Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Sore itu di kampus tersayangku, aku berjalan penuh semangat, penuh energi dan senyum khasku kutebar kepada semua kawanku yang aku lewati, sembari sedikit sapaan gaya anak muda.
“Hai, pa kabar!” sapaku mantap sambil terus berkonsentrasi dengan gaya langkahku yang tegas. Bunyi hak sepatuku, yang lantang menandakan cara berjalanku sore itu penuh percaya diri. Apalagi aku sore nanti dipercayai sebuah lembaga untuk menjadi pemandu acara Nasional.
“Hai, Ridh habis ujian, gimana ujiannya?”
“Hai, beres, moga-moga bagus hasilnya
Sapaan yang sedikit aku paksakan jadi kadang terkesan lucu, karena itu bukan gayaku. Namun, aku harus menyesuaikan dengan mereka, ya kawan-kawanku yang tidak semua muslim juga gaya bergaul mereka. Cukup membuatku berfikir juga dalam urusan sapa-menyapa.
Jam tanganku menunjukan pukul 14.30. Siplah ini pas nih, aku kok belum makan siang ya, ah nanti aja, lagian hemat. Sekarang waktunya shalat ashar lalu jemput Nuraini. “Success with shalat inilah shalat, dalam gerak dan ucapnya ada hikmah yang dasyat “sekolah” kesuksesan terhebat.. sukses yang didapat bukan kesuksesan semu dihadapan manusia, tapi kesuksesan yang membuat jiwa tidak lagi hampa Salman Ar Raisy.
Kalau mau sukses acaranya,jangan lupa shalat dan nanti minta sama Allah agar diberi kelancaran. Aku jemput temanku Nuraini dan langasung pergi berboncengan dengan satu sepeda motor. Inilah awal aku bertemu dengan sebuah keluarga.
Pertemuan dengan sahabat saya Lina (27 tahun) asal Muntilan berawal dari ban motor yang saya kendarai pecah sekitar pukul 18.30 di daerah Muntilan ketika hendak ikut memandu acara bertempat di Pondok Tingal Magelang Juli 2007. Kala itu panitia menyerahkan bagian MC (Master of Ceremony) sekaligus pemandu disetiap acara. Allah memang mempertemukan kita, karena motor saya berhenti tepat di depan tambal ban yang satu-satunya masih buka di daerah tersebut. Saya bertemu dengan bapak Suwarno ayah Lina yang kebetulan pemilik tambal ban tersebut. Sambil menunggu ban selesai diganti, saya sempatkan untuk berbincang dengan Lina. Sungguh pas sekali karena saat itu sedang lapar, ibu Gun, ibu Lina menyuguhkan makanan. Subhanallah, walau baru bertemu namun rasanya sudah seperti saudara dekat, itulah persaudaraan islam ukhuwah Islamiyah. Sementara panitia menghubungi saya untuk segera datang ke Hotel Pondok Tingal yang jaraknya hanya tinggal 7 Km. Sebelum pamit saya sempatkan juga membicarakan masalah hebatnya rahmat Allah yang memberikan kesembuhan pada hamba-Nya melalui Atthibun Nabawy seperti bekam sekaligus menanyakan lokasi Pondok tingal dan menceritakan maksud saya ke sana. Spontan saja ayah Lina tertarik ingin tahu, kemudian ia ikut ke pondok Tingal untuk melihat bagaimana acara tersebut.
Dua Minggu kemudian………
Saya dihubungi Bapak Suwarno yang menanyakan masalah batu Empedu. Kemudian saya sarankan untuk menggunakan tanaman obat dan terapi bekam. Bapak Suwarno cerita kalau Lina kena batu empedu.
“Pak, besuk saya akan datang ke Muntilan untuk melihat keadaan Lina, sekaligus Lina saya bekam,” ungkap saya di telpon tanpa tahu Lina masih di Rumah Sakit terkemuka di Muntilan. “Baik mbak, saya sudah bawa anak saya pulang!”
Sesampainya di sana. Saya bertemu Lina yang menurut saya masih cukup kuat, ternyata Sahabat saya Lina yang sakit batu empedu diameter 1,2 cm juga maag yang tanpa saya ketahui ternyata ia baru pulang opnam dari rumah sakit, hampir masuk ICU, dan sudah mendapatkan rujukan untuk operasi batu empedu di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta. “Mbak saya tidak sanggup kalau harus opersi karena biayanya cukup tinggi, kasihan orang tua saya. Saya yakin Allah akan memberikan pertolongan,”ucap Lina yang begitu ada keyakinan di matanya.
Saya optimis dan keyakinan dalam hati saya sarankan untuk bekam rutin dan meminta kesembuhan pada Allah. Setelah saya bekam, Satu minggu pertama, Lina mengalami sakit di sekitar daerah empedu dan sering pingsan. Orang tua Lina sempat cemas karena kondisi Lina pasca bekam menurun. Namun saya yakinkan kepada orang tuanya ini Setelah itu apa yang terjadi? Alhamdulilah, kondisi Lina semakin membaik, semakin fit, ia sudah kembali bekerja. Sampai sekarang sekitar sudah kurang lebih dua bulan rutin bekam. Teman sekerja dan tetangga sekitarnya, menayakan mengapa Lina bisa semakin sehat? “Mbak, Alhamdulilah dulu ban motor mbak Ridha pecah, jadi bisa ketemu!” canda Lina.
Hal yang paling mengaharukan, keluarga Lina hafal benar kesukaan saya mangut Lele buatan ibunya, karena mereka suguhkan masakan itu. Sampai kalau mereka sekeluarga makan hidangan tersebut, mereka ingin saya juga makan bersama mereka. Lalu he..he.. ada Cobek khas Muntilan sebagai kenangan untuk saya. Alhamdulilah Lina sekeluarga dimudahkan oleh Allah dan memgembangkan At Thibun Nabawy. Seperti dalam bukunya dr Egha Zainur Ramadhani Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Dari bekam, wudhu, tidur ala Rasullullah, membaca Al Qur’an semua ada hikmah yang luar biasa.
Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat–Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba yang shaleh. (QS An Naml:19)
“Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dekat dengan kekasih-Mu beriman dan bertaqwa semua karena-Mu, mudahkanlah melakukan perintah-Mu, berpegang pada Al Qur’an dan sunah Rasullullah.
Kisah ini terjadi sekitar bulan Mei 2006. Berawal dari kemenanganku dalam lomba menulis lomba business plan yang diadakan Greenleaf Yogyakarta, sehingga aku mendapat kesempatan gratis mengikuti program pelatihan kewirausahaan selama kurang lebih tiga bulan di sana. Seingatku business plan atau lebih tepatnya ide bisnis itu berjudul Bandenga Pantura. Karena aku mahasiswa akuntansi kala itu semester lima, isi ide bisnisku paling menonjol adalah perhitungan keuangannya dan inilah yang membuatku berhasil menjadi juara pertama meskipun ide itu sederhana.
Saat pelatihan berlangsung di season terakhir ada kesempatan praktik bisnis yang dibagi perkelompok. Aku dan lima orang temanku direkomendasikan untuk bisa menempati ruang bisnis seorang pengusaha toko buku di Yogyakarta yang sekaligus mentor kami di pelatihan itu. Kami diberi tempat lantai dua tepatnya di teras atas took bukunya. Dari kelompok lima orang itu ternyata yang sungguh-sungguh praktik cuma dua orang dan yang lainnya hanya bantu-bantu atau sekedar meminjamkan peralatannya. Dua orang itu salah satunya aku. Wajarlah itu karena aku termasuk paling muda diantara peserta lainnya juga kayaknya paling semangat. Mereka memang sibuk, ada yang semester akhir, dosen, pemilik toko kelontong dan pedagang.
Depot minum kami itu aku beri nama GREENCAFE menyediakan kopi panas dingin, minuman dan Es Ria inilah andalan kami. Es buah dengan susu dan sirup istimewa yang aku datangkan langsung dari Pati tempat asalku yaitu kawista. Kami juga menyediakan nasi goreng, mie, dan kue. Pada waktu itu salah satu temanku yang membuat daftar menunya. Jadi aku menyesuaikan aja. Padahal yang menulis menu di dinding dan kertas menu jarang datang mengurus kafe ini. Seingatku dalam kertas menu juga ada STMJ, nasi liwet, nasi timbel. Apaan Itu aku juga bingung. Menerima ketering juga. Aku tidak tahu kenapa lahir menu-menu yang aku sebut tadi, kalau Es Ria dan Soto Pantura jelas itu eksperimenku. Kalau yang lain dari siapa ya? Menu apa Itu aku juga bingung. Awalnya kita kelola dengan bergantian jaga diantara peserta pelatihan, tapi aku yang lebih belanja keperluan dibantu Pak Dwi salah satu temanku yang bagian operasionalnya misal angkut-angkut karena ia punya mobil pick up. Pada akhirnya kalau teman-teman lain diminta jaga, mereka menolak denan alasannya antar istri, rumah jauh, sibuk dan lainnya. Pak Dwi inisiatif untuk memperkerjakan karyawan, kami menyetujuinya. Kami mengangkat dua orang karyawan satu perempuan temanku mengaji bernama Ina dan satu lagi laki-laki temanku di rental komputer yang biasanya aku kesana bernama Anto. Kami gilir jadwalnya. Setelah punya karyawan pun yang aktif mengurusi usaha ini cuma aku dan Pak Dwi. Perharinya aku yang lebih sering cek ke sana. Aku jadi bingung, karena jujur saja mahasiswa semester awal hanya bisa menulis bisnis plan, pelaksanaannya nol koma tapi hal ini aku anggap sebagai pembelajaran di kuliah kehidupan. Karena masih baru dibuka toko bukunya masih sepi jadi yang membeli di kafe juga sedikit. Kebanyakan dari mereka pesan minuman. Kalau masih Es Soda, kopi instan, sirup, Es Ria, mie masih gampang aku dan salah satu karyawan yang datang bisa atasi sendiri. Kalau ada yang pesan nasi goreng masih bisa kami layani karena Pak Anto pintar membuatnya. Namun kendala utama kadang tidak ada nasinya. Kalau yang ada di kertas menu, ditanyakan pembeli aku bingung menjawabnya, karena ini memang tidak dibuat disini. Akhirnya aku putuskan untuk penutup beberapa menu. Aku dan Pak Dwi bingung memulainya, daripada bingung pokoknya mulai, apalagi Pak Dwi orangnya sangat optimis. Kalau aku pokoknya semangat. Bulan demi bulan aku lewati dengan dalih suatu pembelajaran. Konsep seadanya. Dua orang karyawan kita gaji selayaknya. Bukan dari hasil jualan tapi urunan. Kas usaha deficit terus. Awalnya urunannya semua peserta akhirnya ujung-ujungnya aku dan Pak Dwi yang putar otak. Jadi kita bekerja atau usaha untuk karyawan, bukan karyawan untuk kita. Hari demi hari aku jalani dengan percaya diri bahkan pada presentasi bisnis dikampus, aku sering mempromosikan melalui diskusi di kelas mata kuliah komunikasi bisnis atau lainnya. Aku sering memberi voucher minum pada mahasiswa, bahkan memperagakan cara membuat Es Ria di depan kelas. Agak ke-pede-an. Dosenku yang masih muda Pak Niko tersenyum geli karena gayaku super pede di kelas. Kalau aku asyik aja. Biasanya aku jadi ketua disetiap diskusi kampus jadi mahasiswa lain ikut aja ide dari aku. Padahal tak akali.
