendapat, keputusan dan sikap. Ukhuwahlah yang membuat mereka saling memahami, saling mengerti dan menghormati segala tindakan baik keputusan pemimpinnya maupun sikap sahabatnya.

Begitu juga kami yang melakukan pendakian ini. Kami adalah sekumpulan manusia yang mempunyai cita-cita dan misi yang sama. Namun harus berhadapan dengan segala perbedaan yang kami miliki. Baik fisik, hasrat, dan mental. Dari sisi fisik ada yang kuat dan ada yang lemah. Seperti salah satu rombongan dari kami yang bernama Ali ini. Ia betul-betul memiliki energi ekstra. Ketika langkah demi langkah kaki terus menopang tanjakan berliku, hanya dia yang gerak nafasnya standar. Tidak aja raut lelah di wajahnya. Wajahnya yang ketimuran, hitam dengan rambut cepak dan tebal, sudah menyiratkan bahwa ia adalah manusia dengan energi besar layaknya Boas Salossa si striker Timnas PSSI. Kami pun mempunyai candaan jika perjalanan pendakian ini adalah seperti perjalanan hari-hari Ali dari daerah asalnya. Makanya, Uman memerintahkan dia untuk berjalan pada posisi paling belakang agar langkahnya mampu menyeimbangi kami semua. “Kasihan anak orang, kalau taruh di depan bisa hilang.” Cetusku.

Berbeda dengan Gandhung. Tubuhnya yang gempal dan energi yang terlihat pas-pasan membuat langkahnya terasa berat. Hampir setiap ada kesempatan ia berhenti untuk menghela nafas. Terkadang harus duduk untuk meringankan kaki dan meminum seteguk air. Begitu juga Edo. Tubuhnya yang kecil dan untuk pertama kalinya mendaki gunung membuat ia belum terbiasa dengan kondisi pendakian ini. Beratnya tanjakan, udara yang dingin dengan oksigen yang tipis serta kantuk yang dimiliki akibat kekurangan waktu tidur bersatu melemahkan energinya untuk mendaki dengan lancar.

Bagi yang kuat, orang lemah adalah orang-orang penghalang untuk bisa menjalankan rencana pendakian dengan mulus. Lihat saja, perjalanan pendakian ini terlihat memakan waktu yang lama. Dari pos yang satu ke pos yang lainnya memakan waktu yang tidak sesuai standar pendaki. Meski begitu, terlihat beberapa dari kami yang kuat mencoba memaklumi dan bersabar mengikuti ritme kami yang cepat lelah. Seperti Ali, ia dengan sabar berada di posisi paling belakang dengan langkahnya mengikuti ritme Gandhung. Ia juga sering melontarkan omongannya yang penuh canda sehingga membuat kami tertawa. Sosok penghibur itu sedikit dapat melupakan rasa lelah kami karena mendengar ocehannya yang ngalor-ngidul .

Semenjak di basecamp pendakian Cemoro Sewu, kami sudah merencanakan dan menargetkan akan tiba di puncak sebelum subuh. Kami akan berkemah di puncak dan ingin melihat sunrise ketika fajar menyingsing. Saat itu hari Jum’at. Keinginan untuk mulai mendaki setelah sholat jum’at sedikit tertunda akibat harus menunggu beberapa dari kami yang belum hadir di Cemoro Sewu dikarenakan terpisah saat pemberangkatan menuju basecamp. Agar bisa mencapai puncak bersama-sama, kami harus menunggu. Karena tidak sabar menunggu, kami mulai berjalan saja dan berjanji untuk bertemu di pos 1 jalur pendakian. Rombongan akhirnya lengkap di pos 1 ketika menjelang magrib. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Tiba di pos 2 waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di pos tersebut kami sempatkan untuk makan malam dan sholat jamak akhir magrib-isya.
“Kalau berkemah di sini dulu gimana? Kita lanjutkan besok aja perjalanannya.” Permintaan Edo terlontar dari mulutnya, “Saya sepertinya sudah tidak kuat, ingin tidur dahulu.”
Sontak saja. Beberapa dari kami menolak ajakan tersebut. Sebab, harus mengejar target untuk tiba di puncak dan ingin menikmati keindahan sunrise di waktu dan tempat yang tepat.

Seperti kata Sun Tzu yang dikutip Salim dalam buku tersebut, “Ketika pasukan telah erat disatukan, yang pemberai tak berkesempatan maju seorang diri, yang pengecut takkan bisa mundur berlari-lari.” Maka, selalu berusaha untuk tetap bersama menuju tujuan akhir adalah tindakan yang mesti dilakukan. Kami yang ingin tidur harus mengalah sejenak agar tetap bisa selalu bersama melanjutkan perjalanan.

Dan kendala harus dihadapi. Jalur setelah pos 2 merupakan jalur dengan medan yang lebih berat lagi. Tidak hanya Edo dan Gandhung yang tumbang, beberapa lainnya termasuk aku juga ikut tumbang. Hampir setiap beberapa langkah harus berhenti menghela napas. Terkadang bila ada tempat yang nyaman untuk bersandar, kami duduk untuk menyandarkan kepala dan punggung. Edo pun sempat masuk angin dan muntah-muntah dalam perjalanan itu.

Aku pun mengalami kantuk yang sangat berat. Kekurangan waktu istirahat juga mendukung muncunya rasa lelah dan rasa kantuk itu. Sebelum menuju ke basecamp pendakian Cemoro Sewu, kami mampir dahulu ke Kota Ngawi pada malam sebelumnya. Banyak cobaan diperjalanan yang membuat waktu terbuang untuk istirahat sehingga kami kekurangan tidur. Karena itulah, aku juga mendukung untuk beristirahat tidur sejenak.

Akhirnya, Uman sebagai pimpinan rombongan mengajak kesepakatan untuk istirahat tidur di sekitar jalur tersebut. Demi kebersamaan, semuanya menyepakati dengan resiko semua rencana kita di awal yaitu mencapai puncak di pagi hari akan tertunda. Mencoba untuk saling mengalah sudah menunjukkan penghargaan terhadap perbedaan dan kekurangan di antara kami.

Sesaat sebelum melanjutkan perjalanan setelah istirahat tidur dan sarapan.
Sekitar pukul 4.30 pagi aku terbangun. Sedikit kesiangan dari waktu shubuh. Langit sudah mulai terang. Rimbunan kabut tipis menyelimuti lereng gunung ini. Ternyata yang lain pun juga baru bangun. Dan ternyata juga, mereka yang membangun tenda tidak tidur di tendanya. Sebagian tidur menggunakan sleepingbed dan sebagian tidur berselimutkan tenda yang tidak jadi dipasang. Aku jadi merasa bersalah. Mereka yang membangun tenda tidak ikut tidur di dalam.

“Bangun-bangun.. subuh.. subuh…” teriak salah satu dari kita.

Dengan tubuh mengigil dan uap putih yang keluar dari mulut dan hidung, kami jalankan kewajiban sholat subuh di area tenda dengan alas tanah dan tanpa melepaskan sepatu. Di tengah sholat subuh itu membangunkan kesadaranku kuatnya ukhuwah diantara kami. Aku bercermin pada diriku sendiri yang lalai akan sikap berkerjasama. Aku menjadi lalai karena egoku yang ingin segera tidur. Padahal malam itu, jika dipaksakan aku masih mampu untuk membangun tenda secara cepat.

Karena iman, tidak ada saling tuntut di antara kami. Karena iman, sikap saling menyalahkan tidak terlontar di mulut kami. Karena iman, keinginan untuk saling berkorban muncul dalam hati-hati kami. Lihatlah pengorbanan Ali kepada Edo. Dan karena iman, kami saling bersatu membahu untuk selalu bersama menempuh perjalanan menunju puncak cita-cita kami. Untuk menebus sebagai rasa bersalahku pagi itu, aku membagikan semua perbekalan yang kumiliki dari dalam carrier-ku. Juga tidak lupa membereskan perlengkapan dan tenda. Untuk sarapan, kami pun menggabungkan semua mie instan yang dimasak kemudian dibagikan satu persatu. Sehingga, bagi yang perbekalannya sudah habis masih dapat jatah sarapan.

Setelah selesai sarapan dan membereskan tempat, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Semuanya sudah terlihat segar. Raut wajah lelah sudah hilang. Tidak hanya karena telah beristirahat, tetapi juga karena keindahan pemandangan alam yang dipancarkan pagi itu melupakan rasa lelah kami. Semangat pun muncul dengan mengebu-gebu untuk segera tiba di puncak. Sebab, pesona alam di puncak pasti akan lebih indah lagi.

Dengan satu cita-cita, langkah demi langkah kami tapaki kembali menyusuri lereng Gunung Lawu ini. Pos demi pos kami lewati. Kali ini sudah tidak ada hambatan. Jalur sudah mulai landai. Langkah kami begitu mulus tanpa harus selalu berhenti. Keindahan lereng dan pemandangan di bawahnya melupakan rasa lelah kami. Bunga-bunga edelweis menyambut kami dengan pesonanya. Lautan awan bergulung indah di bawah sana. Hingga akhirnya kami mencapai satu bukit lagi menuju akhir penderitaan.

Di bukit terakhir itu, kami mencoba berlomba untuk mencapai puncak Argo Dumilah (nama Puncak Lawu). Jalur di bukit terakhir itu paling curam dari jalur sebelumnya. Butuh energi ekstra untuk bisa melangkah cepat. Aku pun berusaha untuk bisa menjadi yang pertama. Namun sayang, ditengah perjalanan Ali menyalipku. Ia melangkah seperti orang biasa berjalan. Dan akhirnya ia menjadi orang pertama dari kami yang mencapai puncak. Kemudian aku menyusulnya.

Tepat pukul 12 siang bendera JAM berkibar di Puncak Lawu. Awan tipis dengan latar alam yang mempesona menyambut gaungan teriakan takbir kami. Sebuah teriakan takbir kebahagiaan atas prestasi yang akhirnya kami raih.
“Kawan,” Uman mencoba berbicara, “untuk bisa menikmati segala impian dan cita-cita dunia seperti ini kita butuh kerja keras dan pengorbanan. Pendakian semalam hingga siang ini adalah usaha kita untuk bisa tiba di tempat yang indah ini. Tanpa ukhuwah tidak mungkin kita tiba di tempat yang indah ini secara bersama-sama.” Kemudian ia melanjutkan, “Namun, perjalanan ini hanyalah simbol dan pelatihan perjuangan kita. Perjuangan sesungguhnya adalah usaha dan kerja keras kita menjalankan agenda-agenda dakwah JAM di kampus UII. Pada kerja nyata, kita akan mengalami hal yang sama seperti kejadian pada pendakian ini. Maka, iman dan ukhuwahlah yang akan mempersatukan cita-cita kejayaan dakwah ini.”

Salim A. Fillah pun menulis di akhir bukunya Dalam Dekapan ukhuwah, “Bahwa baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab akibat. Keduanya adalah pemahaman sekaligus keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri denga upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan.” Itulah yang kami dapati pada pendakian ini.

Dari dekapan ukhuwah di Puncak Lawu, kami mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Memori

Oleh: Asmi Rima Juwita

Hari ini adalah hari yang nyaman. Semua anggota keluargaku berkumpul di rumah, terasa tenteram dan damai di hati. Suatu anugerah yang nikmat dari Allah. Ayah ibuku, kakak-kakakku dengan suami atau isterinya serta anak-anaknya, nenekku, sedangkan aku sendiri yang belum berkeluarga =). Celoteh, cekikian, gelak tawa orang dewasa dan anak-anak berbaur menjadi satu di rumah diiringi dengan cerita-cerita pengalaman dari hati. Tetapi memang, ada satu yang kurang. Berita-berita di televisi masih santer mengabarkan tentang kematian Michael Jackson, dimana berita-berita tersebut biasanya disajikan sambil diberi background lagunya Jacko, (apalagi kalau diputar lagu yang judulnya “One Day in Your Life”, salah satu lagu kesukaannya) semakin menambah ingatan saya bahwa hari ini memang ada yang kurang. Ingatan langsung melesat cepat tertuju padanya. Seketika bibir ini komat-kamit pelan menghembuskan doa beribu asa untuknya. Dia, kakakku Ragil Ayu Lestari. Salah satu wanita paling berpengaruh dalam hidupku. Disini saya akan menceritakan sedikit tentang kakakku kepada Anda, kiranya berkenan. =)

Telah 19 tahun hidup bersamanya, tentunya di dalam hati dan pikiran saya sudah terpatri akan sosok kakak saya. Saya ingat betul bagaimana suaranya, cara berjalannya, senyumnya, aroma badannya, komentar-komentar lucunya, bentuk tulisannya, tingkahnya yang menghibur, hobinya yang suka ngemil, tatapan matanya, dan seeeegalanya. Tentu saja semuanya saya ingat karena saya dulu sekamar dengannya (meskipun kamar di rumah masih banyak yang luang), selalu tidur bersamanya (saya menolak untuk tidur sendirian sedangkan dia sering protes dengan orang tua saya perihal sempit dan panasnya kamar yang dihuni dua orang, hehe), dan saya memang sering menghabiskan waktu dengannya. Dialah kakak yang paling dekat dengan saya, karena kakak-kakak yang lain lebih besar dan selisih umurnya terlampau jauh dengan saya (kira-kira selisih 15 tahun dan 12 tahun). Sejak kecil kami memang selalu bersama, dia (selanjutnya kita panggil Mbak Ayu) adalah contoh kakak yang baik. Ketika saya masih TK sampai SD, mbak Ayu sering menjemput saya pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah, biasanya kami bermain bersama. Meskipun tidak dipungkiri, kadang-kadang mbak saya ini juga sering mengusili dan menakut-nakuti saya sehingga membuat saya menangis. Ah, tapi toh gapapa…