“Silahkan minum ini special dari kami, enak dan seger tenan, datanglah ke tempat kami!” Ucapku pede sambil terbayang keadaan kafe kami yang super sederhana duduknya di tikar alias lesehan asetnya lemari kaca, kulkas, meja hanya 3, kompornya gas kecil yang semuanya milik salah satu teman. Kafenya berada diluar teras lantai dua tanpa dinding sehingga dapat di lihat keramainan Jalan Kaliurang km 10. Pokoknya kala itu aku ekstra berfikir membagi waktu dan tenaga dari kuliah yang semakin sulit, organisasi kala itu jadi sekretaris redaksi majalah kampus juga, intinya jadi pengurus organisasi di dalam dan di luar kampus ditambah cari uang.
Masalah membayar gaji karyawan, aku gunakan cara penawaran di organisasi kampus yang aku ikuti atau di kampus lain. Kala itu aku aktif organisasai dan menjadi kepala Devisi Litbang FOSSEI (Forum Silahturahmi Studi Ekonomi Islam) yang membawai 15 universitas di region Yogyakarta. Dengan link ketua organisasi antar kampus aku punya kesempatan menawarkan keteringku. Kalau banyak yang pesan mencapai 100 porsi lebih aku lempar ke warung makan lain kita makelar aja. Kalau kurang dari itu kami tangani sendiri alias masak sendiri dibantu dua karyawan satu lagi istri karyawanku membantu bila diperlukan. Dulu pernah dapat pesanan acara FOSSEI selama tiga hari dengan dana minim. Salah satu menunya kita masak sendiri yakni dari ke pasar beli bandeng, masak dan cuci piring aku jalani bersama Mbak Ina dan yang operasional Pak Dwi. Alhamdulilah, oraganisasi yang lain dikampus lain kalau membuat acara seminar dan dananya pas-pasan pesannya di aku. Lumayan hasilnya buat gaji karyawan.
“Eh gosong, Mbak, kebakaran!” Teriak salah satu karyawan toko buku. Aku dan Mbak Ina asyik ngobrol sambil menggoreng bandeng untuk ketering besuk sampai tidak sadar ada kertas koran menyambar api dikompor kami. Aku panik. Mbak Ina yang orangnya kecil, suka senyum, tapi gesit langsung menyambar kain lalu dipukul-pukulnya api sampai padam. Ini juga salah satu kejadian yang tak terlupakan.
Suatu hari di Greencafe. Kutancap gas motorku pergi ke sana, lebih pagi yaitu sekitar pukul 08.00. Jalan kaliurang ini cukup ramai. Status Merapi kali itu Awas. Sempat terjadi awan panas, namun tidak seperti letusan Merapi baru-baru ini. Mobil lalu lalang, ada ambulance Bulan Sabit Merah, truk pengungsi, dan kendaraan pribadi. Sesampainya di kafe. Aku bertemu karyawanku, Pak Anto. Ternyata hari ini dia yang jaga.
“Gimana Pak, ramai? Lho persediaan habis ya, buah dikulkas habis juga.” Tak lama aku berada di sana ada sebuah mobil putih mirip ambulance dan kayaknya memang ambulance bergambar bulan sabit merah parkir di depan took buku. Aku lihat seksama dari atas teras. Kemudian aku lanjutkan mengambil sapu dan kusapu tempat duduk kafe yang penuh debu dari luar maklum karena tidak ada dindingnya. Tak berapa lama aku bersama Pak Anto bersih-bersih ada dua orang seusiaku datang kapada kami. Salah satu diantaranya memakai rompi bulan sabit merah dan berlogat melayu dan yang satunya lagi kayaknya orang Indonesia. Mereka membuka pintu kaca yang memisahkan toko buku dan teras.
“Mbak sudah buka?” Tanya salah satu dari mereka. Karena prinsipku jangan pernah menolak pembeli aku jadi bilang sudah padahal seingatku persediaan buah habis, yang ada kopi instan dan mie, aku juga belum nengok rice cooker. Mereka duduk mengobrol dan memilih menu. Kami pesan nasi goreng dan es buah.
“Ya Mbak, silahkan,”jawabku datar.
“Gimana nih, buahnya habis nasinya ada tidak ya,” kataku dalam hati. Aku tengok rice cooker ternyata ada nasi kemarin. Aku minta Pak Anto membeli buah-buahan. Ia bergegas pergi sedang aku cari cara ulur waktu. Mereka asyik mengobrol dengan gaya bahasa yang aku tidak terlalu paham, nampaknya yang berompi itu dari Malaysia.
“Oya aku harus masak nasi goreng nih, Pak Anto belum datang–datang.”ujarku lirih
“Mbak gimana pesanan kami?” Tanya mereka mulai gelisah.
“Ya, Mbak, mohon maaf, membuat menunggu.”
Aku buka rice cooker mengambil nasi,
“lho nasinya kok lembek banget”. Aku kikuk sambil sesekali bergumam sendiri dan melirik mereka. Aku racik bumbunya lalu aku tumbuk.
Wah sudah semakin gelisah, giimana ya, harus bisa pasti bisa. Aku ingat buku The Way to Win, Solikhin Abu Izzuddin Pro-U Media Positif-Kreatif-Solutif. “Kalau kita berpikir menang, maka semua potensi akan kita undang, seluruh kekuatan akan kita galang, seluruh lahang rintang akan kita terjang dan kita menang.”
Aku hidupkan kompor dan meletakkan penggorengan di atasnya. Lalu minyak, bumbu dan bismilah nasinya tapi sedikit kebanyakan. Memang nasinya mblenyek alias lembek, bumbu yang aku buat tidak membuat nasinya berubah warna masih putih bahkan masih bergumpal.
“Gimana nih?” Buat bumbu lagi, aku tengok persediaan bumbu ternyata tidak mencukupi meskipun dibuat hasilnya tidak relevan. Akhirnya dapat ide menambah kecap. Aku segera raih kecap. Letupan-letupan nasi lembek yang menempel di penggorengan membuat aku jadi tambah panik. Kubuka tutup kecap dengan tergesa-gesa.
“Mbak gimana pesanan kami?” kata salah satu dari pembeli yang datang menghampiriku.
“Ya Mbak ini sedang disiapkan!” Jawabku dengan senyum.
Dan, ups! Tumpah, seluruh kecap yang ada di botol tumpah dalam penggorengan membuat nasi goreng lembek menghitam.
“Ya gimana nih!” Sementara itu, karyawanku datang membawa buah-buahan.
“Ada apa Mbak? Tanya Pak Anto.
“Gimana nih nasi gorengnya, Pak Anto?” Tanyaku panik.
“Ambil saja kecapnya yang didalam, Mbak!” Saran Pak Anto.
Segera aku ambil dengan sendok, tapi tetap saja masih terlihat lembek dan banyak kecapnya.
“Pak segera siapkan es buahnya, biar aku atasi” Kataku pada Pak Anto.
Akhirnya nasi gorengnya aku anggap sudah matang dengan keadaan yang memprihatinkan. Banyak kecap di nasi goreng, namun aku sajikan saja dalam piring begitu pula es buahnya kita sajikan dalam gelas bowl. Sedangkan es buahnya juga kurang maksimal karena Pak Anto hanya mendapatkan buah semangka saja sedangkan di kulkas melonnya agak kering. Pokoknya payah. Hidangkan tidak ya? Aku sebetulnya tidak enak, kalau tidak dihidangkan mereka sudah sampai bosan menunggu, sedangakan kalau dihidangkan seperti ini keadaanya. Akhirnya setelah pikir-pikir sambil curi-curi pandang ke dua pembeli atau dua relawan merapi itu,akhirnya aku hidangkan juga.
Pak anto mengambil baki dan mengantarkan pesanan.
“Kok lama banget!” komentar Mbak yang dari Indonesia dengan nada agak lantang.
Aku cemas, mukaku tidak karuan, sedikit berdiskusi dengan Pak Anto untuk member diskon. Kami jadi malu sedikit cemas. Perasaan bersalah. Aku masih curi-curi pandang mereka. Tak berapa lama mereka bangkit dari duduk dan hendak bergegas pulang.
“Pak kok cepat banget ya, Pak Anto itu mereka mau membayar.”bisikku
“Berapa semua, oya nasi gorengnya tidak enak tuh”ketus mereka. Muka mereka kelihatan aneh dan berbau kecewa dengan kami.
“Maafkan kami, semua dua belas ribu rupiah Mbak,” jawab Pak Anto.
Mereka pergi dan terlihat ingin mengungkapkan berjuta komplain.
Walaupun kritik tidak terlalu dilontarkan pada kita. Perasaanku serasa memikul 100 ton rasa bersalah. Bergegas aku bereskan piring yang penuh dengan nasi goreng hitam. Artinya mereka mungkin hanya memakan 1-2 sendok aja. Sementara itu Pak Anto senyum-senyum.
“Kok senyum aja Pak?”
“Aku mencoba nasi gorengnya Mbak seperti makan kecap dengan nasi yang lembek!”
“Ya iyalah udah deh tetap semangat aja, lagian tadi juga kita kasih murahkan.” Jawabku berusaha menghibur diri sendiri.
Aku pulang dengan berjuta perasaan, yang paling mononjol adalah perasaan haru, karena aku tidak berharap bertemu dengan kedua relawan itu lagi untuk sementara waktu. Jelaslah mana mungkin aku bertemu kembali dengan mereka kan aku tidak kenal, apalagi salah satunya dari Malaysia.
Besuk pagi hari minggu, aku mau pergi ke Islamic Center Seturan mengikuti kajian ilmu agama, kuliah jalan, bisnis belajar, mengaji jangan sampai ditinggal. Aku segera berbenah dan langsung tancap gas menuju ke gedung yang jaraknya hanya 500meteren dari kos.