Sewaktu saya SD (pokoknya sewaktu saya sekolah) mbak Ayu tak henti-hentinya beralih profesi menjadi guru les pribadi saya (saya ga pernah ikut bimbel mana pun lho!), meskipun intensitas mengajarnya mulai berkurang semenjak saya SMA. Itu karena mbak Ayu punya kesibukan sendiri, yaitu kuliah sambil bekerja. Teringat akan masa lalu (kalau ga salah waktu saya kelas 4 SD), guru kelas saya memberikan PR matematika. Beliau memerintahkan kepada murid-muridnya untuk mengerjakan seluruh latihan soal yang ada di buku diktat Matematika (buku yang warnanya ijo dari depdiknas yang tebalnya mungkin 200 halaman. Ingat ga???) dengan deadline 2 hari setelah penugasan!! Setelah selesai sekolah, saya pusing bukan kepalang. Masha Allah, dengan PR sebanyak itu apakah saya sanggup? Apalagi dengan kemampuan otak saya yang pas-pasan dan sedikit lamban terhadap pelajaran matematika. Alhasil, seharian penuh saya berkutat dengan buku, pensil, penghapus, dan didampingi mbak Ayu yang siap berbagi informasi mengenai PR saya. Tentu saja sepanjang mengerjakan PR, beliau selalu menjelaskan ini dan itu karena saya yang susah nyantel walaupun sudah diterangkan secara jelas. Maklum jika beliau berkali-kali melotot dan berteriak ketika menerangkan kepada saya, sedangkan saya pun kadang-kadang bertingkah menyebalkan seperti tidak tahu terima kasih. Malam pun mulai tiba, mbak Ayu yang sejak tadi telah mengajarkan bermacam-macam kepada saya mulai terlihat lelah, mulutnya mungkin serasa berbusa. Apalagi saya yang menghadapi buku matematika, mulai pusing dan lelah mengerjakan PR. Dan tiba-tiba, mbak saya itu mulai tertidur di lantai. Sedangkan saya harus sendirian mengerjakan PR dengan kemampuan yang serba terbatas dengan otak yang sudah penat dan kelelahan. Waktu menunjukkan pukul 23.30. Saya mulai kebingungan dan sudah tak sanggup lagi berpikir jernih untuk menyelesaikan soal. Teringat deadline pengumpulan tugas yang tinggal sebentar lagi, maka saya mulai putus asa. Saya menangis malam itu, bingung antara ingin menyelesaikan PR tapi kepala sudah puyeng atau ingin pergi tidur saja. Akhirnya malam itu saya merengek-rengek sambil mengguncang-guncang tubuh kakak saya bermaksud ingin membangunkannya. Tetapi apa daya, guncangan tangan saya tidak sanggup membangunkan tubuh mbak Ayu yang terlampau lelah. Tetapi akhirnya dia bergerak! Oh, ternyata cuma memindah posisi tidur, sambil bergerak beliau ternyata mengucapkan sesuatu sambil tidur “Yo wis, soal yang kayak gitu kan gampang banget to. Kamu baca soal ceritanya pelan-pelan, pahami. Wong, ngitungnya tinggal dibagi, baru ditambahkan sama yang itu….” Setelah itu beliau tidur tenang kembali. Saya yang menatapnya hanya bisa mengerutkan dahi dan selanjutnya tertawa cekikikan melihat tingkah kakak saya yang lucu. Perihal PR, saya akhirnya memutuskan ikut tidur sambil memikirkan alasan-alasan yang sesuai kalau-kalau guru saya menagih PR saya. Hihi.

Mbak Ayu adalah motivator sejati untuk saya. Beliau sanggup memberikan semangat berjuang untuk hidup lebih baik kepada saya dengan cara-caranya sendiri yang penuh cinta dan harapan. Motivator manapun saya rasa tak sebanding dengannya. Jasanya sangat banyak sekali, prestasi-prestasi sekolah tidak mungkin saya raih tanpa dukungannya. Beliaulah yang memutuskan saya baiknya sekolah dimana dan beliaulah yang memantapkan saya untuk mengikuti kursus biola. Saya bisa masuk di sekolah-sekolah favorit (maaf, bukan maksud nyombong. Astaghfirullah.) berkat arahannya. Dulu selepas lulus SD, saya benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud sekolah favorit, pikir saya saat itu yang penting saya dapat sekolah di SMP mana saja. Selepas lulus SMP pun, beliau kembali mengobarkan semangat saya untuk belajar demi mendapat sekolah yang baik. Hingga saya lulus SMA, beliau ikut merundingkan jurusan apa yang harus saya pilih dan sesuai dengan saya.

Kakak saya adalah orang yang sangat ramah, humoris, penyayang. Mungkin jika Anda masih berkesempatan menemuinya saat ini, pasti Anda tak sungkan untuk sekedar mengobrol dengannya walaupun tak pernah bertemu sebelumnya. Komentar-komentar spontannya sering menghibur dengan pilihan kata yang kadang tak lazim. Hehe. Mbak Ayu sangat membantu ketika ibu tidak ada di rumah, beliau sanggup memasak sesuatu seenak masakan ibu saya. Jadi, ketika saya sedang sakit sedangkan ibu tidak ada di rumah, saya masih bisa merasa tenteram jika ditemani mbak Ayu.

Beliau adalah seorang yang gigih. Semangat berjuangnya sungguh tinggi! Diimbangi dengan kemampuan otak serta keuletannya yang baik. Profesinya adalah seorang akuntan. Akuntan yang handal tentunya. Sampai akhirnya beliau dipercaya untuk bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia cabang Samarinda. Inilah pekerjaan terakhir yang diembannya.

Saya pun dibuat iri olehnya, ya, itu karena kisah cinta yang dialami kakak saya seperti buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” milik Salim A. Fillah. Berkaca darinya membuat saya berpikir 6x untuk pacaran, jadi ya…akhirnya saya ga suka pacaran (ga suka ato belum laku, wallahu’alam. Hehe.) Dia tidak pernah pacaran sama sekali sampai bertemu dengan suaminya. Kedewasaan berpikirnya membawa cintanya menuju jenjang pernikahan tanpa ragu. Beliau jatuh cinta hanya sekali, untuk suaminya. Mereka menikah 21 Desember 2007 lalu. Karena masalah tempat pekerjaan yang berbeda, maka tidak bisa dihindari lagi, pasangan suami istri ini harus tinggal terpisah. Mbak Ayu tinggal di Samarinda sedangkan suaminya tinggal di Solo. Mereka bertemu hanya beberapa bulan sekali. Dan, subhanallah, mbak Ayu memang benar-benar wanita yang kuat. Beliau sanggup bekerja di Samarinda dalam keadaan hamil, jauh dari keluarga, jauh dari suami. Menanggung bayi laki-laki kembar dalam perutnya di Samarinda sana dengan ridha Allah, dengan doa-doa kami semua.

Alangkah senangnya kami semua ketika mbak Ayu cuti hamil dan tinggal di Semarang. Rencananya beliau akan melahirkan di Semarang dengan operasi caesar karena keadaan bayinya yang berukuran besar. Waktu itu adalah bulan Ramadhan 2008, sungguh nikmat yang tiada tara ketika keluarga berkumpul bersama. Saya bisa bertemu lagi dengan mbak Ayu, setiap pagi atau kapanpun saya mau, saya bisa memeluk perutnya yang mahabesar berisi dua bayi laki-laki. Tiba saatnya beliau untuk melahirkan secara caesar di rumah sakit, beribu doa kami panjatkan untuk keselamatan dan kebaikan mbak Ayu serta bayi-bayinya. Dan Alhamdulillah, pada 17 September 2008 mbak Ayu dan bayi-bayinya selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Bayi pertama, Muhammad Nolan Fachrus terlahir dengan berat 2,8 kg dan bayi kedua, Nobel Ramadhan Fachrus terlahir dengan berat 3 kg. Kami sangat bahagia, sangat bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dicurahkan dan berharap bayi-bayi ini adalah calon manusia dewasa yang bermanfaat untuk kebaikan dunia akhirat. Amiin.

Pasca melahirkan, kondisi tubuh mbak Ayu mulai melemah. Beliau mengeluhkan tentang sesak nafas, batuk, dan jantung berdebar yang cukup membuatnya lemah. Akhirnya beliau terpaksa dirawat di rumah sakit lagi selama seminggu, kemudian kembali lagi ke rumah karena menurut dokter kondisinya telah membaik tetapi dengan syarat selama di rumah tidak boleh terlalu banyak aktivitas. Ya, kami merawat beliau sebaik mungkin di rumah. Beliau sangat sedikit sekali mengeluhkan tentang penyakitnya, jadi kami pikir keadaannya akan cepat membaik.

Hari raya Idul Fitri pun tiba, 1 Oktober 2008 bertepatan pula dengan hari ulang tahun mbak Ayu yang saat itu berumur 27 tahun. Kami semua sangat bersyukur bisa berkumpul bersama di hari yang indah itu, saling memaafkan, saling bercerita, dan terharu mendengar nasihat ayah dan ibu. Hari-hari berlalu dengan lancar, tamu-tamu datang dan pergi dari rumah kami. Anggota keluargaku pada waktu itu disibukkan oleh mengurus tamu, mengurus bayi baru, dan juga mengurus mbak Ayu pasca melahirkan. Semuanya tidak terlalu merepotkan, malahan menyenangkan karena kita berkorban untuk orang yang kita cintai. Sampai pada suatu malam, saya terbangun dari tidur karena mendengar raungan di luar kamarku. Saya segera keluar kamar, dan mendapati ibu saya sedang menangis meraung-raung, ayah saya sedang memberi nafas buatan, suami mbak saya sedang memijit tangan mbak Ayu, sedangkan dua bayinya sedang tertidur tenang. Saya terbelalak kaget melihat tubuh mbak Ayu yang sedang tidur tanpa nafas. Pikiran saya langsung kalut, mencoba berpikir jernih. Akhirnya saya memutuskan untuk berlari memanggil dokter tetangga, berlari pontang-panting di jalan yang sepi (waktu itu jam 1.30), menggedor-gedor pintu dokter tersebut yang tak kunjung dibuka. Kemudian saya pulang lagi ke rumah, mengambil gagang telepon dan memencet nomor telepon rumah sakit dengan tangan gemetar sambil menyuruh ayah saya untuk menjemput dokter jaga di klinik 24 jam. Suara di ujung telepon itu menyuruh untuk membawa mbak saya ke rumah sakit. Akhirnya, ayah, ibu, suami, serta dokter jaga itu membawa mbak Ayu ke dalam mobil menuju rumah sakit. Selama di rumah, saya menunggu dengan cemas sambil menelepon saudara-saudara untuk memberi doa yang terbaik bagi kakak saya. Bahkan saya pun menjadi khawatir dan sangat takut menerima telepon dari ayah saya. Tetapi apadaya, takdir Allah datang lebih cepat. Malaikat maut telah bertandang ke rumah saya beberapa waktu yang lalu. Telepon berdering, suara ayah saya terdengar di ujung sana dan mengabarkan bahwa kakak saya telah tiada. Sontak lemas semua persendian tubuhku, tak bisa berkata-kata dan akhirnya tumpah dengan menangis sambil mengucap innalillahi wa inna ilaihi raji’un…11 Oktober 2008, kembali ke Rahmatullah dengan senyum tipis yang tersungging, dia adalah anggota keluargaku. Ada salah satu nisan binti Asrori di pemakaman itu…

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran: 185)

Semua kenangan-kenangan bersamanya tiba-tiba datang dengan cepat membanjiri pikiranku seperti film yang sedang diputar. Datang satu pergi lagi, datang lagi, pergi lagi. Membuat hati ini sangat ingin memeluk tubuhnya yang mungkin bisa hangat kembali. Tapi saya sadar bahwa ini nyata dan memang harus dihadapi. Tugas saya selanjutnya adalah meneruskan kebaikannya dan meninggalkan keburukannya. Saya harus mendidik anak-anaknya sebaik mungkin, minimal seperti yang beliau telah ajarkan kepada saya. Akan saya ceritakan dengan bangga bagaimana ibu mereka telah hidup di dunia ini dan tak perlu khawatir karena tak akan pernah menemuinya. Karena sesungguhnya beliau bersama kita, dalam hitungan matematika yang pernah diajarkannya kepada saya, dalam kerlingan ceria anak-anaknya, dalam setiap senyuman kita yang ikhlas, dalam semangat kita untuk berjuang hidup, dalam bangun subuh seperti beliau dulu membangunkan saya, dalam kekuatan kita menghadapi tantangan, dalam setiap doa yang kita kirimkan, dalam harapan kita yang gemilang. Beliau ada di hati.

Semoga Allah memberikan kebaikan padanya, pahala syahid, menghapuskan dosa-dosanya, memberinya tempat yang lebih baik daripada di dunia, memberikan kunci surga untuknya. Ya Allah, sampaikan salam sayangku untuk kakakku….amiin.


Saya Miskin Memang Tidak Bisa?

Oleh: Najamuddin Muhammad

“Kemajuan diperoleh bukan dari keberhasilan, melainkan dari kegagalan demi kegagalan”
(Zaianl Arifin Thoha)

Penggalan kalimat itu ada di barisan paling tengah di antara sekian banyak kalimat-kalimat motivasi lainnya. Dengan kertas yang agak kumuh tertempel di dinding sebelah timur, yang diapit oleh karya opini, resensi dan puisi. Sebagian santri ada yang tidur, ada yang membaca buku dan dua orang sedang berada di depan komputer dengan sangat serius menatap monitor yang berwarna kecoklat-coklatan itu. Tempat yang tak terlalu besar ini cukup berserakan dengan beberapa buku dan koran-koran. Konon dari pelbagai cerita teman-teman, tempat ini menjadi markas para penulis yang saban hari biasa tayang di media lokal atau pun nasional.