Sampainya di Islamic Center Seturan.
“Wah, agak telat nih, kurang pagi. Lho kok ada Ambulance Bulan Sabit Merah ada acara apa ya? Spontan saja memoriku langsung tertuju pada nasi goreng kecap.
“Assalamualaikum, maaf Mbak tulis daftar nama dulu, dan infaknya lima ribu!” Seorang gadis berjilbab putih cantik menyapaku.
“Waalaikumsalam, iya Mbak. Lho hari ini kajiannya apa ya, Mbak?”
“Hari ini ada acara pelatihan penaggulangan bencana.”
Mungkin persiapan Merapi. Dengan secepat kilat aku menulis daftar hadir takut acara segera dimulai. Sedikit tidak konsen karena terbayang ambulance tadi dan kejadian seminggu yang lalu. Sampai di pintu ruangan ada seorang yang posturnya dari belakang kayak aku sudah pernah berjumpa. Siapa ya? Tak lagi menebak-tebak. Si wanita berpaling padaku dan menyambutku dengan salam. Aku pun membalas salamnya namun dengan air muka linglung.
“Lho ini Mbak yang di toko buku ya?”
“I…iya Mbak, boleh masuk?” Bergegas aku masuk seperti kejatuhan gunung es pipiku merona malu karena ternyata salah satu penyelenggara acara adalah pembeli itu.
Saat acara berlangsung aku yang biasanya vocal, aktif bertanya kali ini menunduk terus. Tidak konsentrasi. Tak seperti harapanku ternyata aku dipertemukan dengan banyak kecap di nasi goreng eh maksudku pembeli itu. Ya Allah maafkan aku, mungkin Engaku tuntut aku belajar lagi dalam bisnis tidak asal-asalan.
Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat–Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba yang shaleh. (QS An Naml:19)
“Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dekat dengan kekasih-Mu beriman dan bertaqwa semua karena-Mu, mudahkanlah melakukan perintah-Mu, berpegang pada Al Qur’an dan sunah Rasullullah. Salah satunya jadi pedagang yang jujur.
Senyum, merekah dibibirku, bak artis cantik yang melewati karpet merah yang membentang panjang disebuah penghargaan dunia. Sekarang penampilanku agak sedikit berubah, kira-kira apa ya jilbab lebih rapi baju stelan muslim yang pas dan sepatu cantik berwarna coklat tua dikombinasi dengan coklat agak muda melekat pada kakiku. Walau agak ribet, karena ketika aku beli harus pesan dulu, menunggu satu minggu, dan harus diukur karena nomor sepatunya mencapai 42 ukuran sepatu yang tidak lazim untuk wanita. Biasanya cukup pakai sepatu kets penampilan agak berparas lelaki alias agak tomboy ketika kuliah. Biasanya stelan kemeja, celana dan kets karena apa kita tengok dulu aku kekampusnya naik apa? Yap masih dengan sepeda ungu eksotik yang baru aku beli ini berparas lelaki alias desainnya cocok dipakai reli. Wah, kampus semegah ini, salah satu mahasiswanya pakai sepeda trendy, padahal lainnya banyak yang pakai stang bunder dari mobil lama sampai ke sedan dengan merk paling wahid atau minimal motorlah. Seingatku hanya satu mahasiswi yang ke kampus naik sepeda. Namun jangan salah senyumku sore itu, lebih dari kepuasan seorang artis tapi, kepuasan rahmat Iman dan Islam, rahmat berjilbab dan tentunya rahman dan rahim Allah yang telah memberi karunia padaku sebuah sepeda motor trendy. Tiada hasil tanpa usaha. Seingatku karena sepeda ini juga aku bisa menabung untuk membeli sepeda motor ini, Sebelumnya aku jalan kaki, satu kilometer naik bus kota jalan lagi dan kalau mau pergi kemana-mana ganti-ganti bus. Dengan membeli sepeda pengeluaran itu bisa dipangkas.. Bahkan pernah uang di dompet tinggal 100 perak, ini semua untuk menabung. Selama 1 tahun akhirnya dapat beli sepeda motor sendiri. Alhamdulilah ya Allah.
Senyumku masih merekah, bahkan disertai letupa-letupan kepercayaan diri yang luar biasa. Bapak, karyawan Tata Usaha kampus yang menjaga ujian itu, terlihat agak heran, tapi aku yakin ia pasti mengira aku puas dengan jawaban ujianku. Bunyi hak sepatuku, yang lantang menandakan cara berjalanku sore itu penuh percaya diri.
Hati ini berkata yuk cepat menuju sepeda motor barumu dan kita jalan-jalan. Namun kaki ini serasa menolak ajakannya, ia bergerak menuruni jalan melingkar menuju ke kantin lantai I, aku yakin yang dimaksud bukanlah kantin. UKI (Unit Kerohanian islam) tempat aku bergabung dalam organisasi itu inilah perintah otakku dan kakiku tak bisa menolaknya.
Sesampainya di depan pintu UKI, aku keluarkan kunci dan mencari lubang pintu seraya membukanya. Namun mendadak kapalaku dingin seperti ada sesuatu yang menetes dari atas mengguyur lembaran jilbabku.
“Lho air dari mana ini?” Ucapku lirih dengan mendogakkan kepalaku ke atas, ruangan atas kantin lantai 2 yang terlihat pagarnya, memang ruangan ini didesain terbuka melingkar dan terbuka sehingga terkesan lengang. Kuikuti tetesan airnya dan mencari muaranya, ternyata kotak surat UKI.
“Wah, basah nih kotaknya.” Ku raih kotak itu dan memeriksa isi di dalamnya. Aku buka beberapa lembar surat masuk memastikan tidak ada yang penting. Dengan keadaan yang sedikit basah, tulisannya juga sedikit “Mblobor” aku baca satu persatu dan ada surat yang menarik perhatianku undangan rapat di UIN Sunan Kalijaga mengenai Ekonomi Syariah. Hari ini pukul 15.30. Wah, asyik nih di kampus kan belum ada kajiannya ataupun mata kuliah yang detail tentang ini.
“Datang ah daripada jalan-jalan tok. Ini juga Ada acara lomba bisnis plan juga ya yang adakan Greenleaf jogja cuma 4 lembar ikut juga ah.”
Aku bergegas menuju rapat yang diadakan FoSSEI (Forum Silahturahmi Studi Ekonomi Islam). Ternyata banyak juga yang datang kebanyakan dari mereka datang dari lembaga Dakwah berbagai kampus akupun berkenalan dengan beberapa orang. Mereka pada heran, karena mereka anggap di kampusku tidak ada lembaga dakwah, Ketua dan wakil FOSSEI menyambut dengan ramah dan mengucapkan selamat datang padaku bergabung dengan komunitas FoSSEI yaitu suatu organisasi nasional dibidang kajian ekonomi syariahuntuk kalangan mahasiswa salah satu kegiatannya adalah kuliah umum. Sebelumnya diisi dengan kajian Ekonomi Syariah oleh praktisi dari salah satu Lembaga Ekonomi Syariah lalu rapat untuk menyambut Telminas tahun 2006 mereka menyebutnya Temu Ilmiah Nasional. Tempat terselenggaranya di UNSOED Purwokerto selama 1 minggu. Banyak kegiatan di sana salah satunya lomba karya ilmiah dan seminar.
Sepulangnya dari acara itu, terpikir olehku bagaimana caranya aku ikut dan kampus mendukungku. Karena biayanya juga cukup lumayan untuk ukuran mahasiswa pas-pasan. Pendaftaran mengikuti acara itu sekitar Rp 350.000 belum termasuk transport. Aku memutar otak semalaman supaya bisa ikut. Tapi ikut yang tanpa biaya. Kepepet adalah bagaimana mengkombinasikan antara kecerdasan dan kecerdikan. Nah, bukankah bila sudah pernah ikut lomba di intern kampus dan menang bisa jadi rekomendasi ikut lomba di ekstern kampus. Aku pernah juara karya tulis di kampus meski hanya juara 3. Tapi aku belum pernah menulis tentang Ekonomi Syariah. Yang jelas motivasiku kali ini adalah mengenal kegiatan secara nasional, Ekonomi Syariah, menambah ilmu, dan piknik gratis, karena di dalam agenda acara Telminas juga ada acara piknik ke batu raden dan mengunjungi desa wisata.
Gimana caranya ya? aku menemui Bapak Rektor untuk menunjukan undangan telminas. Menimbang aku juga pernah juara menulis di kampus, akhirnya beliau menyetujui untuk mengirimku lomba di telminas.
Acara Telminas itu tinggal 3 mingguan. Bagaimana ya enaknya mulai dari mana aku menulis karya tulisnya. Oya seperti yang dulu cari bahan referensi, aku harus beli beberapa buku dan mencari di perpustakaan. Ikut seminar dan kajian ekonomi syariah di masjid-masjid atau di kampus-kampus lainnya. Aku yakin di Yogyakarta ini banyak potensi yang kita manfaatkan. Apalagi aku bukan lulusan pesantren atau sekolah agama, harus usaha lebih ekstra. Dengan ikutnya aku acara ini jadi keliling-keliling jogja, habis kuliah dan bisa nganyari sepeda motorku juga.
Matur nuwun Allah disaat aku membutuhkan kendaraan untuk kegiatan, Allah sudah pas menyediakannya. Dari masjid ke masjid, aku datangi kadang untuk mencari jadwal berbagai kegiatan aku membacanya di papan pengumuman yang di pasang di masjid kampus UGM atau sekedar di depan UKI. Bahkan terkadang aku tidak mengikuti acara kajian ilmu ekonomi syariah tapi pengajian Tauhid, Ibadah dan lainnya. Pokoknya yang penting bermanfaat. Tak ketinggalan pula di perpustakaan aku baca buku-buku ekonomi kalau ada yang mengarah ke tulisan aku jadikan referensi. Tiga minggu ini harus maksimal. Tak mau ambil pusing aku gunakan karya ilmiahku yang aku ikutkan lomba di kampus tentang ekonomi mikro tapi aku sangkut-pautkan dengan Ekonomi Syariah. Aku habiskan jatah jajanku buat beli buku Ekonomi Syariah. Karena terus terang aku tidak mudeng blas mengenai ini. Jadi, buku yang aku beli pun yang Ekonomi Syariah Dasar.