Itulah awal saya menginjakkan kaki di kota Gudeg ini pada tahun 2006, tepatnya daerah Minggiran MJ II/1482 Jogyakarta. Bagi saya, Jogjakarta adalah kota yang selalu diimpi-impikan mulai duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah). Kota ini terkenal sebagai kota pelajar yang melahirkan banyak intelektual kelas atas dan juga dikenal sebagai kota budaya yang melahirkan banyak budayawan. Terlepas dari benar tidaknya untuk kontek saat ini, tapi alasan itulah yang membuat saya kepincut untuk merantau dari Madura ke Jogjakarta dan memilih pondok pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari sebagai tempat singah pertama untuk memulai proses kepenulisan.

Ketika pertama kali tiba di pondok pesantren Hasyim Asy’ari, semangat menulis saya begitu meluap-luap. Rasanya saya ingin merajai di semua media. Dengan bekal seadanya saya mulai belajar menulis opini dan resensi untuk dikirim ke media lokal atau pun nasional. Hanya saja untuk menembus media massa tak mudah yang saya bayangkan. Lebih dari 40 tulisan saya telah kirimkan tapi tak ada satu pun yang dimuat. Saya tak ingin menyerah dengan semua itu. Tiap malam saya harus menulis dan mengantri giliran komputer. Kurang lebih dua puluh santri yang semuanya berproses dalam dunia kepenulisan dan komputernya hanya dua. Antrian panjang mengingatkan saya ketika ada orang yang ingin menerima bantuan zakat.

Saban hari nyaris salah satu tulisan teman-teman ada yang tayang, baik di koran nasional atau pun lokal. Ketika teman-teman membawa kabar bahwa ada yang dimuat, jantung saya selalu berdecak-decak. Tapi bukan nama saya yang disebutkan. Sebagai tradisi penting di komunitas ini, tiap ada yang dimuat ada syukuran dengan beberapa bungkus es teh dan sebatang rokok yang dibuat untuk join. Dan bagi yang dimuat ada pajak 20 % untuk pondok yang digunakan untuk beli beras dan di makan bersama. Tak ada cerita satu orang kenyang dan yang lain kelaparan. Teman yang satu dengan yang lainya ibarat satu tubuh yang kalau sakit bagian tubuhnya akan merasakan sakit secara keseluruhan. Semua yang tinggal di komunitas ini tak ada yang minta kiriman orangtua. Saya benar-benar belajar kebersamaan dan kemandirian dari komunitas ini.

Sebagai anak baru yang tak pernah menyumbang sumbangan untuk makan bersama karena tulisan belum pernah dimuat, saya mulai gelisah untuk mencari pekerjaan sampingan selain menulis. Saya memutuskan diri untuk jualan Susu Murni dengan modal dari pengasuh Zainal Arifin Thoha. Saya jualan susu murni dan buku-buku terbitan KUTUB bersama teman saya dipinggir jalan, di daerah pondok Krapyak. Ini jualan paling unik yang pernah saya alami, bisa Anda bayangkan sebuah gerobak yang bertuliskan Susu Murni ternyata didalamnya jualan buku, gorengan, rokok dan kopi. Usaha ini ternyata umurnya tidak panjang. Kami rugi karena teman-teman sendiri banyak yang hutang sehingga modal kian hari kian berkurang.

Dengan sangat terpaksa kami harus gulung tikar dan banting setir untuk mencari pekerjaan sampingan demi menopang hidup di Jogjakarta. Saya tak mungkin mintak kiriman terhadap orang tua, disamping ekonomi pas-pasan saya sudah berjanji bahwa tak akan pernah mintak kirimian kecuali Doa dan yang terpenting lagi saya sudah hampir sampai tiga bulan tinggal di komunitas ini. Bagi santri yang sudah lebih dari tiga bulan maka dilarang keras untuk mintak kiriman dengan alasan apapun. Santri diwajibkan mandiri dengan cara apapun yang penting halal. Itulah peraturan pertama dalam komunitas ini. Ada banyak teman yang tidak tahan dengan peratran ini sehingga mereka keluar dengan sendirinya. Seleksi alam berlaku di komunitas ini.

Di tengah situasi itulah saya mulai memutuskan diri untuk jualan koran di Perempatan Lampu Merah, Dongkelan. Tiap pagi selepas subuh saya berangkat mengambil koran di agen dan menjualnya hingga jam 9 siang. Hasil jualan koran lumayan banyak dibanding dengan hanya jualan Susu Murni, karena jualan koran tak ada yang berhutang. Menjual koran bagi saya ada dua keuntungan, disamping dapat uang tiap hari aku selalu baca berita aktual dan mengecek tulisan yang dimuat. Ini membantu proses kreatifitas kepenulisan saya dalam wilayah opini yang kadang selalu berburu dengan parkara yang aktual.

Jualan koran hanya menjadi penopang hidup saya. Tujuan utama saya tetap menulis dan menulis. Sudah dua pekan lebih saya berjualan koran dan kurang lebih tiga bulan di pondok ini tapi tulisan tetap tak ada yang nongol. Saya hampir putus asa pada saat itu karena berjungkir balik baca dan menulis tapi tulisan saya belum ada yang dimuat. Pada saat ini saya benar-benar merasa lumpuh dan tak bertenaga lagi untuk menulis. Bahkan saya sempat terbayangkan untuk tidak berproses lagi dalam jagad kepenulisan, tapi ingin berbisnis. Bayang-bayang itulah yang sealu menghantui hari-hari saya ketika sudah tinggal beberapa bulan di Jogjakarta tapi belum ada satu tulisan pun yang dimuat.

Yang paling merasa tertampar di tengah situasi yang bimbang itu, saya ditelpon oleh salah satu keluarga dari rumah dan mereka dengan sangat mengejutkan menyuruh saya pulang ke Madura. Keluarga tahu bahwa saya jualan koran di perempatan lampu merah dan jualan Susu Murni sehingga mereka menyuruh saya pulang dibanding dengan bekerja serabutan yang tidak jelas itu. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa pekerjaan ini hanyalah sebagai penopang untuk hidup dan saya meyakinkan mereka bahwa saya akan tetap menjadi penulis dan kuliah dengan biaya sendiri. Setelah itu saya mengalami tekanan psikologis yang berat. Semangat menulis kembali berangsur pulih dengan tekanan dan tuntutan sosial keluarga.

Pasa suatu hari yang cerah, setelah saya datang dari jualan koran, Jamil, teman se Asrama yang kuliah di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu tiba-iba datang dengan membawa sebuah buku berjudul Zero to Hero, mendahsyatkan pribadi biasa menjadi luar biasa (Jogjakarta, Pru-U Media, 2006). Buku yang ditulis oleh Solohin Abu Izzudin itu tiba-tiba disodorkan pada saya dan menyuruh saya untuk meresensinya. Saya baca buku itu dengan seksama dan teliti. Tanpa terasa saya membaca buku itu dari jam sembilan hingga dua siang.

Buku itu bagaikan cambuk yang selalu menyakiti tubuh dan hati saya yang selalu dihantui rasa pesimisme dan takut akan kegagalan. Dalam buku itu saya banyak dibawa ke hutan belantara para kehidupan tokoh-tokoh dunia yang selalu dihadapkan dengan kegagalan demi kegagaan tapi mereka bangkit dan terus bangkit dari keterpurukan. Dalam buku itu aku banyak diperkenalkan secara lebih jauh makna kegagalan bagi orang yang berproses dengan tamsil yang malang melintang di dalamnya serta bagaimana cara mengambil hikmah dibalik semua kegagalan itu. Membaca buku itu saya banyak dibawa berjalan-jalan untuk menghampiri kisah inspiratif para tokoh dunia.

Blly P.S Lim, motivator kelas dunia yang berbasis di Malaysia, pernah menanyakan kepada peserta training-nya suatu masalah yang cukup menarik, “Mengapa orang akan tenggelam bila jatuh dalam air.”, beragam jawaban dilontarkan tapi tak satu pun yang dapat diterima Lim. Akhirnya Lim memberitahu jawabannya, “Seseorang tenggelam karena dia menetap disitu (suatu tempat) dan tak menggerakkan dirinya ke tempat lain”. Jawaban ini bagi saya mengandung filosofi cukup kuat untuk dijadikan pegangan dalam hidup ini. Dalam menempuh kehidupan ini seseorang dituntut untuk selalu bangkit setiap kali mengalami kegagalan dan jatuh, apalagi haya sekedar keteledoran.

Pesan pertama yang saya tangkap dalam pernyataan ini bahwa kita harus bergerak dan tak boleh berdiam termangu di suatu tempat untuk menunggu keajaiban. Hidup ini dinamis sehingga saya harus bisa mengejarnya. Hidup ini teka-teki sehingga saya harus memecahkannya dan hidup ini pertempuran sehingga saya harus berjuang untuk menjadi pemenang di medan pertempuran. Saya tak ingin menjadi pecundang dan penghianat yang berhenti di tengah-tengah medan perjuangan. Tidak penting apakah saya nanti menang atau kalah. Yang terpenting adalah berjuang dan tak mundur dari medan pertempuran hidup ini.

Pertempuran dalam medan kehidupan ini tak banyak ditentukan oleh kegagahan fisik dan kekayaan harta seseorang. Orang yang yang gagah secara fisik dan mampuni secara ekonomi bukan jaminan untuk mengantarkan seseorang pada puncak kesuksesan. Dengan ekonomi yang pas-pasan dan kegagahan apa adanya, tapi mempunyai karakter yang tak mudah menyerah terhadap keadaan dan selalu bergerak dinamis dan progresif, maka itu adalah modal utama. Itulah pikiran saya di sela-sela merenung sejenak dengan lembaran buku yang masih terbuka.

Saya melanjutkan membuka lembaran demi lembaran. Pada Bab ketiga dalam buku itu Solihin, sebagai penulis, menganalisis esensi dai kegagalan sekaligus memotret beberapa tokoh yang malang melintang dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat mendaki puncak kesuksesan, layaknya Alber Einstein, Helen Keller, doktor yang buka dan tuli, dan bisu serta Thomas J. Watson. Rahasianya cukup menarik, mereka menyikapi kegagalan secara arif dan bijaksana, layaknya Watson pendiri IBM yang memiliki prospek cerah. Seorang eksekutif tersebut melakukan kesalahan transaksi yang merugikan perusahaan jutaan dollar. Watson memanggil eksekutif muda itu ke kantornya. Spontan eksekutif muda itu berkata, “Anda meminta saya memundurkan diri bukan”. “Anda jangan cemas, kami baru saja menghabiskan jutaan dollar untuk mendidik Anda” ucap Wantson terhadap eksekutif muda itu. Sungguh ini luar biasa pengalaman yang menelan jutaan dollar dianggap sebagai kegagalan yang harus diambil hikmah untuk bangkit kembali.

Ketika membaca buku itu saya langsung teringat dengan pesan yang tertera di dinding Pondok yang ditulis oleh Zainal Arifin Thoha (Alm) “Kemajuan diperoleh bukan dari keberhasilan, melainkan dari kegagalan demi kegagalan”. Ya…kegagalan yang sering saya anggap sebagai duri ternyata pada esensinya itu bisa menjadi obor untuk melangkah lebih maju di kegegelapan hidup ini. kegagalan secara tak langsng adalah proses pendidikan mental dan karakter seseorang untuk menjadi orang yang sukses dan maju. Tak ada cerita orang yang sukses dalam hal apapun tak pernah mengalami kegagalan. Justru kesuksesan itu diperoleh dari kegagalan demi kegagalan. Persoalannya saat ini adalah sejauh mana kita tetap tegar dalam menghadapi kegagalan itu.

Menariknya dalam buku itu saya tak hanya dihadapkan dengan tokoh-tokoh Barat, tapi penulisnya juga mampu menghadirkan para cendekiawan muslim sebagai penyemangat, layaknya kisah Al-Ghazai, Imam Malik, Imamm Syafi’I, Ali Bin Abi Thalib dan sederetan tokoh-tokoh muslim lainnya. Tiap-tiap bab dalam buku itu selalu dibuka dengan kata-kata mutivasi dari tokoh muslim atau pun para tokoh barat yang siap membangkitkan, mencambuk dan menggugah motovasi yang kendur yang tersimpan dalam diri saya.

Saya begitu menikmati membaca buku itu. Dari sekian banyak buku yang saya resensi, buku itulah yang saya baca secara tuntas dan kadang diulang-ulang. Kebiasaan buruk saya kalau meresensi buku paling dibaca pendahuluan, daftar isi dan bab yang paling berkaitan dengan tema utama buku yang bersangkutan. Sangat berbeda dengan buku itu. Ini bukan lagi persoalan teoritis yang kadang sangat menjenuhkan bagi saya. Tapi ini persoalan inspirasi hidup, panggilan hidup dan totalitas dalam menjalankan apa yang telah diinginkan tanpa harus mundur selangkah pun.

Dari saking menikmatinaya baca buku itu, saya selesaikan selama dua hari. Kadang-kadang saya membolak-balik setiap bab untuk membaca ulang beberapa kata motivasi. Saya menemukan semangat, motivasi dan cara pandang baru dalam menghadapi kegagaan. Saya merasa bahwa apa-apa yang telah selama ini dianggap kegagalan bagi saya ternyata tak sebanding separuh pun dari beberapa kegagalan yang pernah dialami banyak tokoh terdahulu. Dan kegagalan yang selama ini saya anggap duri ternyata itu bisa menjadi obor. Buku itu telah membuka diri saya tentang apa itu hakekat kegagalan dan bagaimana cara menyikapinya seacar arif dan bijaksana.

Setelah membaca buku itu saya termotivasi lagi untuk belajar menulis. Buku itu langsung saya resensi dengan sangat menjiwai di banding dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Saya menyadari ini karena bersangkut paut dengan kondisi riil yang saya alami dalam hidup ini. Dan beberapa minggu kemudian, tepatnya pada hari Minggu 9 April 2006 di pagi yang buta, saya menemukan keajaiban yang mulai saya tunggu-tunggu selama kurang lebih tiga bulan. Resensi buku Zero to Hero itu ternyata dimuar di harian Seputar Indonesia pada resensi utama di rubrik resensi dengan judul Kiat Menjadi Manusia Luar Biasa. Lebih lucu lagi saya yang menulis resensi itu dan saya pula yang menjualnya di perempatan lampu merah Dongkelan. Ini sungguh sejarah yang tak akan pernah saya lupakan.