Pada titik puncak habisnya uang saku untuk biaya beli buku, rental computer dan print out. Aku harus cari cara bagaimana bisa dapat referensi baru. Pergi ke toko buku dan membacanya disana.Karena kali ini betul-betul hemat sampai membayar parkir masuk di salah satu toko buku yang buku-bukunya bisa dibaca ditempat aku pikirkan. Kugenjot gas motorku menuju ke sana. Parkir kemana ya? Oya aku parkir disalah satu Lembaga Les Bahasa Inggris aja yang tempatnya tidak jauh dari toko buku itu. Aku tahu betul disana parkirnya aman dan tidak bayar. Setelah aku parkir aku berjalan kearah toko buku itu. Eh, ternyata lumayan juga jalannya 500 meteran.
“Kalau mau gratis ya capek pikirku.” Sampai disana aku bingung cari buku yang mana. Akhirnya aku mendapatkan beberapa buku yang pas untuk memperkuat ideku.setelah agak lama aku baca tiba-tiba ada pelayan yang menyapu disekitarku.
“Permisi-permisi!”
Aku pindah ketempat yang nyaman tiba-tiba ada yang lewat mengepel lantai
“Maaf mbak mau dipel dulu!”
Lalu aku jongkok membacanya, eh ada lagi yang menata buku yang baru akan dimasukan di rak.
“Aduh agak tidak konsentrasi, apa ini taktik toko ya, biar pelanggannya tidak cuma baca gratis tapi membelinya. Ah peduli amat aku dah bokek mau gimana lagi.”
Lalu aku baca buku The Way to Win, Solikhin Abu Izzuddin Pro-U Media Positif-Kreatif-Solutif. Cukup inspiratif buku ini. Allah aku harus tetap bersyukur dengan keadaanku sekarang, semangat positif thingking, Kreatif dalam bertindak dan karyaku harus solutif meskipun awalnya solusi ini untuk mengganti beli buku. Ada sebuah ungkapan yang membakar semangatku dibukunya Solikhin Abu Izzuddin The Way To Win “Kalau kita berpikir menang, maka semua potensi akan kita undang, seluruh kekuatan akan kita galang, seluruh lahang rintang akan kita terjang dan kita menang.” Tiga hari lagi akan aku selesaikan tulisanku.Bismilah! ini inspiratif aku harus bersemangat. Ini perlu dicatat tapi pakai apa ya oya bolpoin dan kertas. Aku catat beberapa referensi yang ada di buku tentang Manajemen Keuangan Syariah, namun ada yang aneh kelihatannya ada suara sepatu yang menghampiriku. Aku melongok dan bangkit dari jongkok. Mataku kontak langsung dengan seorang bapak berkumis dengan seragamnya putih biru tua membawa pentung. Satpam.
“Ya Pak, ada apa Pak?”aku berdiri agak gemetaran.
Ia ambil kertas ditanganku.
“Mbak Anda dilarang menulis apapun disini apalagi menulis dari buku di sini.”
“Tidak boleh ya Pak, maaf saya tidak tahu.”
“Silahkan membeli buku kalau Anda ingin mengetahui isi buku itu.”
“Baik, Pak terima kasih.” Aku meletakkan buku itu memasukkan seribu malu dalam kantong. Bergegas turun ke lantai bawah berjalan menuju motorku dan cabut dengan rasa yang aneh.
“Gimana ya ada referensi penting yang belum aku tulis aku harus kembali ke toko itu. Besuk tapi gimana caranya? kalo dihafalkan nanti tidak pas atau lupa. Ya Allah maafkan aku, permisi pemilik toko semoga jadi amal. Tadi bapak satpam bilang tidak boleh membawa alat tulis. Tapi kalo dicatat di inbox hp boleh kan? Yes dapat solusi aneh, dan agak maksa namun kali ini berhasil. Satu masalah beres dan tulisan lomba untuk Purwokerto beres tinggal bisnis plan. Hasil wilayah Allah yang penting usaha secara maksimal sedikit kere-aktif.
Besuk kuliah hampir seharian bisnis plan-nya aku garap disela-sela kuliah. Seingatku bisnis plan itu berjudul Bandeng Pantura. Karena aku mahasiswa akuntansi kala itu semester 5, tulisan bisnis planku yang isinya paling menonjol adalah perhitungan keuangannya, meskipun secara ide sederhana. Konsepnya sudah aku selesaikan. Ternyata hari ini deadline dan nanti jam 4 sore paling lambat di kumpulkan di kantornya. Kurang 2 jam lagi. Aku ke rental komputer untuk mengetik bisnis plan. Karena dibatasi 4 halaman saja hanya mirip lomba ide bisnis sederhana saja. Alhamdulilah selesai juga. Sudah hampir setengah empat aku bergegas mengantarnya langsung keburu kantornya sudah tutup. Mana alamatnya harus mencari dulu. Kantornya dekat Rumah Sakit Swasta Bethesda Lempuyangan, padahal aku hanya tahu Bethesda yang di jalan Soedirman. Aku bertanya pada salah seorang tukang becak dan ia memberi arah jalannya memang tidak jauh dari Bethesda Soedirman.
Sampai di jalan belokan.
“Ada apanya kok orang-orang pada balik arah. Ternyata ada pemeriksaan kelengkapan motor padahal sudah mau sampai. Aku periksa dulu.” Aku berhenti di tepi jalan dan memeriksa tas ternyata tidak ada. Kepanikanku terhenti sejenak karena aku baru ingat kalau suratnya tertinggal di kasur. Gimana ya. Tiba-tiba dibelakangku ada polisi jaga untuk menahan kendaraaan roda dua yang hendak berbalik arah.
“Ada apa Mbak, terus aja ngantri lurus, tidak boleh balik!” Ia berteriak kepadaku. Aku masih duduk di atas motor yang aku tepikan. Ya Allah maafkan aku berilah pertolongan kepadaku. Ampuni dosaku. Astaghfirullah, tidak tahu entah siapa yang menggerakkan badan ini kalau bukan Allah. Aku spontan menyandarkan motorku seperti menyerah pada Pak Polisi. Biar ditangkap dan disita saja motorku, yang penting aku segera ke Greenleaf menyerahkan naskah ide bisnis ini. Aku tidak akan ambil pusing memang aku melanggar lalu lintas dengan tidak membawa surat. Ya Allah tuntunlah lidahku untuk kebaikan. Aku menghampiri polisi. Maunya sih pasrah ditilang tapi malah perkataan yang keluar dari mulutku adalah sebuah pertanyaan.
“Maaf Pak Rumah Sakit Swasta Bethesda ke arah mana ya, Pak?”
“Rumah Sakit itu di jalan sana, Mbaknya belok arah lalu belok ke kiri.” jawabnya
“Maaf, Pak matur nuwun.” Ujarku sambil segera berbalik badan mengambil motor. Rasanya senang-senang aneh, senangnya kok aku sendiri yang dilepaskan belum diperiksa suratnya malah disuruh balik, anehnya bukankah itu alamat rumah sakit yang di jalan satunya. Pak polisi salah paham atau aku tanyanya tidak lengkap ya?
“Ya mbak lurus belok kiri ya?” Ia kembali berteriak untuk memastikan aku tidak salah jalan. I am sorry Pak Polisi, lain kali aku bawa surat lengkap dan tidak melontarkan pertanyaan itu lagi. Tapi tadi lidah kayak keseleo.
Senyum merekah kembali. Kalau pulang ambil surat terlalu jauh. Aku ke masjid kampus UGM saja, cari solusi di tempat itu adalah tempat suci untuk shalat jadi ingat bukunya Salman Ar Raisy “Success with shalat inilah shalat, dalam gerak dan ucapnya ada hikmah yang dasyat “sekolah” kesuksesan terhebat.. sukses yang didapat bukan kesuksesan semu dihadapan manusia, tapi kesuksesan yang membuat jiwa tidak lagi hampa.
Allah mudahkanlah aku, ada pepatah mengatakan tempat yang aman adalah tempat yang paling tidak aman. Aku balik lagi kesana pasti sudah tidak ada lagi Razia. Setelah berapa lama di masjid aku kembali lagi ke sana, jam tanganku menunjukkan pukul 16.00. Alhamdulilah Sudah tidak ada Razia. Alhamdulillah Allah. Aku dimudahkan sampai dikantor ternyata masih ada orang. Ironisnya pengumpulan ide bisnis diperpanjang besuk jam pagi. Ya tidak apa-apalah yang penting aku selamat.
Aku kalah dalam lomba karya tulis di Purwokerto, namun lomba bisnis plan aku juara pertama. Alhamduliah yang penting dalam hal ini adalah semangat untuk bertanding. Hasil wilayah Allah. Aku juga tidak pernah menyanggka Allah memudahkan ide-ide ini. Tuntunlah aku untuk selalu bersyukur Allah. Selanjutnya aku makin percaya diri mengikuti lomba-lomba lainnya ketika kuliah semua karena keaktifaku di organisasi FOSSEI info lomba selalu fresh. Prestasi lainnya lomba Karya tulis di UNDIP masuk lima besar/finalis dan UIN SUKA acara ulang tahun Fakultas Syariah Maret 2006 aku juara pertama juga Karya Tulis Ekonomi Syariah.
Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat–Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba yang shaleh. (QS An Naml:19)
“Motorku matur nuwun diantar kemana-mana, semoga surat-suratmu tidak aku tinggalkan lagi. I am Sorry Pak Polisi!”
Pernikahan adalah sebuah ibadah, ibadah yang menggenapkan setengah dien. Menikah bukan sekedar melegalkan sebuah hubungan menjadi sah baik secara agama maupun negara. Menikah bukan sekedar mensucikan sepasang orang yang saling mencintai. Menikah bukan sekedar mendapatkan seseorang yang kita cintai. Tapi lebih dari itu yang bisa kita peroleh, keridhoan dari Allah, keberkahan dunia, pertolongan di akhirat hingga mampu membangun peradaban.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang akan ia peroleh atau wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju.”
Siapapun pasti ingin menikah karena ia adalah ibadah yang dijalankan oleh Rasulullah namun tidak semua orang berani mengambil keputusan untuk menikah di usia muda. Salah satunya adalah Asa. Sama halnya dengan manusia lain yang juga ingin menikah tapi tak pernah terfikirkan dibenak Asa untuk menikah di usia muda. Dulu saat usia Asa masih remaja jika ditanya tentang kenapa Asa tidak ingin menikah di usia muda, Asa hanya menjawab: ”takut”. Ternyata ketakutan Asa bukanlah tidak beralasan ketika ditanya lebih detail tentang alasan munculnya jawaban tersebut Asa memberi jawaban bahwa ia takut ketika salah dalam memilih suami, Asa takut kalau suaminya nanti hanya mencintainya di awal saja, Asa takut jika pernikahannya nanti hanya bahagia diawal, Asa takut jika kemudian terjadi perselingkuhan bahkan perceraian dalam pernikahannya.
Seiring berjalannya waktu saat masuk perguruan tinggi Asa mulai membaca buku tentang pernikahan dimulai dari buku berjudul “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” yang ditulis oleh Salim A Fillah dan “Cinta Kita Beda” yang ditulis oleh Muhammad Nazhif Masykur dan Evi Ni’matuzzakiyah yang sedikit demi sedikit membuat Asa yang saat itu sedang tumbuh dewasa memiliki pandangan lain akan sebuah pernikahan. Pernikahan yang bahagia, suci dan diridhoi Allah swt karena semuanya hanya berlandaskan dan ditujukan untuk Allah swt. Dan ketakutan itu pun perlahan tapi pasti mulai sirna.
Namun ternyata tidak selamanya perjuangan itu berjalan mulus. Ujian pun mulai datang silih berganti saat Asa mulai menginjak usia 20 tahun keatas (usia menikah) dimana telah banyak teman-teman bahkan saudara dekatnya yang mulai memasuki jenjang pernikahan. Ketika muncul seorang laki-laki sebut saja X yang bermaksud untuk menikahinya, saat itu ketakutan Asa sempat muncul kembali.
Berawal dari aktivitasnya disebuah organisasi kemahasiswaan, sebenarnya bukan pertama kali Asa aktiv dalam organisasi. Organisasi tersebut sudah organisasi yang kesekian kali yang Asa ikuti. Asa pun sudah terbiasa mengenal dan berteman dengan banyak orang. Namun, X yang sempat berada dalam satu organisasi dan seringnya melakukan akivitas bersama hampir sanggup memunculkan kekhawatiran dan ketakutan pada diri Asa.
Saat itu sebenarnya Asa belum terfikir tentang pernikahan karena baginya pernikahan belum masuk dalam salah satu program terdekat yang akan ia jalankan. Namun isi sms yang dikirimkan oleh X mampu membangkitkan keinginan Asa untuk menikah. Asa berfikir positif bahwa apa yang X utarakan adalah suatu keseriusan namun seketika sempat muncul ketakutan yang dulu pernah ia rasakan. Saat untuk pertama kalinya X menyampaikan maksudnya untuk menikahi Asa melalui sms, Asa menjawabnya sebagai gurauan, hal tersebut dikarenakan seringnya X bergurau dengannya ditambah dengan ketakutan Asa menghadapi sebuah kenyataan.
Ketika kemudian untuk kedua kalinya X menyampaikan maksudnya tersebut melalui telfon hal tersebut membuat Asa berfikir bahwa urusan ini bukanlah main-main dan Asa pun mulai berani untuk mencari kebenarannya. Asa pun menanyakan perihal maksud X tersebut apakah benar-benar serius atau tidak, ternyata X memang benar-benar serius. Bukan kebahagiaan yang lantas langsung Asa rasakan saat mendengar jawaban itu tapi justru kekhawatiran yang muncul. Asa khawatir jika niat awal mereka menikah nanti sudah dikotori oleh keinginan dunia, Asa khawatir jika ia terjebak dalam perasaan cinta yang salah, Asa khawatir jika pernikahannya nanti dimulai dengan sesuatu yang kurang baik, Asa khawatir jika pernikahannya dengan X terlaksana akan menimbulkan fitnah karena sebelumnya mereka sudah saling mengenal dan dekat ketika berada dalam satu organisasi. Namun Asa sadar bahwa semua itu harus ia hadapi dan Asa kembalikan semuanya hanya kepada Allah swt. Maksimal tiga bulan sejak X menyatakan keseriusannya untuk menikahi Asa keputusan ataupun jawaban itu harus sudah ada, entah nanti keputusannya menikah ataupun tidak Asa hanya ingin menyerahkan urusannya kepada Allah swt.
Sejak saat itu di malam harinya Asa melakukan shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah swt. Sepanjang hari tak henti-hentinya Asa berdoa. Jika ia memang jodoh yang baik untukku, agamaku, keluargaku dan seluruh umat yang bisa membimbing dan menjadi imamku untuk dunia dan akherat maka ridhoilah, berilah ketenangan dan jadikan kami dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci, namun jika ia memang bukan jodohku maka jauhkanlah ia dariku dan jadikanlah ia dengan seseorang yang lebih baik. Asa hanya minta yang terbaik dari Allah swt. Apapun jawabannya nanti itulah yang terbaik yang Allah swt berikan karena Allah swt yang maha tahu dan maha adil. Allah swt memberi berdasar apa yang kita butuhkan bukan berdasar pada apa yang kita inginkan. Allah swt lebih menyukai prosesnya jadi ketika proses yang kita jalankan sudah baik, benar dan halal apapun hasilnya nanti seharusnya kita tetap bahagia.
Selain itu Asa juga tak henti-hentinya berdoa supaya ia tidak larut dan jatuh kedalam cinta yang salah. Beratnya memanage hati sebelum saatnya tiba tidak lantas membuat Asa berhenti untuk senantiasa berusaha. Cinta memang anugerah yang Allah swt berikan kepada makhluk-Nya. Asa ingin ketika ia jatuh cinta nanti tepat pada waktunya, tepat pada sasarannya, tepat pada tempatnya dan tepat pada tujuannya. Asa ingin mencintai seseorang disaat Allah swt sudah meridhoinya dan dalam pernikahan yang suci, Asa ingin cintanya kepada seseorang tidak melebihi cintanya kepada Allah swt, Asa ingin cintanya kepada seseorang menambah kecintaannya kepada Allah swt. Biarkan cinta itu indah pada waktunya.
Kini Asa hanya butuh kesabaran dengan tetap berikhtiar dan bertawakal kepada Allah swt hingga tiba saat Allah swt memberikan jawaban terbaiknya kepada Asa.
Aku sebuah zat yang bukan apa-apa, berasal dari kota kecil di ujung pulau sumatera, Bandar Lampung. Keluargaku sangat bahagia walau hidup biasa-biasa saja, kami sangat bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Tapi hidup tidak selamanya indah, 22 Desember 2004, hari seperti tidak ada matahari, Dia pergi meninggalkanku. Sebuah zat yang amat kusayang, sebuah zat yang kupanggil ABI. Saat itu aku tidak menangis, untuk apa aku menangis, tidak akan bisa mengubah semuanya, tp ternyata aku masih cukup belia untuk bisa mengerti dan menjadi bijak dalam menanggapi hal ini.Saat itu kufikir Tuhan begitu jahat,mengapa harus aku? Tidakkah Tuhan kasian kepadaku? Bagaimana mungkin aku bisa menerima semua ini.
Setelah Abi pergi semua hal berubah, semua begitu terasa berat, tidak ada yang bisa kami lakukan, aku menangis, bukan karena berlarut-larut sedih karena kehilangan seorang ayah, tp aku menangis karena tidak tau bagaimana bisa kami meneruskan hidup ini. Aku, umi, dan kedua adikku yang masih kecil, kami berempat tinggal di sebuah rumah gubuk yang terbuat dari papan dan geribik dengan ukuran sekitar 5 x 7 meter, itupun kami menumpang. Menumpang pada orang yang masih menganggap kami ada. Sangat sedih menjalani kehidupan seperti itu, jangankan aku punya cita-cita untuk sekolah tinggi, bahkan untuk makan nanti sore pun harus dicari di pagi hari dulu, kami tidak punya apa-apa dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Usia ku masih 12 tahun saat itu, adik pertamaku 7 tahun, dan adik kedua ku 3 tahun. Tapi kami tidak ingin terpuruk begitu saja, biarlah orang-orang menganggap kami hina, atau bahkan tidak menganggap kami itu ada, tp kami selalu berusaha untuk mengubah semua ini, Umi ku yang semula tidak bekerja kemudian mengiklaskan diri untuk menjadi tukang cuci dirumah-rumah orang-orang kaya itu, aku setiap pagi berjualan makanan gorengan ke sekolah hahhahaha seperti sinetron, tp itulah yang terjadi, adik-adik ku tidak minum susu, tp mereka tidak mengeluh, mereka sadar betul siapa mereka.
Setiap malam aku melihat umi menangis sesungukan berdoa kepada tuhannya seolah lelah dengan semua cobaan yang telah diberikan kepadanya, tapi dipagi hari aku melihat umi sangat bahagia selalu tersenyum kepada ketiga anaknya seolah hidup begitu indah dan selalu patut untuk kita syukuri, yaaahhh begitulah ibu ku, sosok yang sangat mengagumkan. Karena dial ah aku bisa semangat menjalani hari-hari, aku bekerja keras untuk bisa membahagiakannya, aku belajar giat agar tetap bisa sekolah menyelesaikan SMP ku dengan uang beasiswa, tidak ada niat untuk melanjutkan sekolah ke SMA, apalagi untuk kuliah seperti orang-orang kaya itu, dibenak ku, aku akan bekerja saja, entah pekerjaan apa yang bisa kulakukan, tp intinya aku akan mencari uang untuk adik-adik ku, biarlah mereka yang sekolah tinggi, setidaknya bisa tamat SMP sepertiku, syukur Alhamdulilah jika bisa tamat SMA.
Tapi itulah hidup, tidak selamanya sulit, entah mengapa hari-hari berikutnya terasa lebih mudah untuk kami, kedua adikku semuanya bisa bersekolah tanpa mengeluarkan biaya, dan aku mendapatkan beasiswa untuk masuk SMA terbaik di provinsi ku, SUBHANALLAH, aku seperti bermimpi bisa bersama dengan anak-anak orang kaya itu, betapa senangnya ABi ku di syurga sana jika ia tau hal ini. Aku sangat bersyukur. Kehidupan kami semakin membaik, setelah itu umi punya sebuah warung, umi tidak menjadi tukang cuci lagi. Suatu ketika aku merasa bahwa Tuhan ternyata sangat baik, tidak mungkin dia memberikan suatu cobaan yang tidak bisa kami hadapi, aku akhirnya bisa menjadi lebih bijak dalam memaknai hidup ini. Aku bertekat untuk menjadi bermanfaat dalam hidup ini, bukan hanya untuk diriku dan keluargaku, tapi untuk semua orang, aku sadar betul kehidupan sulit seperti ini sangat banyak yang merasakan, sangat banyak yang diberi Tuhan episode ini, tetapi sangat banyak juga yang tidak mengambil hikmah dari semua ini, semua itu tergantung dari pola pikir dan prinsip hidup masing-masing. Disaat hidupmu kau baktikan untuk orang-orang yang kau sayang, disaat hidupmu memang kau baktikan untuk sebuah perubahan, disaat itu semangat yang luar biasa selalu bersamamu, disaat itu pula rahmat Tuhanmu selalu memberkati mu. Aaamin.