Mulai saat itulah optimisme mulai tumbuh untuk menghadapi pergolakan hari esok tanpa harus dihantui rasa gagal. Saya yakin bahwa tak aka ada yang sia-sia dalam setiap proses kehidupan ini. Semuanya pasti ada mamfaat yang dapat dipetik. Mungkin banyak parkara yang selama ini kita anggap kegagalan, padahal itu mengandung hikmah apabila dipelajari secara lebih terinci Yang terpenting bagi saya bukan persoalan sukses atau gagal, tapi ini persoalan sejauhmana kita memaknai dan mengambil ibrah dalam setiap proses untuk menuju hidup yang lebih baik.


[Pro-U] Senyuman Hujan


Oleh: Febi Rahmi

Mendung lagi kota Bandung sore ini dan sepertinya sebentar lagi rintik-rintik air dari langit akan menyapa bumi. Tiap tetesan yang jatuh seakan tak sabar mencurahkan kabarnya dari langit di atas sana. Menatapku ke gumpalan awan gelap yang sudah tak sanggup menahan bebannya dan siap tumpah ruah menanti seruan.

Pikiranku mengembara sekian tahun lalu ketika pada saat yang sama aku juga menatap mendung ini. Mendung yang tidak saja mewarnai hari tapi juga singgah di hatiku, tepatnya di semester akhir perkuliahanku. Di Fakultas ini, akumengenal lebih dalam tingkah laku manusia serta emosi yang menyertainya. Tempat dimana kami “berobat” jalan dan menemukan diri kami, ujar seorang temanku ketika ditanya mengapa berkuliah di fakultas ini.Luar biasa ilmu-Nya, di sini juga aku semakin menyadari betapa luar biasanya Sang Khaliq mencipta pikiran dan rasa hingga tak ada yang benar-benar mirip antara tingkah laku A dan B , meski instrumen psikologi memiliki perangkat untuk mendeteksi prilaku tapi tetap saja tak ada manusia yang sama.

Semester demi semester aku lalui. Aku yang anak rantau cukup berusaha keras beradaptasi dengan gaya hidup di tataran Sunda ini hingga tidak tenggelam dalam keramaian.Tahun demi tahun bergulir, menghantarkanku pada lingkungan yang lebih luas dari yang aku sangka. Tak hanya urusan akademis yang memang wajib aku –mahasiwa- tunaikan tapi ada ranah lain yang berhasil membagi perhatianku sebagai mahasiwa 3 K ; Kampus-Kuliah-Kosan.

Sang waktu terus berputar, mendesakku mengikuti kemana ia mengarah. Aku menjadi mahasiswa yang berangkat dari kos-kosan sebelum matahari sempurna beranjak naik dan kembali ke kos-kosan ketika adzan Isya menemani langkahku pulang. Aku menikmati aktivitasku sebagai mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus yang pada akhirnya membawaku pada masa itu.

Rentetan peristiwa masa itu terbayang jelas. Memoriku mengingat semuanya. Ah benar adanya, kejadian yang berpengaruh besar dalam hidupmu pasti akan senantiasa kau ingat dan lekat erat di memorimu.

Saat itu, aku belum beranjak dari taman kampus. Sudah lengang, tinggal aku, satu adik kelasdan bapak-bapak yang membersihkan taman dari dedaunan kering. Hm, aku lebih suka jika daun-daun itu terserak di tanah sebenarnya.

Baru saja aku menyelesaikan rapat dengan semua pengurus untuk event yang akan kami adakan. Aku yang masih mendapat jabatan di kepengurusan inti harus memastikan event ini layak diselenggarakan melalui sistem Komite Divisi. Organisasi ini, sebuah ruang yang menyimpan rekaman jejak aktivitasku bersama mereka yang terlibat di dalamnya, mereka yang mengenalkanku lagi betapa hidup ini tidak hanya untuk diriku sendiri, mengingatkanku bahwa aku, hamba-Nya memiliki amanah besar untuk bumi ini. Mereka yang mengenalkan ku dengan da’wah.

Layaknya Komite, sanggah-menyanggah mempertahankan alasan yang masuk akal, mengusahakan agar keinginan semua pihak tersalurkan bukanlah urusan gampang. Selama Komite berlangsung aku juga harus membagi perhatianku pada ponsel yang tak henti bergetar. Sahabatku memintaku menjadi pembahas di Seminar Usulan Penelitiannya esok hari. Waktu dadakan dari Dosen Pembimbingnya membuat dia mencari orang terdekat untuk menjadi Mahasiswa Pembahas. Tanya jawab tema Penelitian antara aku dan sahabatku terjadi sebelum aku memutuskan menyanggupi menjadi mahasiwa pembahas.

Aku masih asyik menatap layar 14 inchi ini. Penanda dua pesan baru dari inbox email ku berkedip-kedip. Email pertama dari sahabatku yang mengirimkan Usulan Penelitiaannya. Jarak Jatinangor – Bandung yang tidak dekat, membuatnya tidak memungkinkan mengirimkan print-out Usulan Penelitian, apalagi sebentar lagi Maghrib. Termanggut-manggut aku membaca draft 20 halaman ini sambil bertanya pada diri, “Kapan aku memulainya?”

Email kedua dari rekanku di organisasi kampus. Satu file lampiran proposal kegiatan untukku baca sebelum naik cetak dan revisinya harus aku kirimkan esok hari juga. Jika saja aku tidak disibukkan lagi oleh kegiatan organisasiku di semester akhir ini, tentunya malam ini aku memiliki banyak waktu luang untuk membaca , menganalisa usulan penelitian sahabatku sembari aku juga mempersiapkan diri . Synaps-synpasku yang sudah mengusut setelah Komite tadi menjadi bertambah kusut.

“Ketika terjadi pada dirinya apa yang bukan menjadi pilihannya, hendaklah ia berkata ‘Allah telah menaqdirkan dan apa yang dikehendaki-Nya itulah yang berlaku,’ dan janganlah mengatakan ‘Seandainya’, karena perkataan itu akan membuka pintu setan.” [HR. Nasa’i dari Abu Humairah ra]

Seharusnya aku bahagia saat itu, -benar aku bahagia untuk sahabatku - ketika satu persatu sahabat-sahabat dekatku akan melewati Seminar Usulan Penelitiannya. Seharusnya aku bisa mengucapkan selamat secara langsung ketika dia mengabariku melalui pesan singkat tadi. Yah, seharusnya ku bahagia dengan kebahagiaan mereka. Setan begitu pandai menggoda dengan segala caranya menembus kokohnya benteng manusia. Iman itu naik turun, bertambah dengan kebaikan dan berkurang dengan kemaksiatan yang dikerjakan. Sedikit saja api iri itu terpantik, dia akan berkobar dan hatimu memanas karenanya.