Suatu ketika disaat semua anak-anak cerdas dan dari keluarga kaya yang bersekolah sama denganku itu sibuk memilih universitas idaman mereka, aku hanya terdiam, aku tidak tw mw kemana. Disaat semua orang berdoa untuk lulus try out, aku justru takut kalau lulus, aku takut keinginanku menjadi sebuah keegoisan yang membuatku tidak sadar siapa diriku. Aku bukan seperti mereka yang punya banyak uang, aku bahkan syukur sekali bisa tamat SMA. Kesadaran itu membuatku selalu menghindar jika kawan-kawan bertanya mau kuliah dimana aku. Aku putuskan untuk kuliah yang dekat dengan rumah, itupun nanti jika sudah punya uang, aku ingin bekerja dulu. Tetapi ternyata Tuhan tidak tertidur, dia mengirimkan sahabat yang begitu baik pada ku, saat aku sudah putus asa untuk tidak berkuliah di tempat-tempat yang biasa menjadi idaman bagi semua pelajar pada umumnya, seorang sahabat menghampiriku dengan banyak sekali formulir beasiswa. Setiap hari aku dibujuk, dan aku tidak pernah mau. Dalam fikiranku Untuk apa beasiswa? Semua tetap pasti akan mengeluarkan uang, mungkin uang kuliah jd ringan, tp uang pengeluaran hidup sebagai seorang anak rantau pasti sangat besar, aku menolak semua tawaran itu.
Ternyata Tuhan memang selalu tidak tertidur, kembali lagi Dia mengirimkan rahmatnya lewat malaikat tanpa sayap nya, tiba-tiba aku ditelpon oleh seorang relawan. Dia mengatakan dia dari tim beasiswa suatu tempat kuliah yang menurut ku sangat mahal dan sangat bagus. Wow apa-apaan ini, mana bisa dia menelpon ku??? Ternyata hal ini terjadi karena sahabat ku telah mendaftarkan aku untuk mengikuti program beasiswa tersebut, aku sangat terharu. aku diminta untuk segera datang ke Bandung untuk diberi penataran persiapan mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi itu. Hahhaha tentu aku tidak mau, bagaimana aku bisa ke bandung? Uang pergi untuk menyebrangi selat sunda nya mana?? Disana aku sama siapa? Tidak ada yang ku kenal.
Ternyata fikiran naïf itu pun bisa terjawab, “SEMUA ITU GRATIS”. Subhanallah aku seperti ingin menangis, ini belum lulus ujian, tetapi aku sudah sangat bahagia, aku akan ke bandung, aku belum pernah keluar dr propinsi ku apalagi keluar pulau, hahhahahha andai aku tidak luluspun aku sudah sangat bangga bisa punya pengalaman berharga berkumpul bersama orang-terpilih ini. Total peserta beasiswa ini adalah sekitar 3200, dan diambil 200 besar untuk mengikuti tes masuk, diriku bersama dengan 199 pelajar lain yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia menjalani masa persiapan selama 1 minggu di barak TNI, entah apa namanya aku sampai lupa, yang aku tau hanyalah aku merasa sangat bangga dan senang. Aku sangat ingin lulus, tp seperti tidak mungkin, mereka disekeliling ku ini sangat pintar,aku sangat tidak ada apa-apa nya. Tapi diriku tidak pernah lupa,tidak pernah takut berharap dan bermimpi, toh aku pun tidak pernah menyangka bisa seperti ini, tp ternyata bisa khan, jd aku selalu semangat, aku yakin bisa.
Sudah lupa tanggal berapa, tp selalu ingat bahwa itu adalah hari yang bisa membuat umi ku menangis bahagia karena bangga kepadaku. Umi di telpon oleh donator ku, donator yang begitu baik yang mengatakan bahwa “anak anda lulus bu, dan anak anda berhak atas beasiswa sebesar 100 juta” umi langsung menangis bahkan saya tidak bisa menghentikannya, sangat mengharukan seperti sinetron. aku sangat bersyukur kepada Tuhan ku ALLAH SWT yang maha baik dan maha segala-galanya.
Aku resmi menjadi seorang perantauan, dengan BISMILLAH aku menginjakkan kaki di tanah itu, di pintu gerbang sebuah kampus yang namanya sangat diagung-agungkan. aku resmi menjadi mahasiswi dr kampus ini? aku sangat tidak menyangka. Sebuah pelajaran yang harus bisa kita maknai dari sini adalah tidak ada yang tidak mungkin, bahkan ketika kamu merasa sangat tidak mungkin, aku pernah membaca sebuah buku yang berjudul “from zero to hero” isinya sangat menginspirasi diriku, setelah membaca buku itu aku semakin yakin bahwa semua itu bisa terjadi jika kita memang sungguh-sungguh, tidak ada yang sia-sia, ALLAH sangat melihat perjuangan kita, jangan pernah takut gagal, kegagalan hanya peristiwa sesaat bukan tragedi seumur hidup, jangan pernah takut bermimpi.
Semua yang aku dapatkan sekarang adalah mimpi ku beberapa tahun yang lalu, aku yang dulu bukan apa-apa bahkan tetangga ku mungkin tidak tau namaku, tapi sekarang semua nyaris semua orang di daerahku mengenalku, aku seorang mahasiswi tingkat 2 jurusan Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung dan sekarang sedang merintis usaha untuk menjadi seorang entrepreneur, aku sudah punya sebuah toko buku kecil di lampung, dan sekarang bermimpi untuk membuka sebuah toko lagi di bandung, saat pertama masuk ITB aku bermimpi untuk bisa ke luar negeri setidaknya yang dekat seperti Malaysia atau singapur, dan sebuah fakta bahwa aku akan menikmati musim gugur di seoul korea selatan bersama jurusanku untuk melakukan sebuah study trip disana pada bulan oktober tahun depan. SUBHANALLAH. Betapa indahnya skenario yang telah ALLAH buat.
Masih takutkah kalian untuk bermimpi?? Jelas kalian tidak lupa bahwa semua yang aku dapatkan hari ini adalah mimpi ku beberapa tahun yang lalu? Jadi Jangan malu untuk ditertawai oleh orang lain tentang mimpi yang sepertinya memang tidak mungin terjadi, Selalu semangat, hanya satu yang tidak mungkin di dunia ini yaitu ketidakmungkinan itu sendiri.
Aku lahir dari tiga bersaudara. Aku adalah anak kedua, sementara kakak dan adikku laki-laki. Aku lahir dengan keadaan fisik yang berbeda dari kedua saudaraku. Mereka terlahir dengan normal dan fisik yang sempurna. Sementara aku memiliki kekurangan pada pendengaran dan bagian tubuh sebelah kiriku atau tergantung pendapat orang-orang.
Ketika aku duduk di kelas 2 SMP, cobaan berat menimpaku. Pendengaranku sedikit terganggu. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas jika seseorang ingin mengatakan sesuatu padaku. Dia harus mengulangnya dua atau tiga, bahkan lebih agar aku bisa mendengar apa yang dia katakan. Hingga suatu hari seorang guru menanyaiku sesuatu karena saat itu aku duduk di bangku depan. Dia menanyaiku siapa wali kelasku. Aku harus bilang “apa” sampai 3 kali padanya. Sebenarnya aku tetap tidak tahu apa yang beliau katakan. Lalu, terpaksa aku menggunakan isyarat dengan menggelengkan kepala. Guruku mengira aku tidak kenal waliku. Aku sadar apa yang beliau katakan ketika beliau menanyakannya ulang kepada teman di belakangku. Aku begitu malu saat itu.
Kemudian, aku menceritakan kejadian itu kepada teman terbaikku. Tak lama setelah itu, dia justru menyebarkan berita bahwa aku ini anak tuli kepada semua teman sekelasku. Memang, mereka tidak langsung mengungkapkan itu padaku. Hanya saja, aku tahu dari sikap mereka padaku yang selalu menertawaiku setiap kami ngobrol bersama. Itu lebih menyakiti hatiku.
Saat aku duduk di kelas 3 SMP, aku memiliki teman sebangku yang lebih pengertian dan baik dari teman kelas duaku. Dia tidak pernah membuatku kecewa. Dia biasa aku panggil Siti. Dia pun memiliki teman baik di lain kelas. Dia adalah teman baikku pula, namanya Dewi. Suatu hari ketika kami pulang bersama, Dewi mengatakan sesuatu kepadaku.
“Drijimu kok cilik-cilik we? Medeni,” kata Dewi seraya memegang jari-jariku.
“Eh, ho’o. Kok iso ngono we, Nor?” lanjut Si Siti dengan suara lemah lembutnya.
Lalu aku jawab, “Wis ket lahir.”
“Eh…, delok’en, Sit. Aku dadi keroso jijik, medeni… Hiiiiii….,” kata Dewi dengan raut wajah jijiknya.
Aku dan Siti hanya diam tidak menanggapi apa yang Dewi katakan.
Ujian Akhir Nasional pun tiba. Aku tidak begitu menghiraukan apa yang telah mereka katakan padaku. Yang terpenting adalah aku bisa lulus dengan nilai yang baik. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saat sebuah amplop yang berisi surat bersejarah dalam hidupku itu dibagikan kepada orang tuaku. Dan ternyata……. Alhamdulillah aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, tentunya dari hasil kerja kerasku sendiri. Namun, entah kenapa aku masih berpikir sesuatu pada temanku yang hidup dalam kondisi fisik yang sempurna dan nilai yang lebih tinggi dari nilaiku. Mungkin Allah lebih sayang pada mereka. Tapi, sesaat kemudian aku segera menghapus prasangka yang demikian. Aku percaya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Penerimaan siswa-siswi baru di SMA telah dibuka. Aku langsung mendaftar ke SMA 2. Karena nilaiku yang begitu dekat dengan batas minimum nilai penerimaannya, maka kuputuskan untuk daftar di SMA lain yang tentunya masih berstandar SSN. Selama MOS, aku memiliki teman yang cukup banyak. Aku merasa menikmatinya dan tidak terbebani dengan ejekan-ejekan yang pernah teman SMP-ku katakan padaku.
Kupikir aku sudah terbebas dengan cobaan itu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku memiliki teman sebangku yang bernama Ari. Dan dua teman di belakangku yang bernama Tari dan Dika. Dari teman-teman sekelasku, kami berempatlah yang paling aktif memperhatikan pelajaran.
Suatu hari kami sekelas melakukan praktikum biologi. Kami harus pindah ruang untuk praktek tersebut. Dalam perjalanan menuju ruang praktek, Ari mengatakan bahwa kakiku begitu kecil dan pendek. Untuk yang kedua kalinya, dia pun mengatakan jari-jariku begitu pendek. Dia menganggap kalau apa yang aku kerjakan lebih buruk dari apa yang dia kerjakan, tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Dengan penuh lapang dada aku terima ejekan itu. Aku jawab, “Emboh. Aku durung ngerti.”
Keesokan harinya, kami ada kegiatan di masjid. Tentunya kami harus melepas alas kaki. Kemudian, salah seorang temanku mengatakan bahwa jari-jari kaki kiriku sangat kecil.
“Opo koe disek lahir prematur tow? Aku yow lahir premature, tapi ora nganti ngono kui,” katanya.
Aku hanya bisa tersenyum padanya.
Tiba pertengahan semester genap, kami murid kelas satu ditugaskan untuk membuat laporan outdoor session yang pernah dilakukan pada semester sebelumnya secara berkelompok. Saat itu, aku berkelompok dengan Ari, Tari, dan Dika. Kami membuat laporan itu saat liburan UAN kelas tiga di rumahku yang tak jauh dari sekolah. Dalam suatu diskusi, aku mengajukan pernyataan, tapi mereka tidak menghiraukanku seakan-akan aku dianggap tidak ada. Saat mereka yang mengajukan pernyataan, aku hargai mereka. Hingga saat itu aku benar-benar tidak mendengar apa yang Ari katakan padaku. Sungguh aku tidak berniat cuek padanya. Dia justru memarahiku.
“Weh, tak takoni malah meneng wae ki loh,” itulah marah Ari padaku.
“Wis, biasa. Connect-ke sui wonge. Dadi ndadak nganggo mix trus dipolke suarane,” kata Dika, walaupun dia hanya bercanda saja.
Mereka bertiga langsung menertawaiku. Aku pun ikut tertawa walaupun sebenarnya hatiku sangat sakit. Sebenarnya, tidak masalah bagiku kalau mereka mengejekku bahwa jari-jari dan kakiku pendek dan kecil. Tapi, hinaan terberat bagiku adalah jika mereka mengejek pendengaranku. Sebenarnya apa yang mereka ejek. Lagipula, aku masih bisa mendengar, hanya kurang bisa mendengar dengan jelas.
Peristiwa itu hampir membuat teman satu kelasku tahu tentang diriku, bahkan satu sekolahan. Mereka terus menertawaiku karena aku dianggap tuli. Aku merasa bahwa aku adalah anak yang paling terhina, menjadi bahan tertawaan mereka.
Sepulang sekolah, aku langsung tidur di atas ranjang yang empuk. Dalam tangisan, aku berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosa yang pernah aku lakukan begitupun dosa mereka yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah melukai hatiku. Sungguh aku tak bisa menahan ini lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku terus dan terus menangis hingga terdengar suara hati nuraniku yang paling dalam.
“Janganlah kamu terus bersedih. Sesungguhnya, cobaan itu akan membuatmu tahu siapa dirimu sebenarnya dan apa yang harus kamu lakukan, yang terbaik untuk dirimu dan orang lain. Allah tidak akan memberi cobaan yang di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Itu berarti kamu bisa menghadapinya. Cobaan membuktikan seberapa besar cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Semakin berat cobaan-Nya, maka Allah pun semakin cinta kepadamu. Bersabarlah dan carilah kelebihanmu,” kata hati nuraniku.
Sejak saat itu, tumbuhlah semangat hidup dalam jiwaku. Akan aku buktikan bahwa perkiraan mereka salah terhadapku. Aku bisa lebih baik dari mereka. Tentunya, akan kulakukan karena Allah.
Pada saat akhir semester, semua guru harus mencari nilai untuk nilai rapot nanti. Di situlah kesempatanku untuk membuktikannya. Hari Rabu, jam pertama adalah jam olahraga. Guru olahraga kami tentu mencari nilai untuk hasil akhir semester nanti. Nilai pertama adalah nilai untuk lompat jauh. Beberapa temanku mengira aku pasti yang terburuk lompatannya. Tapi, itu tidak membuatku putus harapan. Saat giliranku, aku berusaha keras agar hasil lompatanku baik. Aku memulainya dengan ucapan basmalah, kemudian aku lari sekencang-kencangnya. Sampai di titik tumpuan, aku gunakan kaki kananku sebagai tumpuannya, aku mulai melompat sejauh mungkin aku bisa, dan alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Dari semua murid perempuan sekelasku, aku yang paling pendek dan aku pula yang palih jauh lompatannya.
“Koe sing paling dhuwur malah kalah karo sing cendek kie piye?” ejek guruku pada Ari. Ari pun hanya tersenyum malu.
Nilai yang kedua adalah nilai untuk lari jarak jauh. Kami harus memutar lapangan yang sebesar lapangan sepak bola sebanyak 2 kali. Sebenarnya, aku sangat lemah jika harus lari. Maka, lari menjadi olahraga yang paling menjengkelkan bagiku. Tapi, karena dalam jiwaku sudah memiliki semangat yang berkobar-kobar, aku akan melakukannya sebaik mungkin. Dalam satu kelas, dibagi menjadi 2 kelompok, putra dan putri. Saat giliran putra selesai, giliran putri selanjutnya. Betapa tegangnya saat itu, mungkin aku akan menjadi yang terakhir. Tapi, kucoba menghapus pikiran itu. Seperti biasa kuawali dengan menghirup nafas dalam-dalam dan membaca basmalah. Prriiiiiiitttttt…… kami semua berlari. Aku berada di barisan belakang. Mereka begitu kencang larinya. Tapi sesaat kemudian, aku bisa mendahului mereka semua hingga di barisan depan. Akhirnya, akulah yang pertama kali masuk finish. Betapa senangnya hari itu, akhirnya aku bisa sedikit membuktikan kalau aku bisa lebih unggul dari mereka, walaupun setelah itu aku harus dibawa ke UKS karena aku kehabisan tenaga.
Akhir bulan Mei, pemerintah kabupaten beserta para guru kesenian tingkat SMA sekabupaten mengadakan pameran seni rupa. Setiap sekolah wajib menyumbangkan karya-karya dari siswanya. Saat itulah, banyak dari siswa di sekolahku yang ikut berpastisipasi, begitu pula denganku. Aku berniat ingin membuat sebuah lukisan.
Tiga minggu sebelum pameran diadakan, seorang teman sekelasku sudah membawa hasil karyanya, yaitu sebuah lukisan yang sangat indah. Lukisan pemandangan yang berukuran A4 itu tidak kalah indahnya dengan lukisan seniman terkenal. Aku begitu kagum melihatnya. Kekagumanku itu membuatku ingin tahu bagaimana cara menggores tinta yang benar.
“Kui nganggo kuas opo?” tanyaku padanya.
“Ngganggo kuas sing kasar, aku nek nganggo kuas sing alus malah ra iso, dadine elek.”
“Opo iyo toh? La trus carane nggambar piye?”
“Ho’o. Yo, aku mung asal wae. Langsung dicoret-coret, uwis dadi.”
Lalu, aku coba di rumah dengan kertas bekas. Aku coba dengan menggambar pepohonan. Warna hijau tua, hijau muda, hitam, dan coklat aku taruh di atas kertas hingga membentuk sebuah pohon. Sekilas, aku ragu melihatnya karena tidak nampak seperti pohon. Lalu, aku coba langsung dengan kertas ukuran A3 sebagai kertas yang akan gunakan untuk karyaku.
Dengan penuh kepastian, kumulai mengerjakannya. Kutarik nafas dalam-dalam, membaca basmalah dan pelan-pelan kugores tinta hijau dengan kuas halus. Hingga akhirnya, lukisan itu selesai dan tinggal dipajang di pameran nanti.
Dua hari setelah kami mengunjungi pameran tersebut, ada kabar bahwa lukisanku tergolong lukisan terbaik dan mendapat Penghargaan Pratita Adhi Karya. Aku benar-benar tidak menyangka akan keberhasilanku itu. Aku benar-benar sangat senang.
Pertengan bulan Juni, kami mengadakan tes akhir semester. Aku belajar sangat giat agar aku bisa memperoleh nilai rapot yang memuaskan. Tidak lupa, aku pun berdoa agar aku diberi kelancaran dan kemudahan dalam mengerjakan soal nanti. Seminggu setelah tes selesai merupakan hari penerimaan rapot. Sebelum orang tua diundang, pukul 07.00 WIB kami semua mengadakan upacara sebagai upacara penerimaan piagam murid berprestasi. Murid yang berprestasi nantinya akan dipanggil dan diberi piagam penghargaan dari kepala sekolah. Diawali dari kelas satu yang masuk dalam peringkat ke-10. Dalam hatiku berkata bahwa jika aku masuk peringkat kesepuluh pun, aku sangat bersyukur. Tapi, sayang bukan namaku yang dipanggil. Sampai akhirnya ke peringkat dua pun tak ada nama untuk diriku.
Kepala sekolah melanjutkan pengumuman untuk murid kelas satu yang menjuarai sebagai peringkat umum, Hatiku bergetar sangaaaaaaaat kencang. Lalu, beliau memanggil nama Noor Aini kelas IB sebagai juara umum. Sebagian hatiku tidak percaya. Lalu kulihat lagi dalam piagam itu dan benar, itu adalah namaku. Aku sangat gembira karena aku sudah membuktikan kepada mereka bahwa aku pun bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dari mereka. Aku pun senang bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Terima kasih Ya Allah. Engkau telah mengabulkan permohonanku. Kalau pun engkau menghendaki agar pendengaran hamba seperti ini selamanya, hamba akan terima dengan penuh ketulusan hati. Dua tahun kemudian, Allah berkehendak lain.
Sepulang sekolah, hari begitu cerah dan sangat panas. Tiba-tiba, aku merasa ada sesuatu yang masuk dalam telingaku. Aku mendengar suara gemerisik di dalamnya. Aku coba mengeluarkan benda itu, tapi tidak ada apapun. Setelah suara gemerisik itu hilang, subhanallah, aku bisa mendengar segala sesuatu dengan sangat jelas. Aku bisa mendengar kicauan burung, suara angin, dan pohon yang bergoyang. Aku menangis dan berterima kasih kepada Allah atas pemeberiannya tersebut. Alhamdulillah, hingga saat ini aku masih bisa mendengar dengan jelas.