Ketika sahabat-sahabatku sibuk dengan usulan penelitian mereka, bimbingan dengan dosen, mencari bahan-bahan untuk penelitian, aku masih disibukkan dengan rapat agenda A, B dan konsolidasi pengurusku serta amanah-amanah lain yang dipercayakan padaku. Seperti ku katakan tadi, ketika serasa dunia salah, apa pun yang terjadi menjadi salah di matamu.

Aku merasa kurang beruntung pada saat itu, merasa menjadi terlambat menyelesaikan studiku. Aku merasa ditinggalkan oleh sahabat-sahabatku. Aku merasa seolah tak ada yang mengerti aku. Ah, lihatlah…kau merasa dunia tak berada disisimu. Apa yang menurutmu baik, belum tentu saat itu baik menurut-Nya, begitu juga sebaliknya.

Maghrib sebentar lagi datang, setelah memastikan file sahabatku sudah disimpan aku berkemas, merapikan buku-buku yang ku pinjam tadi dari perpustakaan sebagai penjaga semangatku bahwa secepat mungkin aku akan memulainya.
Dan hingga Maghrib datang, mendung itu belum juga hilang.

Hey, bingkisan apa ini, tergeletak manis di atas meja ruang tamu kosan kami ketika aku menyalakan lampu ruangan ini.Ruangan yang menjadi saksi riuh rendah kami, tawa dan canda yang mampu menghangatkan hati yang mendingin ini.Teman-temanku sedang tidak di kos-kosan. Mereka menghadiri sebuah seminar yang baru berlangsung setelah jam makan malam. Aku bergegas mengambil bingkisan bersampul kertas kado dengan motif kotak-kotak biru itu. Aku masih ingat corak kertas kado itu kawan!!

Aku membalik bingkisan itu, melihat nama pengirim yang tertera dibelakangnya. Ah, dia.. sahabat kecilku yang tengah berkuliah di Universitas Negeri terkenal di Kota Pelajar. Sahabat kecilku, ketika bersama-sama kami belajar mengeja huruf hijaiyah, menyenandungkan kalam Ilahi. Suaranya merdu dan mampu menggugah hati yang mendengarnya. Senyum pertamaku terulas hari itu.

Hati-hati aku membukanya, aku tak ingin merusak kertas indah ini. Sebuah buku bersampul coklat dengan gambar seorang pemanjat tebing terjal danlatar matahari senja yang menguning. Tertera jelas dengan huruf kapital judul buku ini “FROM ZERO TO HERO,” dan kalimat dibawahnya Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa, penulis Solikhin Abu Izzudin, terbitan Pro U Media. Buku apa ini?. Latar belakang disiplin ilmu yang aku geluti, kadang membuat ku menjadi pilih-pilih memilih buku self help atau sejenisnya. Senja itu, aku yang merasa dititik zero, meminta tangan-tanganku meraih halaman demi halaman.

Banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan, kegagalan, kemalasan. Itu bukan masalah. Bagaimana di tengah keterbatasan itu kita dahsyatkan diri agar lahir prestasi tinggi.

Waw, ini dia sepertinya yang sedang berperang dalam diriku. Keterbatasan yang dijadikan pembenaran, kekurangan yang membuat tidak produktif, kelemahan yang menjadi sasaran ketidakbisaanku.

Aku membaca cepat dan taukah kau apa yang kutemukan di lembar selanjutnya?
Setiap kehidupan kita dihadapkan pada momentum-momentum dan ini lah tipe-tipe manusia yang memaknai momentum:
  • Tipe Quitters, Orang yang tergesa-gesa, suka patah arang, ingin cepat sampai, berani menerima tantangan, berani mengambil resiko, negative thinking.
  • Tipe Champers , Orang yang senang mendaki tetapi berhenti pada titik ketinggian terntentu, menikmati (terbuai) kesuksesan, gampang puas, tidak tertantang mengambil peluang dan resiko yang besar.
  • Tipe Climbers, Mental pendaki gunung , mengumpamakan hidup sebagai arena, mempresepsikan tantangan adalah peluang, hambatan menjadi kesuksesan, kesulitan menjadi kemungkinan, berani mengambil resiko, tidak lemah dan gampang putus asa.

Seolah ada batu melesak cepat ke dadaku. Aku pendaki yang berdiam diri, melihat salah semua, tapi tak berani melangkah. Aku pendaki yang sedang berhenti, aku pendaki yang naik dan turun. Aku terhenyak. Bukankah amanah-amanah da’wah yang diberikan kepadaku itu membuat ku lebih dewasa? Bukankah dengan amanah-amanah itu aku belajar berlapang dada ditengah tantangan yang kami hadapi bersama? Bukankah dengan amanah-amanah itu aku menjadi perantara risalah –Nya yang mulia? Astaghfirullah.

Adzan Isya berkumandang disertai rintikan hujan membasahi bumi, tak hanya pada bumi saja malam itu.Hujan menghampiriku, merembesi hati yang meradang sedari tadi, menyisakan isak yang telah bertemu muaranya.

Ah, akhirnya hujan juga disini. Lama ku menanti sedari tadi. “Allahumma shayyiban naafi’aan ; Ya Allah, (jadikanlah) hujan ini bermanfaat”, begitu do’a yang diajarkan seorang sahabat padaku. Ingin selalu ku hadiahkan senyuman ketika hujan tiba-tiba datang atau aku bersiap menyambutnya ketika isyarat baru datang dari langit. Senyumku merekah lebar mengingatnya. Ketika hari-hari sesudahnya, Allah tunjukkan jalan-jalan kemudahan bagiku.

Aku mendapatkan Dosen Pembimbing yang baik hati, tidak susah bertemu untuk jadwal bimbingan;dua kali dalam seminggu, draft skripsiku selalu penuh feedback yang menyemangati, penuh pesan keibuan, tak hanya konsultasi skripsi tapi merambah tentang saran beliau menghadapi dunia pasca kampus.

Allah tunjukkan kemudahan lagi lewat teman yang tak disangka-sangka di Jawa Timur sana yang membantu ku menghubungi responden-responden untuk penelitianku.

Allah hadirkan adik-adik binaanku, teman-teman kampus, saudara-saudaraku di jalan ini yang menghadirkan binar di mataku.

Allah anugrahi aku keluarga yang penuh kasih sayang. Kedua orangtuaku yang senantiasa memberi dukungan, meski jarak memisahkan kami tapi sungguh aku merasa lebih kuat karenanya. Seakan belum cukup anugrah itu, kehadiran dua kakakku yang tak bosan memberi semangat meski kami tidak disatukan dalam ruang yang sama membuatku sadar aku tidak sendiri.

Duhai kawan hanya lebih kurang enam bulan gelar S.Psi berhasiltertera di belakang namaku. Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya milik-Mu. Malu yang sebenar-benar malu mengingat aku pernah menyalahi semuanya, tapi tak pernah berkurang kasih sayang-Nya padaku, bahkan lebih. Dan aku bertekad siap mendaki terjalnya rintangan.Hey kawan, bukankah jalan ke surga itu tidak mudah?

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu [QS. Muhammad : 7]”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More