Kemudian, aku membaca sebuah buku pinjaman perpustakaan sekolahku yang berjudul “Super Teenager : Bikin Remaja Biasa menjadi Ruarrr Biasaaa!!!” karya Fadlan El-Qossam. Buku itulah yang menginspirasiku untuk membuat karya ini dan yang menggugahku agar terus berjuang mencapai cita-cita, walaupun keadaan fisikku yang kurang sempurna. Kemudian, aku lihat kedua jari-jari tanganku, dan baru kusadari bahwa kelebihanku ada pada kekuranganku.
Imsaaaaa…aaaaak… Imsaaaaa….aaaaak… Imsaaaaaak… Itulah penyambutan hari kelima bulan puasa tahun 1429 H. Dengan segera aku dan seluruh keluarga menuju dapur. Mengambil segelas air yang tersedia dalam ketel alumunium yang sudah tua. Ceguk…ceguk…ceguk… suara yang kudengar saat mereka meminum air segar tersebut dengan hati yang bersih pula. Setelah itu, kami berdoa bersama sebagai niat di hari puasa agar diberi kelancaran dan keberkahan dari Allah SWT.
Beberapa menit kemudian, suara adzan pun menggemparkan alam di hari yang masih begitu pagi. Beberapa ayam terdengar sudah berlomba-lomba meramaikan kesunyiannya. Kemudian, ibu, kakak, adik begitu pula denganku mengambil air wudhu untuk shalat subuh berjamah di masjid yang tak jauh dari rumahku. Ibukulah yang mengajarkan kami hal yang demikian semenjak kami masih kecil. Berjalan perlahan dengan menghirup udara segar sering aku lakukan setiap bulan puasa. Sementara ayahku, beliau tidak sempat shalat berjamaah di masjid karena pagi itu beliau harus pergi ke Semarang untuk mengurus pekerjaannya. Beliau bekerja sebagai karyawan swasta. Maka, beliau putuskan untuk shalat subuh di rumah saja. Saat kami pulang dari masjid, beliau sudah berangkat.
Pukul 06.00 WIB, aku keluar untuk memberi makan ayam-ayamku yang sudah berbaris di depan pintu belakang. Keoook…keoook…keooook… demikian suara belas kasihan mereka. Aku letakkan semanci jagung di depan mereka dan mereka langsung menyerbu. Betapa akrabnya ayam-ayam tersebut saat kelaparan. tidak tua dan tidak muda. Tidak seperti sebagian manusia yang saling bertengkar, bahkan membunuh saudaranya sendiri hanya untuk memperoleh harta.
Karena hari itu adalah hari libur, maka aku membantu ibuku menyapu halaman rumah bersama dua saudaraku. Walaupun aku anak perempuan dari tiga bersaudara, sementara dua saudaraku laki-laki, tapi mereka pengertian padaku. Mereka tidak membedakan apakah itu pekerjaan buat perempuan atau bukan, bagi mereka semua pekerjaan sama asalkan halal.
Setelah kami selesai membersihkan halaman rumah, sejenak aku melihat cuaca hari ini. Langit begitu cerah dihiasi sinar matahari yang terang, membawa kehidupan di alam yang subur ini. Burung-burung yang selalu mondar-mandir, hinggap di pohon ini, hinggap di pohon itu dengan suara kicauannya yang selalu mengiringi langka di setiap kegiatan di pedesaan. Betapa indahnya ciptaan Allah. Melihat pagi yang begitu indah, aku rasa alam cukup bersahabat dengan manusia.
Kulangkahkan kakiku ke dapur, melihat ibuku yang sedang mencuci piring, wajan, panci, sungguh melakukannya dengan penuh senyuman di raut wajahnya.
“Ono opo, Dek? Wis rampung sing nyapu latar?” tanya ibuku dengan suara yang lemah lembut.
“Ora ono opo-opo. Sampun, Buk.”
Setelah mencuci piring, ibuku menyapu lantai rumah yang penuh dengan kotoran tak dikenal. Tanpa mengatakan bantu ibu menyapu, Nak!, beliau melakukannya demi anaknya. Entah kenapa aku hanya bisa terdiam melihatnya.
Pukul 08.30 WIB, aku nge-game di komputer. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara gemericik air yang mengalir. Aku tahu bahwa ibuku sedang mencuci baju. Kemudian aku menghampiri ibuku dan berniat untuk membantunya. Saat aku berdiri di depan ember cucian, baru kupegang satu baju dan belum sempat aku bilas, ibuku sudah berkata, “Ra usah, Dek. Men ibu wae sing ngumbahi. Koe kono nek arep dolanan yo dolanano.”
“Ora po-po, Buk. Biasane yo ngewangi.”
“Ora-ora, kono nek arep dolanan yo dolanan wae. Ibuk yo wis biasa ngeneki.” Kulihat di wajah ibuku begitu ikhlas mengatakan hal itu. Sementara aku, hanya bisa diam sambil melanjutkan membilas baju-baju yang sudah disikat oleh ibuku. Dalam hatiku berkata, My Mother is my Angel. Beliau yang telah melahirkan kami, yang selalu melindungi kami dari apapun yang mengancam kami. Bahkan yang melindungi kami dari debu kecil agar kami tidak sakit.
Sekitar pukul 09.30 WIB, kami berempat berada di teras. Kami duduk di gelaran tikar sambil ngobrol dan sejenak tertawa bersama. Tapi, tiba-tiba salah seorang teman kerja ayahku menghampiri kami. Dia berjalan dengan sangat tergesa-gesa, lalu aku melihat raut wajah ibuku yang mulai tampak resah.
“Ono opo, Mas?” tanya ibuku dengan penuh bimbang.
“Bapake, Buk,” jawab orang itu dengan nafas yang terengah-engah.
“Bapake, kenopo?”
“Bapake mau esuk. Mau esuk…. kecelakaan.”
Kami yang mendengar itu benar-benar tidak percaya, semua keadaan seakan-akan langsung terasa tegang.
“La trus, Bapake piye?” tanya ibuku lagi.
“Bapake ora po-po. Tapi, kandane Pak Yadi karo Pak Afril digowo ning rumah sakit soale ono tulang sing patah.”
Ibu, saudaraku dan aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Dalam renungan, aku berharap agar tidak terjadi apa-apa pada ayahku. Setiap pagi aku selalu berdoa kepada Allah agar aku dan seluruh anggota keluargaku selalu dilindungi oleh-Nya. Aku percaya bahwa doaku pasti dikabulkan.
Sekitar satu jam kemudian, ada suara langkah sepatu yang masuk ke rumahku. Kemudian dia membuka korden depan, dan apa yang kulihat benar-benar itu adalah ayahku. Tidak terjadi apa-apa padanya. Beliau benar-benar sehat wal’afiat. Tak ada sedikit pun luka yang menggores kulitnya. Subhanallah, apa yang baru saja terjadi pada ayahku.
Ibuku yang melihat ayahku pulang dengan keadaan yang demikian merasa sangat bersyukur. Sejenak ayahku duduk santai di kursi, memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam. Setelah cukup istirahat, beliau kembali ke kantornya untuk mengurus kejadian yang baru dialaminya tersebut.
Malam harinya, ayahku menceritakan kejadian yang terjadi padanya. Pagi hari sebelum dia berangkat, dia berwudhu dan berdoa kepada Allah agar diberi kelancaran dan keselamatan di perjalanan nanti. Kebetulan beliau bersama kedua teman kerjanya yang bernama Pak Yadi dan Pak Afril. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil. Sementara ayahku yang menjadi sopirnya. Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 07.30 saat ada seorang pengendara sepeda motor yang ingin menyeberang. Saat pengendara sepeda motor itu berada di pembatas jalan kanan dan kiri, dia langsung melaju terus tanpa menghiraukan ada mobil dari arah barat yang masih melaju cukup kencang. Mobil itu adalah mobil yang dikendarai oleh ayahku. Secara spontan, ayahku berusaha menghindarinya. Tapi arah belokannya ke kanan sehingga masuk ke jalan dari arah timur.
Kemudian dari arah timur ada sebuah truk yang melaju tepat di depan mobil. Mobil yang ditumpangi oleh ayahku langsung terguling 3 kali dan terseret sepanjang 5 meter hingga menimpa dua orang pengendara sepeda motor kakak beradik yang hendak membeli baju lebaran. Kejadian itu menyebabkan Pak Yadi mengalami retak tulang di bagian bahu begitu pula Pak Afril, kedua kakak beradik itu meninggal dunia saat mendapat perawatan di rumah sakit. Sementara ayahku, tidak terjadi apa-apa padanya. Beliau bilang bahwa saat sadarkan diri, beliau sudah berdiri di depan mobilnya. Pak Afril yang duduknya bersebelahan dengan ayahku yang saat itu masih sadar pun tak tahu bagaimana ayahku bisa keluar. Padahal, posisi mobilnya mengguling ke kiri dan pintu mobil dalam keadaan masih tertutup. Belum ada orang yang menolong saat itu.
Sebelum aku tidur, aku terus merenung dengan apa yang terjadi pada ayahku. Keluar dari mobil tanpa ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya beliau keluar dari dalam mobil dengan keadaan yang seperti itu. Bahkan, ayahku sendiri tidak tahu. Bagaimana sadarnya bisa saat berdiri di depan mobilnya? Itulah yang selalu ingin kuketahui. Mungkinkah malaikat yang telah menolong ayahku?
Oh…. Ya Allah. Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkau tunjukkan salah satu keajaibanmu kepada hamba. Lalu, kurenungkan kembali dengan air mata yang bercucuran. Ayahku mencari nafkah untuk keluarganya bahkan sampai rela mengorbankan nyawanya, tidakkah itu tindakan yang begitu mulia.
Kemudian, aku membaca sebuah buku pinjaman dari perpustakaan sekolah dengan judul “Super Teenager : Bikin Remaja Biasa menjadi Ruarrr Biasaaa!!!” karya Fadlan El-Qossam. Buku itulah yang menggugah hatiku agar selalu bersyukur atas apapun yang telah diberikan dari Allah SWT. Dan sebuah kutipan yang akan selalu kuingat bahwa bagaimanapun keadaan orang tuamu, kamu harus tetap berani berkata : “My Father is my Hero”.
Aku benar-benar bangga lahir bersama orang tua seperti mereka. Orang tua yang benar-benar mulia. Orang tua yang benar-benar bangga memiliki kami. Orang tua yang selalu memberikan yang terbaik untuk kami.
Aku bangga lahir di bumi ini. Aku bangga lahir di Indonesia. Aku bangga masih bisa melihat, mendengarkan, menyentuh, dan merasakan apa yang ada di alam semesta ini. Terlebih, aku bangga, bangga, dan bangga menjadi umat Islam.
Alhamdulillah…..